RSUD Sawah Besar tangani 35 kasus pneumonia balita di tahun 2019

id RSUD,Sawah Besar,Pneumonia,Balita,Virus

RSUD Sawah Besar tangani 35 kasus  pneumonia balita di tahun 2019

Sejumlah pasien antre di ruang pendaftaran RSUD Sawah Besar, Jakarta, Rabu (19/6/2019). ANTARA/M Risyal Hidayat (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Jakarta (ANTARA) - Direktur RSUD Sawah Besar, dr Budi Wibowo menyebutkan hingga pertengahan tahun 2019 sudah menangani 35 kasus penyakit pneumonia yang menjangkiti balita.

Pneumonia merupakan infeksi paru-paru yang disebabkan bakteri, jamur dan virus. Penyakit tersebut mengakibatkan sesak hingga dapat mengakibatkan kematian pada balita.

Baca juga: Paparan gawai sebabkan stimulasi pertumbuhan anak tidak optimal

“Pneumonia berada di peringkat lima besar temuan penyakit di rumah sakit,” kata Budi ditemui di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, penyakit pneumonia disebabkan beberapa faktor di antaranya kurangnya kekebalan tubuh (imunitas), lingkungan kurang bersih, terpapar asap rokok, anak dengan kondisi khusus serta infeksi virus, bakteri dan jamur.

“Gejala virus penyebab pneumonia sangat banyak, seperti rhibovirus, respiratory syncytial virus (RSV), virus influenza, virus campak," kata dia.

Dia menyebutkan batas frekuensi napas cepat pada bayi kurang dari dua bulan adalah lebih atau sama 60 kali per menit, pada bayi dua-12 bulan adalah lebih atau sama 50 kali per menit dan usia 1-5 tahun adalah 40 kali per menit.

Baca juga: Dinkes Jakarta perkirakan 43.309 kasus pneumonia tahun 2019

Balita yang rentan terserang penyakit pneumonia berada di rentang umur 0 bulan sampai 3 tahun, maka jika balita mengalami gejala sakit untuk segera membawa ke pelayanan kesehatan terdekat.

Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018 mencatat prevalensi diagnosis tenaga kesehatan untuk DKI Jakarta bagi penyakit itu sebesar 2 persen atau naik dari Riskesdas tahun 2013 sebesar 1,6 persen.

Baca juga: Gejala khas pneumonia, batuk disertai sesak napas

Pewarta : Mochammad Risyal Hidayat
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar