NasDem sebut PPKM taktik perang lawan COVID-19

id Partai NasDem, Suyoto, PPKM Level 4, taktik perang, lawan COVID-19

NasDem sebut PPKM taktik perang lawan COVID-19

Ketua Koordinator Bidang Kebijakan Publik dan Isu Strategis DPP partai NasDem Suyoto (kanan) memberikan keterangan pers kepada wartawan di Ambon, Rabu (9/6) malam. NasDem menargetkan dua kursi DPR-RI dari Maluku, tujuh kursi DPRD provinsi dan 52 kursi DPRD 11 kabupaten/kota di Maluku. (Foto: ANTARA/Jimmy Ayal)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Koordinasi Bidang Kebijakan Publik dan Isu Strategis DPP Partai NasDem, Suyoto menyebutkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4 merupakan taktik perang melawan virus COVID-19.

"NasDem pun tak mempermasalahkan keputusan pemerintah yang melanjutkan kebijakan PPKM level 4 hingga 9 Agustus 2021," kata Suyoto dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa.

Namun, mantan Bupati Bojonegoro, Jawa Timur, itu memberikan catatan. PPKM harus tetap mengedepankan protokol kesehatan karena PPKM tanpa disiplin 3 M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak) dan 3 T (tracing, testing, treatment), serta percepatan vaksinasi sama halnya dengan membiarkan seluruh rakyat berlama-lama di lorong gelap.

"PPKM level 4 harus disertai ketiganya, secara simultan di semua level pemerintahan," jelasnya.

Baca juga: Partai NasDem mempercepat target vaksinasi 30.000 dosis di Jabar

Suyoto meyakini masyarakat dan para pengusaha akan mendukung kebijakan tersebut. Asalkan, ada komunikasi yang jelas, terbuka, dan empatik.

Ia menegaskan tanpa dukungan semua pihak, perang melawan COVID-19 tidak akan selesai dalam waktu cepat. Ongkos ekonomi dan sosial dari PPKM akan tidak banyak bermakna jika taktik lainnya tidak simultan dilakukan.

"Jadi, kalau ada yang menggerutu dengan PPKM bisa jadi bukan karena tidak setuju melainkan keberatan karena harus mengeluarkan ongkos tanpa adanya sebuah kepastian usaha yang diyakini," jelasnya.

Dia menyebutkan bagi seorang pengusaha rugi itu biasa, tapi ketidakjelasan gambaran adalah petaka. Riak-riak kegelisahan sosial akhir-akhir ini perlu dibaca sebagai harapan untuk mendapatkan sinar terang.

"Mari membangun cahaya terang di ujung lorong ini," ajaknya.

Baca juga: Ribuan pelajar divaksin di Sentra Vaksinasi NasDem Peduli

Suyoto menjelaskan melawan Corona ibarat sebuah perang yang musuhnya tidak kasat mata. Dimana senjata utama musuh adalah tubuh manusia.

Selama masih ada virus dalam tubuh yang menular ke pihak lain, sementara kekebalan tubuh seluruh rakyat belum terbentuk, maka perang ini masih akan terus berlanjut, katanya.

"Ini perang yang kompleks dan rumit, musuhnya bisa diri kita sendiri. Karena itu diperlukan strategi yang sistematis, melibatkan setiap orang, terstruktur, dan dengan senjata yang lengkap (sebut saja perang semesta)," papar Suyoto.

Dia menambahkan perang semesta ini secara sederhana dapat dirumuskan, Pertama, pastikan setiap orang siap terlibat dan skenario. Minimal pada peran pribadinya. Target personal setiap tubuh memiliki kekebalan atau sanggup mengalahkan virus corona.

"Inilah sebabnya perlu vaksinasi. Peningkatan imunitas tubuh dijaga dan ditingkatkan. Setiap pribadi harus maksimal menguatkan dirinya agar menang meski tanpa diketahui dirinya terserang corona. Vaksiinasi harus jelas berapa target, kapan, dan bagaimana mencapainya dari sisi pemerintah. Publik perlu paham agar menambah harapan," papar Suyoto.

Baca juga: NasDem gelar vaksinasi keliling percepat vaksin COVID-19 untuk warga

Kedua, lanjut dia, pastikan virus tidak berkembang biak. Ini artinya siapa yang membawa atau berpotensi membawa corona harus diketahui.

Yang terjangkit virus, katanya, dibantu agar dapat memenangkan perang dalam dirinya dan dipastikan tidak menyeret pihak lain dimakan corona.

"Itulah sebabnya testing, tracking, dan treatment harus berjalan serempak, optimal, terstruktur, dan masif. Semua orang selalu siaga dengan 3 M," tuturnya.

Ketiga, kata Suyoto, pastikan senjata dan pasukan siap. Upaya sistematis dan serempak ini tidak mungkin dilakukan satu atau dua hari. Diperlukan senjata memadai, pasukan lengkap, dan komando yang jelas.

Berapa waktu yang diperlukan tergantung senjata, kesigapan pasukan lapangan, dan para komandannya dalam implementasi, ujarnya.

"Sebagai gambaran, jika basis perang ini kota dengan 500.000 jiwa penduduk, maka perlu dihitung dengan cermat berapa alat tes yang diperlukan, berapa ruang isolasi mandiri, dan nonmandiri yang diperlukan, berapa dukungan obat, logistik lainnya, dan bagaimana memastikan supply chain lancar," jelasnya.

Keempat, tambah dia, jika semua persiapan komplet, maka pengurangan pertemuan manusia dan pembatasan mobilitas dapat dilakukan untuk memberi ruang waktu menemukan dimana saja corona berada, mengisolasi, dan melakukan tindakan.

"Di sinilah diperlukan senjata lain, yaitu bantuan sosial agar selama tidak dapat kerja masih bisa hidup. Kepada para pengusaha diberikan kompensasi mulai dari keringanan, penundaan hingga pembebasan bebannya," demikian Suyoto.

Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar