Warga Kaitetu nginap di Masjid kuno Wapauwe
Jumat, 27 September 2019 23:31 WIB
Para orang tua dan anak-anak tidur di Masjid kuno Wapauwe Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (27/9/2019) (ANTARA/Shariva Alaidrus)
Ambon (ANTARA) - Warga Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah yang masih panik dengan guncangan gempa bumi susulan yang masih terus terasa, Jumat, memilih bermalam di Masjid kuno Wapauwe.
Mereka yang tidur dan bermalam di Masjid Wapuwe adalah kaum perempuan, orang tua, orang sakit dan anak-anak yang kesulitan untuk mengungsi ke hutan di lereng-lereng bukit seperti sebagian besar warga Kaitetu lainnya.
Aktivitas bermalam di Masjid Wapauwe sudah dilakukan sejak gempa tektonik magnitudo 6,8 terjadi pada Kamis, 26 September 2019.
Warga mulai berkumpul di Masjid Wapauwe selepas Isya, dan terus bertambah hingga tengah malam.
Tak sekedar bermalam dan tidur dengan menggelar tikar di teras dan pelataran masjid, sebagian dari mereka juga menyempatkan diri untuk berzikir dan membaca Surah Yassin sebagai doa tolak bala bencana alam.
Ny. Sofana Tahyudin (41) misalnya. Awalnya ia lebih memilih untuk ikut mengungsi ke hutan di lereng bukit bersama warga lainnya, tapi ia dan keluarga kemudian memutuskan untuk bermalam dan tidur di Masjid Wapauwe.
Selain karena akses yang lebih dekat ke rumah dan mudah bagi ketiga anaknya yang berusia remaja dan balita, Sofana juga merasa lebih tenang dengan berlindung di masjid.
"Awalnya saya lebih memilih ke hutan karena isu tsunami, tapi suami bilang tidak usah lari, tapi ke masjid tua saja, lagi pula kasihan anak-anak kalau harus jalan jauh ke hutan," kata dia.
Yus Iha, Marbot Masjid kuno Wapauwe, mengatakan pihaknya tidak mengeluarkan ajakan agar warga menginap di masjid, melainkan mereka sendiri yang berinisiatif untuk berlindung di masjid.
"Sudah sejak kemarin, mereka datang sendiri untuk menginap, kami tidak memberikan ajakan ataupun peringatan agar lebih baik menginap di masjid dari pada ke hutan," ucapnya.
Pengurus Masjid Wapauwe, kata Yus lagi, tidak melarang warga setempat atau siapa pun untuk bermalam di sana, sebaliknya merasa senang akan kehadiran mereka.
"Kita tidak bisa melarang orang yang ingin berlindung di rumah Allah SWT. Mereka yang dari Kota Ambon saja kemarin datang ke sini, apalagi warga Kaitetu sendiri," ujar Yus.
Mereka yang tidur dan bermalam di Masjid Wapuwe adalah kaum perempuan, orang tua, orang sakit dan anak-anak yang kesulitan untuk mengungsi ke hutan di lereng-lereng bukit seperti sebagian besar warga Kaitetu lainnya.
Aktivitas bermalam di Masjid Wapauwe sudah dilakukan sejak gempa tektonik magnitudo 6,8 terjadi pada Kamis, 26 September 2019.
Warga mulai berkumpul di Masjid Wapauwe selepas Isya, dan terus bertambah hingga tengah malam.
Tak sekedar bermalam dan tidur dengan menggelar tikar di teras dan pelataran masjid, sebagian dari mereka juga menyempatkan diri untuk berzikir dan membaca Surah Yassin sebagai doa tolak bala bencana alam.
Ny. Sofana Tahyudin (41) misalnya. Awalnya ia lebih memilih untuk ikut mengungsi ke hutan di lereng bukit bersama warga lainnya, tapi ia dan keluarga kemudian memutuskan untuk bermalam dan tidur di Masjid Wapauwe.
Selain karena akses yang lebih dekat ke rumah dan mudah bagi ketiga anaknya yang berusia remaja dan balita, Sofana juga merasa lebih tenang dengan berlindung di masjid.
"Awalnya saya lebih memilih ke hutan karena isu tsunami, tapi suami bilang tidak usah lari, tapi ke masjid tua saja, lagi pula kasihan anak-anak kalau harus jalan jauh ke hutan," kata dia.
Yus Iha, Marbot Masjid kuno Wapauwe, mengatakan pihaknya tidak mengeluarkan ajakan agar warga menginap di masjid, melainkan mereka sendiri yang berinisiatif untuk berlindung di masjid.
"Sudah sejak kemarin, mereka datang sendiri untuk menginap, kami tidak memberikan ajakan ataupun peringatan agar lebih baik menginap di masjid dari pada ke hutan," ucapnya.
Pengurus Masjid Wapauwe, kata Yus lagi, tidak melarang warga setempat atau siapa pun untuk bermalam di sana, sebaliknya merasa senang akan kehadiran mereka.
"Kita tidak bisa melarang orang yang ingin berlindung di rumah Allah SWT. Mereka yang dari Kota Ambon saja kemarin datang ke sini, apalagi warga Kaitetu sendiri," ujar Yus.
Pewarta : Shariva Alaidrus
Editor : Suriani Mappong
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gempa Magnitudo 7,1 guncang Melonguane Sulawesi Utara, tidak berpotensi tsunami
11 January 2026 6:36 WIB
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Peneliti Unhas kenalkan lalat buah sebagai model riset strategis berbagai bidang
11 February 2026 4:35 WIB
PM Anwar tolak desakan oposisi soal isu penyerahan lahan di perbatasan Sabah-Kalimantan ke Indonesia
31 January 2026 6:15 WIB
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Warga binaan di Sulawesi Selatan hasilkan 2,6 ton bahan pangan saat panen raya
16 January 2026 19:32 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Mantan PM Malaysia Najib Razak dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas 25 dakwaan
27 December 2025 6:20 WIB