Pemprov Sulsel dorong sinergitas bersama Guru Besar
Senin, 5 Agustus 2019 23:49 WIB
Sekretaris Provinsi Sulsel Abdul Hayat Gani saat membuka secara resmi Musyawarah Nasional (Munas) FDGBI yang dirangkaikan dengan seminar di Makassar, Senin, (5/8). ANTARA FOTO/HO/Humas Pemprov Sulsel
Makassar (ANTARA) - Sekretaris Provinsi Sulsel Abdul Hayat Gani mendorong adanya sinergitas antara pemerintah dan Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) untuk kemajuan bersama ke depan.
Sekprov Abdul Hayat mengatakan dalam bernegara ini dibutuhkan sinergitas karena dengan jalan itulah, akselerasi bisa lebih cepat.
"Siapa melakukan apa sudah jelas. Tujuannya satu, satu untuk semua, semua untuk satu, untuk kepentingan bangsa dan negara," katanya saat membuka secara resmi Musyawarah Nasional (Munas) FDGBI yang dirangkaikan dengan seminar di Makassar, Senin.
Dalam sambutannya, Abdul Hayat menyampaikan, ciri khas suatu negara berkembang adalah kehadiran guru besar yang menyapa birokrat.
Sebaliknya ketika sudah menuju negara maju, justru birokrat yang harus mendatangi guru besar.
"Kalau suatu saat ada seminar, Indonesia sudah maju, yang memenuhi ruang seminar tentu para birokrasi. Diminta seperti apa paradigma terakhir yang akan kita gunakan di pemerintahan," kata Abdul Hayat.
Di Indonesia saat ini, lanjut Abdul Hayat, apresiasi terhadap pendidikan terkait dengan guru besar masih belum ada. Sementara, paradigma berpikir yang diinginkan harus terus-menerus menjadi kontribusi di pemerintahan.
"Semoga melalui kegiatan munas dan seminar ini, akan ada wujud konkret yang diinginkan bersama," ujarnya.
Munas yang rencananya akan digelar hingga 7 Agustus ini, juga dihadiri Rektor Unhas, Ketua Forum Dewan Guru Besar Indonesia, Ketua dan Sekretaris Majelis Dewan Guru Besar Indonesia, serta perwakilan Guru Besar dari universitas se-Indonesia.
Sekprov Abdul Hayat mengatakan dalam bernegara ini dibutuhkan sinergitas karena dengan jalan itulah, akselerasi bisa lebih cepat.
"Siapa melakukan apa sudah jelas. Tujuannya satu, satu untuk semua, semua untuk satu, untuk kepentingan bangsa dan negara," katanya saat membuka secara resmi Musyawarah Nasional (Munas) FDGBI yang dirangkaikan dengan seminar di Makassar, Senin.
Dalam sambutannya, Abdul Hayat menyampaikan, ciri khas suatu negara berkembang adalah kehadiran guru besar yang menyapa birokrat.
Sebaliknya ketika sudah menuju negara maju, justru birokrat yang harus mendatangi guru besar.
"Kalau suatu saat ada seminar, Indonesia sudah maju, yang memenuhi ruang seminar tentu para birokrasi. Diminta seperti apa paradigma terakhir yang akan kita gunakan di pemerintahan," kata Abdul Hayat.
Di Indonesia saat ini, lanjut Abdul Hayat, apresiasi terhadap pendidikan terkait dengan guru besar masih belum ada. Sementara, paradigma berpikir yang diinginkan harus terus-menerus menjadi kontribusi di pemerintahan.
"Semoga melalui kegiatan munas dan seminar ini, akan ada wujud konkret yang diinginkan bersama," ujarnya.
Munas yang rencananya akan digelar hingga 7 Agustus ini, juga dihadiri Rektor Unhas, Ketua Forum Dewan Guru Besar Indonesia, Ketua dan Sekretaris Majelis Dewan Guru Besar Indonesia, serta perwakilan Guru Besar dari universitas se-Indonesia.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menkeu Purbaya tambah DAU Rp7,66 triliun untuk THR dan gaji ke-13 guru ASN daerah
29 December 2025 18:40 WIB
Pemprov Sulsel segera teken SK pengaktifan kembali dua guru di Luwu Utara
15 November 2025 10:19 WIB
Kemendikdasmen siap panggil operator Dapodik terkait pemecatan guru di Luwu Utara
13 November 2025 15:19 WIB
Pulih nama baiknya, dua guru Luwu Utara Sulsel berterima kasih ke Prabowo
13 November 2025 11:28 WIB
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Konsorsium Internasional Pendidikan Tanggap Bencana libatkan Universitas Hasanuddin
15 January 2020 10:48 WIB, 2020
Dirjen Pendis : Mutu pendidikan Indonesia diharapkan keluar dari peringkat 72
17 December 2019 5:06 WIB, 2019