Sekolah jadi tempat pengungsian ibu dan anak warga Gang Venus

id Tempat pengungsian,Kebakaran gang venus

Sekolah jadi tempat pengungsian ibu dan anak warga Gang Venus

Posko inisiatif warga Gang Venus Jalan Jembatan Besi II. Tambora, Jakarta Barat, Selasa (19/5/2020). (ANTARA/Devi Nindy)

Jakarta (ANTARA) - Sekolah Candra Naya akan menjadi lokasi pengungsian prioritas bagi ibu dan anak yang menjadi korban kebakaran Gang Venus, Jalan Jembatan Besi II, Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat.

Lokasinya sekitar 100 meter dari lokasi kebakaran serta terdapat satu ruangan yang sanggup dihuni 20 orang untuk memenuhi syarat  menjaga jarak fisik agar tidak tertular wabah  COVID-19.

"Alhamdulilah tadi diberikan tiga ruangan oleh sekolah Candra Naya. Satu ruangan bisa nampung 20 orang. Jadi bisa menampung 60 warga dan itu cocok untuk ibu-ibu yang punya anak-anak karena ruangannya luas, jadi untuk bermain anak-anak itu cocok," kata Camat Tambora Bambang Sutarna di Jakarta, Rabu.

Selain di lokasi tersebut, Bambang mengatakan pihaknya membuka posko pengungsian warga di tiga lokasi yakni di Kantor Kelurahan Jembatan Besi, Masjid Al Falah, dan rumah dinas Lurah Jembatan Besi.

Pemindahan pengungsi ke Sekolah Candra Naya rencananya akan dilakukan pada sore ini. "Data terbaru hari ini ada 554 jiwa yang berada di pengungsian," kata Bambang.

Baca juga: Warga Gang Venus terdampak kebakaran dirikan posko bantuan

Baca juga: Polrestro Jakbar dirikan tenda sementara tampung pengungsi Gang Venus

Baca juga: Sudinsos Jakbar siapkan sejumlah posko pengungsi kebakaran Gang Venus


Bambang mengatakan , selama di pengungsian, distribusi makanan kepada para korban sudah tercukupi.

"Untuk makanan dari Dinsos   berupa makan siap saji,  termasuk dari BNPB dan polisi juga ada. Jadi Alhamdulilah semua tercukupi," ujar dia.

Sebelumnya, Sebanyak 102 rumah di Gang Venus, Jalan Jembatan Besi II, Jembatan Besi, Tambora Jakarta Barat hangus dilalap api akibat korsleting listrik.

Kasie Ops Pemadam Kebakaran Jakarta Barat Eko Sumarno mengatakan api diduga berasal dari korsleting dari salah satu rumah kontrakan.

Eko menjelaskan, 102 rumah terbakar di tiga wilayah RT berbeda. Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

 

Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar