Ketua IBI: Utamakan keselamatan bidan dan pasien selama pandemi

id Ikatan Bidan Indonesia, Hari Bidan Nasional, pandemi COVID-19,stunting,ibi

Ketua IBI: Utamakan keselamatan bidan dan pasien selama pandemi

Tangkapan layar Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Emi Nurjasmi saat menyampaikan pemaparan dalam acara webinar Puncak Peringatan hari jadi Ikatan Bidan Indonesia ke-70 tahun yang digelar secara virtual di Jakarta, Kamis (24/6/2021). (ANTARA/Andi Firdaus).

Jakarta (ANTARA) - Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Emi Nurjasmi mengimbau seluruh anggota untuk mengutamakan keselamatan diri dan pasien selama pandemi COVID-19 dengan mematuhi ketentuan protokol kesehatan.

"Kami berharap selama masa pandemi saat ini maupun ke depan kita selalu mengutamakan keselamatan diri, ibu, bayi dan balita," katanya saat memberi sambutan dalam acara webinar Puncak Peringatan hari jadi Ikatan Bidan Indonesia ke-70 tahun yang digelar secara virtual dan dipantau di Jakarta, Kamis.

Emi mengatakan jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai bidan di Indonesia saat ini mencapai jumlah hampir 300 ribu orang yang tersebar di Indonesia.

Baca juga: IBI tekankan pentingnya pemeriksaan kehamilan di masa Pandemi COVID-19

Pada masa pandemi saat ini, kata Emi, bidan mengemban misi untuk menurunkan kasus stunting serta menekan angka kematian ibu dan bayi saat melahirkan.

Menurut Emi terdapat tiga strategi pengentasan kasus stunting di Indonesia, yakni pendekatan pendampingan remaja sebelum menikah, pendampingan ibu saat masa hamil dan pendampingan saat lahir dan usia dua tahun.

Target menurunkan angka stunting di Indonesia hingga 2024 adalah 14 persen dari kasus yang ada pada 2020 mencapai 27 persen.

Profesi bidan di Indonesia tengah dihadapkan pada tantangan untuk menurunkan angka kematian ibu dan balita dengan target 183 per 100 ribu kelahiran hidup.

Emi mengatakan tantangan tersebut tidak lepas dari pelayanan secara kontak fisik dengan pasien sehingga diperlukan kepatuhan bidan pada protokol kesehatan.

Baca juga: IBI: Kental manis masih banyak diberikan sebagai minuman balita

"Utamanya adalah kebutuhan alat perlindungan diri (APD). Saya minta seluruh bidan tetap konsisten pada standar operasional prosedur serta protokol kesehatan yang berlaku," katanya.

Pada acara yang sama, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Brian Sri Prahastuti mengemukakan kontak fisik pada aktivitas kebidanan tidak bisa dihindari selama masa pandemi.

"Kita tidak terbayang pada 2020 kita hadapi COVID-19 dan saat ini sudah memasuki tahun kedua dan sekarang gelombang kedua. Tantangan ini ada di depan kita sehingga tantangan target ini jadi semakin berat tapi bukan berarti buat kita putus asa," katanya.

Menurut Brian diperlukan upaya terobosan agar target pencegahan stunting maupun kematian ibu melahirkan bisa tercapai.

"Perhatikan faktor keselamatan diri serta kesehatan pasien sebab bidan merupakan tenaga pendukung di garda terdepan," katanya.

"Kita akan ada kontak fisik dengan pasien. Jaga jarak relatif sulit untuk tenaga kesehatan saat ini, namun cuci tangan dan pakai masker sudah jadi protokol yang biasa kita lakukan," katanya.

Baca juga: Kemendes: Pendamping desa berperan penting dalam penurunan kekerdilan
Baca juga: Praktisi: Milenial berperan bantu atasi stunting
Baca juga: BKKBN: Maindset pola makan masyarakat sangat penting atasi stunting

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar