Menhan Turki tegaskan pentingnya dialog dengan Rusia dengan Ukraina
Selasa, 1 Februari 2022 13:16 WIB
Veteran batalion Tentara Nasional Ukraina melakukan latihan militer yang digelar untuk warga sipil, di tengah ancaman serangan Rusia, di Kiev, Rusia, Minggu (30/1/2022). REUTERS/Gleb Garanich/WSJ/cfo
Ankara (ANTARA) - Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar menegaskan pentingnya dialog dengan Rusia dan Ukraina, serta mengatakan negaranya akan terus mematuhi aturan yang ditetapkan oleh Konvensi Montreux tentang perjalanan kapal di selat Laut Hitam.
Sambil mengacu pada ketegangan terbaru antara Rusia dan Ukraina dan Barat, ia memperingatkan bahwa perkembangan belakangan ini menimbulkan bahaya eskalasi yang tidak terkendali.
"Karena itu, Turki mengimbau semua pihak terkait untuk tetap tenang dan melakukan koordinasi, kerja sama, dan dialog," kata Akar, seperti dikutip oleh media penyiaran TRT pada Senin (31/1).
Ia juga mengatakan bahwa dialog antara Turki dengan Ukraina dan Rusia terus berlanjut, sambil menjalankan tanggung jawabnya sebagai bagian dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa telah memperingatkan bahwa Rusia sedang menyiapkan invasi ke Ukraina dan telah menempatkan lebih dari 100.000 tentara di perbatasannya dengan negara bekas republik Soviet itu, selain penempatan artileri dan tank dalam jumlah signifikan.
Namun, Moskow membantah mempersiapkan serangan militer, dengan mengatakan pasukannya ada di sana untuk melakukan latihan rutin.
Lebih lanjut, Akar menguraikan situasi di wilayah Laut Hitam.
"Status selat (mengenai aturan lintas kapal Laut Hitam dan negara-negara non-Laut Hitam) yang ditetapkan oleh konvensi menguntungkan semua pihak. Dalam keadaan saat ini, tidak ada pertanyaan untuk meninggalkan konvensi ini. Untuk dialog Laut Hitam, Turki melakukan semua yang seharusnya," kata dia.
Dia menggarisbawahi bahwa Konvensi Montreux tahun 1936, yang mengatur tata kelola Selat Turki dan transit kapal perang angkatan laut ke Laut Hitam, sangat penting untuk keamanan dan stabilitas di kawasan itu.
Sumber: Anadolu
Sambil mengacu pada ketegangan terbaru antara Rusia dan Ukraina dan Barat, ia memperingatkan bahwa perkembangan belakangan ini menimbulkan bahaya eskalasi yang tidak terkendali.
"Karena itu, Turki mengimbau semua pihak terkait untuk tetap tenang dan melakukan koordinasi, kerja sama, dan dialog," kata Akar, seperti dikutip oleh media penyiaran TRT pada Senin (31/1).
Ia juga mengatakan bahwa dialog antara Turki dengan Ukraina dan Rusia terus berlanjut, sambil menjalankan tanggung jawabnya sebagai bagian dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa telah memperingatkan bahwa Rusia sedang menyiapkan invasi ke Ukraina dan telah menempatkan lebih dari 100.000 tentara di perbatasannya dengan negara bekas republik Soviet itu, selain penempatan artileri dan tank dalam jumlah signifikan.
Namun, Moskow membantah mempersiapkan serangan militer, dengan mengatakan pasukannya ada di sana untuk melakukan latihan rutin.
Lebih lanjut, Akar menguraikan situasi di wilayah Laut Hitam.
"Status selat (mengenai aturan lintas kapal Laut Hitam dan negara-negara non-Laut Hitam) yang ditetapkan oleh konvensi menguntungkan semua pihak. Dalam keadaan saat ini, tidak ada pertanyaan untuk meninggalkan konvensi ini. Untuk dialog Laut Hitam, Turki melakukan semua yang seharusnya," kata dia.
Dia menggarisbawahi bahwa Konvensi Montreux tahun 1936, yang mengatur tata kelola Selat Turki dan transit kapal perang angkatan laut ke Laut Hitam, sangat penting untuk keamanan dan stabilitas di kawasan itu.
Sumber: Anadolu
Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pesawat Libya jatuh di Ankara Turki, mantan dubes soroti kemungkinan sabotase
26 December 2025 22:30 WIB
Italia juara dunia Voli Putri 2025 setelah bertarung lima set kontra Turki
08 September 2025 5:39 WIB
Kualifikasi Piala Dunia 2026, Turki atasi Georgia 3-2, Wales tekuk Kazakhstan
05 September 2025 6:22 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
30 WNI tertahan di Abu Dhabi dipulangkan ke Tanah Air lewat penerbangan repatriasi
05 March 2026 13:36 WIB