DMI gelar survei, buktikan masjid bukan lokasi perkembangan radikalisme

id masjid,dmi,paham radikalisme

DMI gelar survei, buktikan masjid bukan lokasi perkembangan radikalisme

Ilustrasi - Kegiatan takbir bersama jamaah Masjid Istiqlal yang dipimpin Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar (kanan). (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Jakarta (ANTARA News) - Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) menggelar survei menggandeng Merial Institute yang hasilnya menyatakan bahwa kekhawatiran pihak terhadap masjid sebagai tempat berkembangnya paham radikalisme tidak terbukti.

Survei yang menyasar generasi muda muslim tersebut menemukan hanya 6,98 persen responden yang mengaku pernah menemukan materi ceramah di masjid berisi ajakan untuk memusuhi agama dan etnis tertentu.

"Dan (dari yang menemukan) hanya 2,03 persen responden yang setuju dengan materi ceramah tersebut," kata Ketua Departemen Kaderisasi Pemuda dan Remaja Masjid PP DMI, Arief Rosyid Hasan, di Jakarta, Jumat.

"Kekhawatiran berkembangnya paham radikalisme di masjid, tidak tampak," ujarnya menambahkan.

Selain itu, survei itu juga membantah kekhawatiran masjid digunakan untuk tujuan politik praktis yang tidak terbukti.

"Masih ada (materi ceramah politik praktis) tapi tidak signifikan," katanya.

Hanya 15,56 persen responden pernah menemukan materi ceramah berisi ajakan politik praktis di masjid dan hanya 15,54 persen responden yang setuju dengan materi ceramah tersebut.

Baca juga: BNPT ajak mahasiswa identifikasi penyebaran paham radikal

Baca juga: Rektor IAIN Palu: paham radikalisme tak menarik


Temuan survei lainnya adalah sebanyak 33,6 persen responden mengaku selalu mendatangi masjid untuk beribadah setiap hari. Sementara sisanya 66,4 persen responden tidak mendatangi masjid setiap hari.

Sebanyak 96,5 persen responden menganggap perlu adanya kegiatan ibadah selain shalat yakni pengajian, dzikir dan tabligh akbar di masjid. Sedangkan 95,3 persen responden menganggap perlu kegiatan pendidikan atau pelatihan seperti kursus dakwah, pelatihan imam dan pesantren kilat di masjid.

Dari survei juga diketahui materi ceramah yang paling disukai para responden adalah etika/akhlak, sejarah Islam dan akidah Islam.

Sebanyak 73,9 persen responden berpendapat dibutuhkan adanya kegiatan usaha di masjid seperti koperasi, mini market maupun warung.

Kemudian 67,3 persen responden merasa perlu diadakan kegiatan olah raga dan kebugaran di lingkungan masjid.

Sebanyak 74,2 persen responden menganggap penting adanya akun media sosial untuk mempublikasikan kegiatan masjid.

Dari hasil survei juga diketahui bahwa hanya 33,2 persen responden menganggap pengelolaan masjid saat ini telah mewakili aspirasi generasi muda.

Survei berlangsung pada 17-21 Juli 2018 dengan responden sebanyak 888 orang pemuda Islam berusia 16-30 tahun yang tinggal di 12 kota besar yakni Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Medan dan Palembang.

Pengumpulan data menggunakan pengisian kuesioner pada platform daring Google Forms dengan metode purposive sampling.

Baca juga: LDNU: kelompok moderat harus kembali kendalikan masjid

Baca juga: MUI belum terima laporan penelitian 41 masjid radikal

Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar