Jayapura (ANTARA Sulsel) - Potensi mineral logam baik berupa logam mulia maupun logam dasar di wilayah Provinsi Papua cukup besar.
"Kondisi tektonik Papua yang kompleks karena merupakan pertemuan dua lempeng bumi, yakni Australia dan Pasifik menghasilkan pembentukan deposit-deposit mineral yang ditemukan hampir di seluruh wilayah Papua," jelas Praktisi Pertambangan Papua, Hosea D.Asmuruf,ST di Jayapura, Rabu.
Dari berbagai hasil kegiatan eksplorasi atau upaya pencarian sumber-sumber mineral di lapangan, diperoleh informasi dan data bahwa terdapat bermacam-macam deposit mineral logam dengan jumlah cadangan yang bernilai ekonomis.
Mineral logam yang cukup melimpah di Papua diantaranya, logam mulia berupa emas dan perak. Selain itu, terdapat pula deposit logam dasar, yakni tembaga serta logam besi dan paduan besi berupa besi laterit, kobalt dan nikel.
Deposit emas, perak dan tembaga dalam bentuk primer, yaitu ditemukan dalam batuan induknya, terdapat dalam jumlah besar di kompleks Pegunungan Tengah yang meliputi Kabupaten Mimika, Jayawijaya, Puncak Jaya, Puncak, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Tolikara dan Lanijaya. Cadangan total emas primer di wilayah ini mencapai 2.878,626 juta ton.
Sebagian besar deposit ini, khususnya yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Mimika sedang dieksploitasi PT.Freeport Indonesia yang beroperasi sejak 1967 hingga sekarang.
Sementara itu, potensi logam mulia yang ditemukan dalam bentuk sekunder berupa endapan yang terdapat di dasar sungaijuga tidak kalah melimpahnya dan sebagian telah ditambang masyarakat secara tradisional.
Sedangkan potensi mineral logam dasar berupa besi laterit, kobalt dan nikel banyak dijumpai di sejumlah tempat di kabupaten/kota Jayapura yang masih dalam status eksplorasi.
Sebagai contoh cadangan total kobalt mencapai 43,66 juta ton, besi laterit 56,101 juta ton, sedangkan nikel 280,998 juta ton.
"Masih banyak deposit mineral logam di Papua yang belum dieksplorasi dan dieksploitasi secara optimal karena berbagai alasan teknis maupun non teknis," kata Hosea.
Alasan teknis pada umumnya adalah mahalnya biaya eksplorasi di Papua dibandingkan daerah lain di Indonesia yang sarana dan pra sarana transportasinya relatif mudah diakses. Hal ini cukup mempengaruhi pertimbangan investasi pertambangan di Papua.
Adapun hal-hal non teknis yang perlu dibenahi adalah regulasi pertambangan nasional dan daerah yang seharusnya memudahkan pihak-pihak yang bermaksud menjalankan kegiatan penambangan mulai dari eksplorasi hingga eksploitasi.
"Jika kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber-sumber mineral ini berjalan baik, tentu manfaatnya sangat besar bagi pembangunan Papua dan masyarakatnya," tandas Hosea.
(T.PSO-124/P007)
"Kondisi tektonik Papua yang kompleks karena merupakan pertemuan dua lempeng bumi, yakni Australia dan Pasifik menghasilkan pembentukan deposit-deposit mineral yang ditemukan hampir di seluruh wilayah Papua," jelas Praktisi Pertambangan Papua, Hosea D.Asmuruf,ST di Jayapura, Rabu.
Dari berbagai hasil kegiatan eksplorasi atau upaya pencarian sumber-sumber mineral di lapangan, diperoleh informasi dan data bahwa terdapat bermacam-macam deposit mineral logam dengan jumlah cadangan yang bernilai ekonomis.
Mineral logam yang cukup melimpah di Papua diantaranya, logam mulia berupa emas dan perak. Selain itu, terdapat pula deposit logam dasar, yakni tembaga serta logam besi dan paduan besi berupa besi laterit, kobalt dan nikel.
Deposit emas, perak dan tembaga dalam bentuk primer, yaitu ditemukan dalam batuan induknya, terdapat dalam jumlah besar di kompleks Pegunungan Tengah yang meliputi Kabupaten Mimika, Jayawijaya, Puncak Jaya, Puncak, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Tolikara dan Lanijaya. Cadangan total emas primer di wilayah ini mencapai 2.878,626 juta ton.
Sebagian besar deposit ini, khususnya yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Mimika sedang dieksploitasi PT.Freeport Indonesia yang beroperasi sejak 1967 hingga sekarang.
Sementara itu, potensi logam mulia yang ditemukan dalam bentuk sekunder berupa endapan yang terdapat di dasar sungaijuga tidak kalah melimpahnya dan sebagian telah ditambang masyarakat secara tradisional.
Sedangkan potensi mineral logam dasar berupa besi laterit, kobalt dan nikel banyak dijumpai di sejumlah tempat di kabupaten/kota Jayapura yang masih dalam status eksplorasi.
Sebagai contoh cadangan total kobalt mencapai 43,66 juta ton, besi laterit 56,101 juta ton, sedangkan nikel 280,998 juta ton.
"Masih banyak deposit mineral logam di Papua yang belum dieksplorasi dan dieksploitasi secara optimal karena berbagai alasan teknis maupun non teknis," kata Hosea.
Alasan teknis pada umumnya adalah mahalnya biaya eksplorasi di Papua dibandingkan daerah lain di Indonesia yang sarana dan pra sarana transportasinya relatif mudah diakses. Hal ini cukup mempengaruhi pertimbangan investasi pertambangan di Papua.
Adapun hal-hal non teknis yang perlu dibenahi adalah regulasi pertambangan nasional dan daerah yang seharusnya memudahkan pihak-pihak yang bermaksud menjalankan kegiatan penambangan mulai dari eksplorasi hingga eksploitasi.
"Jika kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber-sumber mineral ini berjalan baik, tentu manfaatnya sangat besar bagi pembangunan Papua dan masyarakatnya," tandas Hosea.
(T.PSO-124/P007)