Komnas HAM terima aduan PHK pegawai BRIN
Rabu, 5 Januari 2022 18:16 WIB
Tangkapan layar pegawai yang tergabung di Paguyuban Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri BPPT mengadu ke Komnas HAM. ANTARA/Muhammad Zulfikar
Jakarta (ANTARA) - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menerima pengaduan dari Paguyuban Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) BPPT terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) imbas dari integrasi lembaga negara itu ke BRIN.
"Pada pokoknya teman-teman mengadu tentang nasib mereka karena sampai saat ini belum ada kejelasan status kepegawaian," kata anggota Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, di Jakarta, Rabu.
Selain kejelasan status atau masa depannya, para pengadu juga mengadukan soal kontrak termasuk sosialisasi yang dinilai minim kepada pegawai atas kebijakan yang telah diambil.
Ia mengatakan yang datang ke Komnas HAM hari ini baru sebagian pegawai. Sebab masih ada ratusan pegawai lain yang juga bernasib sama akibat integrasi ke BRIN.
Komnas HAM akan segera merespons dengan meminta keterangan pada pihak terkait termasuk juga BRIN dan menanyakan perihal status kepegawaian. "Kami juga akan menanyakan solusi ratusan staf yang terdampak dari integrasi ini," ujar dia.
Sementara itu, Rudi salah seorang perwakilan Paguyuban PPNPT BPPT mengatakan di BPPT ada pegawai negeri sipil dan non PNS. Pada umumnya, pegawai yang terdampak itu telah mengabdi di atas lima tahun. Secara pribadi, ia mengaku telah bekerja selama 16 tahun di BPPT.
Secara garis besar ia mengatakan tidak menuntut banyak hal. Hanya saja di masa pandemi Covid-19 pegawai yang terdampak keberatan dengan pemutusan kontrak kerja. "Kami tidak menuntut pesangon, kami hanya menuntut diperkerjakan kembali," kata dia.
"Pada pokoknya teman-teman mengadu tentang nasib mereka karena sampai saat ini belum ada kejelasan status kepegawaian," kata anggota Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, di Jakarta, Rabu.
Selain kejelasan status atau masa depannya, para pengadu juga mengadukan soal kontrak termasuk sosialisasi yang dinilai minim kepada pegawai atas kebijakan yang telah diambil.
Ia mengatakan yang datang ke Komnas HAM hari ini baru sebagian pegawai. Sebab masih ada ratusan pegawai lain yang juga bernasib sama akibat integrasi ke BRIN.
Komnas HAM akan segera merespons dengan meminta keterangan pada pihak terkait termasuk juga BRIN dan menanyakan perihal status kepegawaian. "Kami juga akan menanyakan solusi ratusan staf yang terdampak dari integrasi ini," ujar dia.
Sementara itu, Rudi salah seorang perwakilan Paguyuban PPNPT BPPT mengatakan di BPPT ada pegawai negeri sipil dan non PNS. Pada umumnya, pegawai yang terdampak itu telah mengabdi di atas lima tahun. Secara pribadi, ia mengaku telah bekerja selama 16 tahun di BPPT.
Secara garis besar ia mengatakan tidak menuntut banyak hal. Hanya saja di masa pandemi Covid-19 pegawai yang terdampak keberatan dengan pemutusan kontrak kerja. "Kami tidak menuntut pesangon, kami hanya menuntut diperkerjakan kembali," kata dia.
Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Aliansi Penjaga Jejak Peradaban tolak pemindahan artefak Sulsel oleh BRIN ke Cibinong
02 September 2025 5:29 WIB
BRIN: Kehadiran Puan dalam retret kepala daerah di Magelang representasikan PDIP
28 February 2025 11:44 WIB
BRIN meningkatkan riset arkeologi dan pelestarian artefak di Indonesia
02 December 2024 10:23 WIB, 2024
Peneliti FKG Unhas dan BRIN teliti tulang sapi jadi bahan tambal gigi
01 November 2024 1:07 WIB, 2024
Terpopuler - Hukum
Lihat Juga
Lurah Simboro di Mamuju sebut keberadaan Posbankum sangat membantu masyarakat
30 January 2026 18:34 WIB
MK: Uji materi soal pembatasan hak amnesti-abolisi oleh presiden tak dapat diterima
30 January 2026 18:08 WIB
19 lapak PKL ditertibkan setelah 20 tahun berjualan di trotoar jalan Sultan Alauddin Makassar
29 January 2026 4:34 WIB
Lindungi potensi ekonomi, Kemenkum Sulbar dan PMD Polman percepat pendaftaran merek kolektif
29 January 2026 4:30 WIB
Puluhan kios terbakar di pasar Andi Tadda Palopo kerugian ditaksir Rp1 miliar
28 January 2026 12:57 WIB