Morowali Miliki "Cold Storage" dan "ABF"
Senin, 4 Maret 2013 17:01 WIB
Palu (Antara News) - Para nelayan penangkap ikan laut di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, segera memiliki dua buah gudang pembekuan (cold storage) dan dua buah lemari pendingin (air blast freezer-ABF) yang sedang dibangun pemerintah setempat.
Kedua sarana pengawetan ikan itu, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Morowali Drs Emil, MSi, Senin, berlokasi di Kota Bungku, Ibu Kota Kabupaten Morowali dan Desa Mo'ahino, Kecamatan Bungku Barat, keduanya adalah sentra perikanan tangkap di daerah tersebut.
Menurut Emil, di Kota Bungku sedang dikerjakan pembangunan cold storage berkapasitas 20 ton dan ABF delapan ton pada kawasan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) yang dibangun Pemkab Morowali dengan memanfaatkan pinjaman Bank Dunia senilai Rp19 miliar.
Sementara di Desa Mo'ahino, sekitar 65 km utara Kota Bungku, sedang dipersiapkan pembangunan cold storage berkapasitas 30 ton dan ABF empat ton menggunakan dana bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2013 senilai Rp1,2 miliar.
"Semua sarana tersebut akan beroperasi sebelum akhir tahun 2013 ini, bahkan cold storage di Kota Bungku dijadwalkan selesai pada Juli 2013," kata Emil.
Menurut Emil, pihaknya memilih Desa Mo'ahino sebagai lokasi pembangunan cold sotorage dan ABF karena desa itu sudah sejak lama menjadi pusat pendaratan ikan dengan fasilitas yang sangat tradisional dan pemerintah desa juga menyerahkan lahan untuk lokasi pembangunannya.
Ia juga sudah mengusulkan bantuan dari KKP untuk membangun solar paket dealer nelayan (SPDN) karena sampai saat ini daerah itu belum memilikinya sehingga nelayan sangat sering mengeluhkan kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk melaut.
Pihaknya sudah menyiapkan lokasi di Desa Ulunambo, Kecamatan Menui Kepulauan atau Desa Sambalangi, Kecamatan Bungku Timur, yang sangat jauh dari lokasi stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) sehingga nelayan mudah menjangkaunya.
"Sebenarnya kami sudah memiliki SPDN di sekitar Kota Bungku namun hingga kini belum bisa beroperasi karena belum memenuhi persyaratan PT Pertamina," ujarnya.
Emil mengatakan bahwa kendala utama dalam meningkatkan produksi perikanan tangkap dan kesejahteraan nelayan di daerahnya adalah keterbatasan sarana berupa ruang pendingin dan pembekuan ikan, pabrik es balok dan ketersediaan bahan bakar dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau.
"Hampir setiap hari nelayan mengeluh tidak ada es batu dan susah dapat solar. Kalau pun ada, jumlahnya sangat terbatas dan harganya tinggi," katanya. (Editor : Farochah)
Kedua sarana pengawetan ikan itu, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Morowali Drs Emil, MSi, Senin, berlokasi di Kota Bungku, Ibu Kota Kabupaten Morowali dan Desa Mo'ahino, Kecamatan Bungku Barat, keduanya adalah sentra perikanan tangkap di daerah tersebut.
Menurut Emil, di Kota Bungku sedang dikerjakan pembangunan cold storage berkapasitas 20 ton dan ABF delapan ton pada kawasan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) yang dibangun Pemkab Morowali dengan memanfaatkan pinjaman Bank Dunia senilai Rp19 miliar.
Sementara di Desa Mo'ahino, sekitar 65 km utara Kota Bungku, sedang dipersiapkan pembangunan cold storage berkapasitas 30 ton dan ABF empat ton menggunakan dana bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) 2013 senilai Rp1,2 miliar.
"Semua sarana tersebut akan beroperasi sebelum akhir tahun 2013 ini, bahkan cold storage di Kota Bungku dijadwalkan selesai pada Juli 2013," kata Emil.
Menurut Emil, pihaknya memilih Desa Mo'ahino sebagai lokasi pembangunan cold sotorage dan ABF karena desa itu sudah sejak lama menjadi pusat pendaratan ikan dengan fasilitas yang sangat tradisional dan pemerintah desa juga menyerahkan lahan untuk lokasi pembangunannya.
Ia juga sudah mengusulkan bantuan dari KKP untuk membangun solar paket dealer nelayan (SPDN) karena sampai saat ini daerah itu belum memilikinya sehingga nelayan sangat sering mengeluhkan kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk melaut.
Pihaknya sudah menyiapkan lokasi di Desa Ulunambo, Kecamatan Menui Kepulauan atau Desa Sambalangi, Kecamatan Bungku Timur, yang sangat jauh dari lokasi stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) sehingga nelayan mudah menjangkaunya.
"Sebenarnya kami sudah memiliki SPDN di sekitar Kota Bungku namun hingga kini belum bisa beroperasi karena belum memenuhi persyaratan PT Pertamina," ujarnya.
Emil mengatakan bahwa kendala utama dalam meningkatkan produksi perikanan tangkap dan kesejahteraan nelayan di daerahnya adalah keterbatasan sarana berupa ruang pendingin dan pembekuan ikan, pabrik es balok dan ketersediaan bahan bakar dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau.
"Hampir setiap hari nelayan mengeluh tidak ada es batu dan susah dapat solar. Kalau pun ada, jumlahnya sangat terbatas dan harganya tinggi," katanya. (Editor : Farochah)
Pewarta : Rolex Malaha
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Sulbar bangun gudang pendingin ikan di tiap kabupaten bagi nelayan
04 September 2023 5:31 WIB, 2023
Pemprov Sulbar kembangkan kawasan "food estate"antisipasi krisis pangan
24 November 2022 18:22 WIB, 2022
"Total lockdown" Malaysia hanya izinkan dua orang per keluarga berbelanja
31 May 2021 5:59 WIB, 2021
Antisipasi kekeringan, BPBD Makassar telah distribusikan air bersih 3 juta liter
15 September 2026 13:20 WIB
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Antisipasi kekeringan, BPBD Makassar telah distribusikan air bersih 3 juta liter
15 September 2026 13:20 WIB
Pertamina blokir 6.023 nopol kendaraan terkait penyelewengan BBM bersubsidi di Sulawesi
10 September 2026 20:08 WIB