Pasar saham Asia bakal tertekan setelah Wall Street dan minyak jatuh

id saham Asia,wall street,imbal hasil AS,biaya stimulus AS,ketua Fed,Menkeu AS

Pasar saham Asia bakal tertekan setelah Wall Street dan minyak jatuh

Seorang pria yang mengenakan masker pelindung, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), berdiri di depan sebuah papan elektonik yang menunjukkan indeks Nikkei di luar sebuah perusahaan pialang di Tokyo, Jepang pada Kamis (21/1/2021). ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/am.

Washington (ANTARA) - Pasar saham Asia diperkirakan bakal mengikuti Wall Street yang bergerak lebih rendah pada perdagangan Rabu, karena biaya stimulus dan rencana infrastruktur AS serta pembatasan pandemi baru membatasi minat investor terhadap aset-aset berisiko.

Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong turun 0,2 persen, indeks berjangka Nikkei Jepang turun 0,6 persen dan indeks berjanga saham Australia diperdagangkan tidak berubah.

Saham-saham kapitalisasi kecil, energi dan ekuitas internasional jatuh pada Selasa (23/3/2021).

Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average turun 308,05 poin atau 0,94 persen menjadi 32.423,15 poin, S&P 500 kehilangan 30,07 poin atau 0,76 persen menjadi 3.910,52 poin dan Nasdaq turun 149,85 poin atau 1,12 persen menjadi 13.227,70 poin.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan turun menjadi 1,6153 persen dari 1,682 persen pada Senin sore (22/3/2021) setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell dan Menteri Keuangan Janet Yellen berbicara kepada Kongres.

Powell meremehkan risiko inflasi. Yellen mengatakan ekonomi AS tetap berisiko saat dia menjawab pertanyaan anggota parlemen tentang kemungkinan infrastruktur dan rencana kenaikan pajak yang sedang dipertimbangkan.

Minyak mentah berjangka jatuh lebih dari enam persen karena kekhawatiran permintaan di tengah gelombang ketiga pandemi virus corona.

Jerman memperpanjang pengunciannya hingga 18 April. Sebuah badan kesehatan AS mengatakan vaksin AstraZeneca Plc yang dikembangkan bersama Universitas Oxford mungkin telah memasukkan informasi usang dalam datanya, yang selanjutnya memicu kekhawatiran investor atas pemulihan tersebut.

“Aset-aset berisiko melanjutkan penurunan hari kedua mereka, ketika kekhawatiran wabah meningkat di Eropa. Pasar obligasi mengalami arus masuk yang deras, semakin meratakan ujung panjang kurva," kata analis pasar Commonwealth Bank of Australia.

Dolar AS naik terhadap sekeranjang mata uang utama, membebani harga emas.

Data manufaktur AS akan dirilis pada Rabu waktu setempat dan Powell diharapkan memberikan kesaksian yang dipersiapkan yang sama kepada panel perbankan Senat.

Baca juga: Saham Asia diprediksi menguat ketika pasar obligasi kembali tenang
Baca juga: Bursa saham Asia dibuka menguat, kebijakan Fed tenangkan pasar
Baca juga: Pasar saham Asia tawarkan sinyal beragam, investor cerna stimulus

Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar