Wiranto ajak umat Islam jaga keamanan

id Wiranto,pembakaran bendera,bendera tauhid

Wiranto ajak umat Islam jaga keamanan

Arsip Menkopolhukam Wiranto (kedua kiri) didampingi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjono (kiri), Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (kedua kanan) dan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian (kanan) berjabat tangan bersama usai menyampaikan keterangan pers terkait penyelenggaraan Pilkada serentak di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (27/6/2018). Wiranto meminta kepada para calon pilkada serentak 2018 tetap menjaga ketertiban dan keamanan dan dari pihak pemenang maupun yang kalah tidak disikapi dengan berlebihan. (ANTARA FOTO/ Reno Esnir)

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengajak seluruh umat Islam menjaga stabilitas keamanan, politik dan taat hukum dalam rangka menjadikan negara Indonesia yang damai, rukun, dan stabil. 

"Kita semua umat Islam yang merupakan mayoritas bangsa Indonesia harus ikut bersama-sama dengan aparat keamanan menjaga stabilitas keamanan, politik, taat hukum. Itu harus menjadi kewajiban kita bersama agar negara kita damai, rukun, stabil, sehingga dari situlah kita bisa membangun," kata Wiranto dalam Dialog Kebangsaan bersama Tokoh-Tokoh Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam di Kementerian Koordinator Bidang Polhukam, Jakarta, Jumat.

Dialog dengan tema "Dengan Semangat Ukhuwah Islamiyah, Kita Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa" itu dihadiri oleh tokoh-tokoh agama Islam, para ulama, para habaib, dan pimpinan Organisasi Masyarakat Islam. 

Kegiatan itu juga dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Syarifuddin, Wakil Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Pol Agus Nugroho, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Soedarmo, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung Noor Rachmad, serta perwakilan dari kementerian dan lembaga terkait.  

Wiranto menuturkan pihaknya mengundang tokoh-tokoh agama Islam, para ulama, para habaib, dan para pimpinan ormas Islam untuk membahas sejumlah hal termasuk masalah ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, masalah tauhid, masalah aqidah yang selama ini masih menjadi perdebatan tentang bagaimana pembakaran bendera yang pembakar anggap sebagai bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Terkait kasus itu, dia mengatakan pihak kepolisian telah menyelesaikannya sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di mana pelaku pembakaran maupun yang membawa bendera divonis bersalah. 

Menteri Agama Lukman Hakim Syarifuddin mengatakan pertemuan itu menjadi penting dan strategis untuk menjaga silaturahmi dan silatulfikri dalam rangka mempertemukan pandangan, pola pikir dan pemahaman bersama. 

Menurutnya, keragaman yang ada harus dilihat sebagai rahmat yang diberikan Tuhan sehingga harus dijaga dan dipelihara.

Sementara itu, Perwakilan GP Anshor Khairul Anwar menyampaikan penyesalan atas peristiwa pembakaran bendera yang telah terjadi di Garut. 

"Jangan sampai hal ini terjadi lagi dan sudah ditegaskan kepada anggota kami. Jika ada hal itu terulang maka akan ada tindakan tegas. Kami memohon maaf karena peristiwa ini menjadi gaduh," tuturnya. 

Sama dengan Taufik, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Helmy Faishal Zaini juga menyesalkan peristiwa tersebut dan berharap semua pihak bisa menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yanh dapat memicu perselisihan. 

"GP Ansor telah memberikan sanksi kepada oknum Banser yang membakar bendera dan diharapkan tidak main hakim sendiri. Mohon agar dipahami bahwa yang terjadi di Garut merupakan peristiwa yang kami sesalkan," ujarnya.

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar