Untuk SDM unggul, kemampuan membaca didukung keahlian lain

id Perpusnas,Gerakan literasi

Untuk SDM unggul, kemampuan membaca didukung keahlian lain

Kepala Perpusnas RI Muhammad Syarif Bando (tengah) dalam acara pembukaan Perpusnas Expo 2019 di Jakarta Pusat pada Kamis (5/9/2019). ANTARA/Prisca Triferna

Jakarta (ANTARA) - Kemampuan membaca sebagai tingkat paling rendah dalam embangunan manusia harus didukung dengan keahlian lain agar bisa menciptakan kualitas sumber daya manusia yang unggul, kata Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando.

"Harus diikuti dengan kemampuan lain, seperti memahami yang tersirat dan tersurat, kemampuan mengemukakan gagasan, ide, dan teori baru. Dan yang namanya literasi akhirnya adalah kemampuan menciptakan barang dan jasa yang bermutu," ujar dia ketika ditemui dalam acara pembukaan Perpusnas Expo 2019 di Jakarta Pusat, Kamis.

Syarif memuji pencapaian tingkat buta aksara di Indonesia hingga 2018 yang turun. Menurut data Badan Pusat Statistik, hanya 2,068 persen penduduk yang tidak bisa membaca.

Dia tidak memungkiri pencapaian itu merupakan hal yang luar biasa.

"Namun bisa membaca saja tidak cukup untuk membangun kualitas SDM yang unggul," ujar dia.

Baca juga: Perpusnas tekankan pentingnya membaca untuk SDM unggul

Ia mengatakan bahwa Indonesia memang banyak yang bisa membaca alfabet, akan tetapi secara fungsional tidak banyak yang bisa mengimplementasikan ilmu yang didapat karena kedangkalan pengetahuan yang dimiliki.

Hal itu, kata dia, semakin diperburuk dengan pengaruh media sosial yang semakin besar dan mendominasi waktu generasi muda sehingga membuat mereka semakin berkurang waktunya untuk memperdalam ilmu.

Syarif menekankan pentingnya kebiasaan membaca untuk membangun kualitas SDM yang unggul untuk membangun bangsa.

Indonesia, ujar dia, keturunan bangsa yang rajin membaca jika dilihat dari kayanya karya sastra kuno yang dihasilkan nenek moyang bangsa Indonesia.

Dia mengambil contoh La Galigo, suatu hikayat epik mitos penciptaan peradaban Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Versi tertulis La Galigo salah satu karya sastra terbesar dengan jumlah bagian yang telah diawetkan mencapai 6.000 halaman atau sekitar 300.000 baris teks.

La Galigo, bersama naskah kuno lainnya, seperti Babad Dipanagara, Cerita Panji, dan Negarakertagama, masuk dalam Memory of the World atau Ingatan Kolektif Dunia oleh Badan PBB untuk  Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO).

Baca juga: Naskah kuno Indonesia diabadikan dalam seri prangko terbaru
Baca juga: Perpusnas akan perkuat 500 perpustakaan desa pada 2019

Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar