Pemkab Sikka siapkan rumah pemulihan stunting bagi anak-anak

id Stunting NTT,Rumah singgah stunting

Pemkab Sikka siapkan rumah pemulihan stunting bagi anak-anak

Pemeriksaan balita di Posyandu menerapkan protokol kesehatan. (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

Kupang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Sikka menerapkan program rumah pemulihan untuk pasien stunting untuk membantu anak-anak di kabupaten itu yang menderita stunting akibat kekurangan nutrisi dalam waktu lama.

"Kami beri anam 'Lepi Gahar Naha Bisa', yang bertujuan untuk memulihkan pasien stunting yang memang sejak lahir kekurangan gizi," kata Kadis Kesehatan Sikka Petrus Herlemus kepada ANTARA saat dihubungi dari Kupang, Selasa.

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan bagaimana penanganan stunting di kabupaten itu di saat pandemi COVID-19 masih terus melanda NTT hingga saat ini.

Ia mengatakan bahwa saat ini jumlah pasien yang ada di rumah pemulihan stunting itu berjumlah 32 anak.

Setiap hari kata dia ada mobil yang disiapkan oleh dinas kesehatan untuk menjemput anak-anak itu dari rumah masing-masing, kemudian diantar kembali ke rumah jika sudah diberikan makanan bergizi.

"Program rumah pemulihan ini sudah berjalan dua bulan terakhir. Dan nanti akan kami evaluasi lagi," tutur dia.

Petrus mengatakan bahwa 32 anak yang menderita stunting itu dikumpulkan tidak hanya diberikan makanan bergizi, tetapi juga diberikan edukasi kepada orang tuanya untuk membuat menu seimbang untuk anak-anak.

Baca juga: Kemenkes:Indonesia butuh inovasi turunkan kekerdilan hingga 19 persen

Baca juga: Ahli: pemerintah tuntaskan persoalan stunting Indonesia Timur


Para petugas yang bertugas di rumah pemulihan itu kata dia, mempunyai tugas untuk memantau secara langsung tumbuh kembang anak-anak yang ada di tempat itu, selain memberikan makanan-makanan bergizi dan menu-menu seimbang.

"Berbagai metode untuk mencegah penambahan pasien stunting ini kami sadur dari Bangladesh," tutur dia.

"Walaupun baru dua bulan, antusiasme anak dan orang tua sangat tinggi," katanya.

Petrus menambahkan bahwa jika metode ini berhasil diterapkan maka pada 2021 nanti akan direplikasikan pada tahun 2021 mendatang.

Lebih lanjut kata dia, untuk di puskesmas-puskes bagi pasien-pasien stunting setiap bulan diberikan makanan tambahan dan itu diolah sendiri oleh orang tua anak penderita stunting.

Sementara pemerintah sendiri ujar dia menyiapkan kecukupan karbohidrat dan protein yang disalurkan melalui puskemas-puskesmas untuk diberikan kepada anak stunting.

Baca juga: NTT fokus menangani stunting dan kemiskinan di tiga kabupaten

Baca juga: Kemenkes: Stunting tinggi di NTT dipengaruhi persoalan kompleks

 

Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar