KH Ma'ruf Amin beri tausiah kebangsaan peserta istighatsah

id hari santri nasional,Istighatsah Kubra sidoarjo,ma'ruf amin pb nu,ulama pondok pesantren,suramadu

KH Ma'ruf Amin beri tausiah kebangsaan peserta istighatsah

Presiden Joko Widodo (keempat kanan) didampingi Mustasyar PBNU sekaligus calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin (kedua kanan), Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko (ketiga kanan), Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri (kanan), Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kiri), Gubernur Jawa Timur Soekarwo (keempat kiri), Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar (kedua kiri) dan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah (ketiga kiri) melepas Kirab Santri dan Jalan Sehat Sahabat Santri di alun-alun Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (28/10/2018). Acara yang dihadiri ribuan santri ini mengambil tema "1 Juta Kirab Santri". ANTARA FOTO/Umarul Faruq/wsj.

Sidoarjo  (ANTARA News) - Mustasyar PBNU KH Mar'uf Amin memberikan tausiyah kebangsaan kepada ratusan ribu peserta Istighatsah Kubra yang berlangsung di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Minggu.

"Saya sampaikan sesuai dengan permintaan kiai, jika beliau (Presiden Joko Widodo) membebaskan tol Suramadu secara keseluruhan sebagai hadiah hari santri. Suramadu bukan tol lagi,"  katanya saat memberikan tausiah di hadapan para peserta Istighatsah itu.

 Ia juga menyampaikan salam dari Presiden  saat memberangkatkan kirab santri di acara sebelumnya, dan bahwa Presiden meminta maaf tidak bisa hadir pada Istighatsah.

KH Ma'ruf Amin juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang telah menetapkan hari santri nasional setiap tanggal 22 Oktober, di mana tanggal ini, sebagai inspirasi lahirnya perlawanan tanggal 10 November saat mengusir penjajah.

"22 Oktober, untuk menentukan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) berlanjut atau tidak, semua orang bingung, tetapi Ponpes Tebu Ireng Mbah Hasyim Asyari mengatakan kalau melawan penjajah hukumnya fardhu ain, dan resolusi jihad 22 Oktober 2015 lalu ditetapkan oleh Jokowi sebagai hari santri nasional," ujarnya.

Santri dan kiai, lanjut Ma'ruf, telah menyatakan sikapnya sebelum negara mengumumkan proklamasi kemerdekaan, jadi sebelum merdeka nahdiyin sudah mengumandangkan Indonesia negeriku.

 "Siapa yang datang mengancam akan berhadapan dengan santri Nahdatul Ulama, begitu terbentuk semangat bela negara semakin kuat," katanya.

 Ia meminta, santri harus menjaga negara ini seperti dulu ketika ulama dan santri di bawah komando KH Hasyim Asyari mengusir penjajah.

"Santri harus kawal agama, tidak akan membiarkan upaya yang akan menghabisi ahlusunnah wal jamaah, harus dikawal sekuat tenaga," katanya. 

Baca juga: Presiden lepas kirab dan jalan sehat santri
Baca juga: Jokowi hadiri Rakernas TKN Jokowi-Ma'ruf


 

Pewarta : Indra Setiawan
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar