Mendorong akselerasi energi terbarukan di sektor pertanian

id energi terbarukan,energi terbarukan di sektor pertanian

Mendorong akselerasi energi terbarukan di sektor pertanian

pompa air berenergi angin dan surya, Desa Kedungweru, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen (ANTARA/HO - Tim Peneliti Unsoed)

Purwokerto (ANTARA) - Semua elemen dalam kehidupan manusia membutuhkan energi agar dapat terus berdenyut. Seperti fungsi oksigen bagi tubuh manusia, energi juga memiliki peran yang esensial bagi semesta.

Analoginya sederhana, jika bernafas dan menghirup oksigen diperlukan agar setiap organ dapat terus berfungsi, maka keberadaan energi juga penting dalam mendukung semua lini.

Contoh kecilnya adalah tanaman yang juga membutuhkan energi matahari sebagai sumber energi utama yang mendukung proses aktivitas fisiologisnya.

Tanaman memiliki kemampuan menyerap energi matahari 15 hingga 22 persen untuk proses kehidupannya dan memfotosintesis 2 hingga 5 persen dari radiasi matahari yang masuk untuk pembentukan makanan.

Pada skala yang lebih besar energi juga dibutuhkan untuk sektor lain, mulai dari skala rumah tangga hingga kalangan industri atau dunia usaha, semuanya memerlukan energi dan berbasis energi.

Energi juga berperan sangat strategis dalam mendukung pencapaian tujuan sosial, ekonomi dan juga lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan, baik di pusat maupun daerah.

Ketersediaan energi, pada saat ini menjadi hal yang sangat penting mengingat penggunaannya yang terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan jumlah penduduk.

Peneliti Senior Laboratorium Teknik Sistem Termal dan Energi Terbarukan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Ropiudin mengatakan potensi energi yang ada pada saat ini antara lain potensi energi tak terbarukan, seperti minyak bumi dan gas alam atau energi fosil.

Selain itu potensi energi terbarukan, seperti surya, air, yakni yang meliputi mikrohidro, minihidro, ocean thermal energy conversion dan gelombang air laut. Lalu angin, geotermal, biomassa, yakni yang meliputi bioetanol, biodiesel, biogas, gasohol, green diesel, biobriket, gasifikasi biomassa, dan lainnya serta berbagai jenis turunannya.

Selain itu ada juga potensi energi baru seperti coal bed methane" , nuklir dan lain sebagainya.

Guna mencegah penurunan ketersediaan sumber energi fosil, seperti minyak bumi dan gas alam yang bersifat tak terbarukan, maka energi perlu terus diversifikasi dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan.

Hal itu, menurutnya, sangat penting untuk mewujudkan ketahanan energi dan juga memperkuat infrastruktur di bidang energi di Tanah Air.

Kendati membutuhkan teknologi tinggi dan sumber daya manusia yang kompeten, namun energi baru dan terbarukan perlu terus dikembangkan karena dapat memberikan kontribusi yang positif pada berbagai sektor, salah satunya adalah sektor pertanian.


Sektor Pertanian

Ropiudin yang merupakan dosen Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Unsoed itu juga mengatakan bahwa tahapan pertanian pada umumnya dimulai dari pengolahan tanah, pascapanen, pengolahan pangan hingga sampai di meja makan, lalu termasuk juga pengolahan limbah. Sesuai dengan istilah from farm to table to waste.

Berbagai tahapan tadi, ternyata bisa dioptimalkan dengan menerapkan energi terbarukan. Misalkan saat pengolahan tanah hingga pemanenan, bisa diimplementasikan B30, yakni biodiesel 30 persen dan 70 persen solar pada penggunaan bahan bakar solar bagi alat mesin pertanian.

Selain itu, pemanfaatan energi angin dan surya juga bisa dikembangkan untuk pengairan atau irigasi.

Sementara pada tahapan pascapanen, pengeringan hasil pertanian dapat menerapkan energi terbarukan dengan menggunakan teknologi pengering surya terkendali. Selain hemat biaya, kadar air akhir produk pertanian juga dapat diperoleh sesuai target.

Masih dalam tahapan pascapanen, sistem pendingin berbasis surya dan panas bumi juga bisa diterapkan untuk menjaga kualitas sayuran dan buah di lokasi sentra produksi.

Pada tahapan selanjutnya, yakni pengolahan pangan, maka prosesnya dapat dilakukan dengan memanfaatkan listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan.

Sementara untuk proses pengolahan limbah, dapat diolah menjadi bioenergi yang pada akhirnya dapat digunakan untuk peningkatan efisiensi proses pengolahan pangan.

"Memang ini merupakan tantangan, pada masa yang akan datang energi fosil, seperti minyak bumi bisa saja akan habis, maka edukasi energi di sektor pertanian perlu diakselerasi sehingga lebih awal ada persiapan dan petani bisa adaptif," katanya.

Selain untuk mendukung ketahanan energi, penerapan energi terbarukan pada sektor pertanian juga berdampak pada peningkatan produksi pertanian dan menekan biaya produksi.

Jika industri pertanian ingin menjadi industri yang ramah alam, tidak ada pilihan lain selain menggunakan energi secara lebih bijaksana.

Selain beralih ke alat-alat yang hemat energi, pemupukan dan pengolahan lahan juga bisa dilakukan secara lebih efektif dan didukung dengan pemilihan tanaman dan ternak yang tidak banyak membutuhkan energi dan perawatan.

Penghematan energi juga harus diaplikasikan setelah masa panen, yang mencakup penghematan di sektor transportasi, pengemasan, penyimpanan, dan penggunaan alat masak yang lebih efisien guna mengurangi sumber daya.

Selain itu, sektor pertanian juga bisa memanfaatkan surya, angin, biogas, energi mikrohidro, dan briket biomassa yang tersedia di wilayah perdesaan.

Sumber energi ini dapat membantu meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan petani. Contoh, limbah di pabrik gula bisa digunakan untuk menghasilkan energi panas tambahan.

Sementara limbah basah seperti kotoran ternak, buah dan kulit tanaman yang tidak terpakai atau bubur dari sisa produksi bisa digunakan untuk produksi biogas.


Sangat Efektif

Hal senada juga disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Prof. Loekas Soesanto. Menurutnya penerapan energi terbarukan sangat efektif untuk menunjang pertanian modern.

Dengan memanfaatkan energi terbarukan, maka produktivitas hasil pertanian akan mengalami kenaikan karena stabilitas energinya akan terjaga.

Pada saat ini yang diperlukan adalah menggencarkan sosialisasi mengenai hal tersebut, terutama untuk petani yang jauh dari informasi mengenai dampak positif pemanfaatan energi terbarukan.

Menurutnya pada tahap awal penerapan energi terbarukan mungkin membutuhkan biaya, tetapi untuk seterusnya hanya perlu biaya untuk perawatan saja, sehingga pengeluaran untuk produksi dapat ditekan.

Dengan hasil panen yang meningkat dan biaya produksi yang diminimalkan, maka akan mendukung upaya untuk menjaga kestabilan ketersediaan pangan, terutama saat pandemi COVID-19, seperti sekarang ini.

Pasalnya urgensi peningkatan produksi pertanian saat pandemi perlu disesuaikan, agar tercapai juga peningkatan produksi yang optimal.

Peningkatan produksi pertanian sendiri dapat dilakukan dengan berbagai upaya antara lain pemusatan jenis komoditas serta menyiasati dampak iklim bagi pertanian melalui pembangunan dan penguatan saluran air irigasi, termasuk juga memanfaatkan energi terbarukan.

Namun demikian, di samping mendukung peningkatan hasil tani dan ketahanan pangan, yang tidak kalah penting adalah bahwa upaya ini dapat juga mendukung pemenuhan target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen dari bauran energi nasional pada Tahun 2025.

Tinggal bagaimana sosialisasi dan promosi secara masif terus diintensifkan. Tujuannya agar topik energi terbarukan akan menjadi topik yang makin familiar di tengah masyarakat.

Karena, seperti yang telah diulas pada awal mula tulisan ini, energi ibarat oksigen bagi tubuh manusia. Maka ia perlu berada di sekitar kita.


Pewarta : Wuryanti Puspitasari
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar