Menag buka Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan

id Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (ISRL),menag lukman hakim,icsr,negara peserta icsr

Menag buka Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

 Yogyakarta,  (ANTARA News) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin membuka Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (ISRL) 2018 yang berlangsung di Yogyakarta, Rabu.

 Simposium internsional yang dihelat Balitbang Diklat Kemenag RI bekerja sama dengan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) itu mengusung tema "Agama dalam Dunia yang Terbagi dam Multikultural: Moderasi, Fragmentasi, dan Radikalisasi".

 Pemakalah yang hadir dalam simposium itu berasal dari 15 negara, meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, India, Pakistan, Jerman, Bulgaria, Belanda, Macedonia, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang.

 "Saya sangat bersyukur karena tema yang akan dibahas adalah tema-tema yang relevan tidak hanya untuk bangsa Indonesia saja tetapi juga untuk dunia," kata Menteri Lukman.

 Menurut Lukman, pembicaraan mengenai agama dapat dibedakan dalam dua perspektif yakni sisi dalam agama dan sisi luar agama. Sisi dalam agama meliputi ajaran inti atau pokok dari setiap agama, sedangkan sisi luar agama bersinggungan dengan aspek formal, kelembagaan, dan institusional suatu agama.

 Oleh sebab itu, dalam bingkai hubungan berbangsa dan bernegara, menurut Menag, masyarakat Indonesia tidak bisa meninggalkan sisi dalam atau esensi dari ajaran agama.

Dengan berpegang pada ajaran pokok agama, tidak akan ditemukan perbedaan substansi agama satu dengan agama lainnya sehingga dapat hidup berdampingan.

 "Melalui esensi dari setiap agama, kita semua akan menemui kesamaan. Kita tidak akan menemui perbedaan-perbedaan ketika agama dilihat dari inti ajarannya," kata dia.

 Sebaliknya, lanjut Menag, apabila hanya melihat agama dari sisi luarnya saja, maka hanya akan ditemukan perbedaan-perbedaan.

 "Sebagai masyarakat yang religius, bangsa kita tidak bisa meninggalkan esensi atau ajaran pokok. Kita semua menjalani kehidupan keseharian dengan berpegang teguh, melandaskan diri, dan berorientasi pada nilai-nilai agama yang pokok," kata dia.

 Menag berharap International Symposium On Religiuos Life (ISRL) tersebut dapat menghasilkan rumusan yang bisa menjadi rekomendasi untuk ditindaklanjuti Kemenag serta sejumlah kalangan lainnya baik agamawan, akademisi, dan budayawan.

 Kepala Balitbang-Diklat Kemenag Rahman Mas'ud dalam laporannya menyampaikan bahwa ISRL merupakan simposium dua tahunan yang digelar Balitbang dan Diklat. ISRL menjadi forum dan wadah bertukar wawasan para peneliti terkait moderasi beragama.

 Total pemakalah nasional dalam simposium itu berjumlah 48 orang, dan pemakalah internasional berjumlah 36 orang.

 Baca juga: Menag buka Perkemahan Rohis Nasional di Belitung
Baca juga: Menag negerikan 48 madrasah se-Indonesia


 

Pewarta : Luqman Hakim
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar