Jumlah korban perdagangan manusia di AS meningkat selama pandemi

id perdagangan orang,perdagangan manusia di AS,pandemi COVID-19

Jumlah korban perdagangan manusia di AS meningkat selama pandemi

Ilustrasi: Para pelayan berpartisipasi dalam sebuah protes di luar National Palace menuntut pemerintah federal mengatasi kehilangan pekerjaan, setelah pemerintah Meksiko menyatakan darurat kesehatan dan mengeluarkan peraturan ketat untuk membatasi penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di Mexico City, Meksiko, Minggu (5/4/2020). (ANTARA/REUTERS/HENRY ROMERO/TM)

New York (ANTARA) - Jumlah korban perdagangan manusia, yang menghubungi nomor darurat untuk menyelamatkan diri serta mencari tempat tinggal, meningkat selama karantina akibat pandemi COVID-19 di Amerika Serikat, demikian diungkapkan grup pegiat antiperdagangan manusia, Polaris, Senin (15/6).

Polaris menjelaskan dampak ekonomi dan sosial akibat pandemi menciptakan suatu kondisi, yang membuat orang-orang menjadi rentan terjebak sebagai korban perdagangan manusia.

COVID-19, yang mulai mewabah di AS pada pertengahan Maret, menutup sektor usaha serta menyebabkan jutaan warga kehilangan pekerjaan.

Kelompok aktivis itu mengatakan jumlah warga yang menghubungi nomor darurat untuk mencari tempat tinggal darurat meningkat dua kali lipat, yaitu dari 29 orang pada Maret menjadi 54 orang pada April.

Polaris khawatir temuannya itu kemungkinan terkait dengan dampak wabah. Namun, kelompok itu tidak memastikan bahwa tingginya jumlah orang yang mencari tempat tinggal darurat itu disebabkan oleh COVID-19.

"Perdagangan manusia untuk prostitusi dan kerja paksa tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan itu merupakan produk akhir dari rangkaian persoalan -- pemiskinan dan kesenjangan sistemik, beberapa di antaranya," kata Nancy McGuire Choi, kepala eksekutif Polaris.

"Gejolak ekonomi, (menyebabkan) fakta banyak korban terjebak dengan pelaku kekerasan, kondisi sulit yang mereka hadapi, merupakan faktor yang menyebabkan perdagangan manusia tumbuh subur," terang Choi.

Perekonomian dunia kemungkinan melambat sampai 3,2 persen tahun ini karena karantina di berbagai negara, menurut prediksi lebih dari 250 ekonom yang dihimpun dalam survei Reuters.

Sedikitnya 400.000 orang di Amerika Serikat diyakini terjebak dalam praktik perbudakan modern, termasuk menjadi pekerja prostitusi paksa dan buruh paksa, menurut Walk Free Foundation, pegiat hak asasi manusia di AS.

Sementara itu, Organisasi Buruh Internasional (ILO) memprediksi bahwa pada tingkatan global 16 juta orang kemungkinan terjebak dalam praktik kerja paksa dan perdagangan manusia.

Sumber: Reuters

Baca juga: Pasangan India dipenjara di Singapura karena perdagangan manusia

Baca juga: Polisi pastikan 39 jasad di truk London berasal dari Vietnam

Baca juga: Tingkat pembunuhan perempuan di Meksiko meningkat di tengah pandemi


 

Pemerintah siapkan jaminan sosial untuk pekerja yang kehilangan pekerjaan


Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar