Faisal Basri usulkan agar Kemendag dan Kemenperin digabung
Rabu, 17 Juli 2019 22:03 WIB
Ekonom senior Indef Faisal Basri. (ANTARA News/Ade Irma Junida)
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengusulkan agar Presiden Joko Widodo menggabungkan Kementerian Perdagangan dengan Kementerian Perindustrian, agar tidak terjadi tumpang tindih perihal kebijakan.
"Sudah saatnya digabungkan kembali (Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian)," ujar Faisal dalam diskusi di Hotel Millenial, Jakarta, Rabu.
Faisal mengatakan penggabungan dua kementerian ini diperlukan agar tidak terjadi perbedaan kebijakan terutama perihal impor. Pasalnya, pengusaha acapkali dilema dengan kebijakan yang saling bertentangan.
Keluhan yang sering dialami pelaku usaha perihal pemenuhan kebutuhan barang dalam negeri. Selain itu, ia juga menyarankan agar posisi menteri tidak diisi oleh kalangan politik untuk menghindari adanya kepentingan golongan tertentu.
Menurut Faisal salah satu sebab yang membuat kinerja kedua kementerian itu tidak maksimal adalah posisi menteri yang diisi dari kalangan partai politik.
"Harapan saya yang memimpin jangan dari kalangan partai lagi," kata dia.
Saran dari Faisal ini mendapat dukungan dari kalangan pengusaha. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi Lukman mengatakan penggabungan dua kementerian ini dapat membuat sinkronisasi kebijakan.
"Saya setuju, karena kadang-kadang kebijakannya tidak bisa dipisahkan arahnya. Kalau pun masih dipisahkan harus tetap sinkron. Selama ini ada hal yang kadang satu kanan satu kiri," kata dia.
Terkait siapa yang pantas mengisi kursi menteri apabila digabungkan, ia menyerahkannya kepada Presiden Jokowi.
"Yang penting kebijakan presiden dilaksanakan, orang politik bagus ada, pengusaha jelek juga ada. Tidak harus politisi, pengusaha, atau akademisi. Kalau bagus silahkan," kata dia.
"Sudah saatnya digabungkan kembali (Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian)," ujar Faisal dalam diskusi di Hotel Millenial, Jakarta, Rabu.
Faisal mengatakan penggabungan dua kementerian ini diperlukan agar tidak terjadi perbedaan kebijakan terutama perihal impor. Pasalnya, pengusaha acapkali dilema dengan kebijakan yang saling bertentangan.
Keluhan yang sering dialami pelaku usaha perihal pemenuhan kebutuhan barang dalam negeri. Selain itu, ia juga menyarankan agar posisi menteri tidak diisi oleh kalangan politik untuk menghindari adanya kepentingan golongan tertentu.
Menurut Faisal salah satu sebab yang membuat kinerja kedua kementerian itu tidak maksimal adalah posisi menteri yang diisi dari kalangan partai politik.
"Harapan saya yang memimpin jangan dari kalangan partai lagi," kata dia.
Saran dari Faisal ini mendapat dukungan dari kalangan pengusaha. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi Lukman mengatakan penggabungan dua kementerian ini dapat membuat sinkronisasi kebijakan.
"Saya setuju, karena kadang-kadang kebijakannya tidak bisa dipisahkan arahnya. Kalau pun masih dipisahkan harus tetap sinkron. Selama ini ada hal yang kadang satu kanan satu kiri," kata dia.
Terkait siapa yang pantas mengisi kursi menteri apabila digabungkan, ia menyerahkannya kepada Presiden Jokowi.
"Yang penting kebijakan presiden dilaksanakan, orang politik bagus ada, pengusaha jelek juga ada. Tidak harus politisi, pengusaha, atau akademisi. Kalau bagus silahkan," kata dia.
Pewarta : Asep Firmansyah
Editor : Amirullah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menko Perekonomian Airlangga bantah isu Menkeu Sri Mulyani mundur dari Kabinet Jokowi
19 January 2024 11:31 WIB, 2024
Faisal Basri sebut penanganan COVID-19 belum selesaikan akar permasalahan
05 September 2020 18:09 WIB, 2020
Ekonom Faisal Basri prediksi terjadi resesi sehingga perlu siapkan kondisi terburuk
28 July 2020 19:49 WIB, 2020
Ekonom Faisal Basri prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 hanya 0,5 persen
24 April 2020 17:39 WIB, 2020
Faisal Basri: masalah kepelabuhanan di Indonesia sudah masuk tahap paripurna
23 July 2019 23:49 WIB, 2019
Indonesia menang sengketa perdagangan biodiesel lawan Uni Eropa di WTO
25 August 2025 12:16 WIB, 2025
Terpopuler - Jasa
Lihat Juga
Pertamina Sulawesi klaim salurkan BBM hingga 1.300 KL atasi krisis energi
14 September 2026 16:29 WIB
Puluhan penerbangan Makassar-Cengkareng PP terdampak letusan Anak Krakatau
06 September 2026 9:27 WIB