RSMM Timika Tertantang Jadi RS Mandiri
Sabtu, 27 Juli 2013 16:47 WIB
Timika (ANTARA Sulsel) - Jajaran Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika, Papua, merasa tertantang untuk mengembangkan rumah sakit itu kelak menjadi rumah sakit mandiri sesuai perencanaan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK).
Direktur RSMM Timika, Dr AML Totot Heri Munarbi MMR kepada Antara di Timika, Sabtu mengatakan sebagai pemilik RSMM Timika, LPMAK berkomitmen penuh untuk mengembangkan RSMM menjadi rumah sakit mandiri dan memiliki kekhususan.
Bukti komitmen LPMAK melalui pembangunan gedung poliklinik baru dua lantai, dua unit gedung privat wing untuk ruang perawatan kelas II, kelas I dan VIP serta pembangunan tiga unit gudang di RSMM.
"Terima kasih kepada LPMAK yang sudah memberikan kami fasilitas privat wing yang sementara dibangun. Terus terang, kami tertantang apakah siap atau tidak untuk mengembangkan RSMM sebagaimana harapan LPMAK selaku pemilik. Tentu harus ada perubahan pola pikir dari semua komponen yang ada," kata Totot.
Meski mengaku baru lima bulan bertugas sebagai Direktur RSMM Timika, Dr Totot mengaku sangat siap untuk membawa RSMM Timika menuju rumah sakit mandiri dan memiliki kekhususan.
Dr Totot sebelumnya pernah bertugas selama 20 tahun di RS St Boromeus Bandung. Ia bergabung ke rumah sakit itu sejak 1992 di saat pendanaan rumah sakit tidak lagi mendapat dukungan dana dari luar negeri.
Di masa kepemimpinan Dr Totot sebagai direktur utama, RS Boromeus Bandung berubah menjadi menjadi rumah sakit terdepan dan mampu membiayai dirinya sendiri.
Pengalamannya selama memimpin RS Boromeus Bandung dan juga pernah bekerja di RS Internasional Santosa serta Eka Hospital Jakarta itu menjadi acuan bagi Dr Totot untuk mengembangkan RSMM Timika ke depan.
"Saya memiliki obsesi tersendiri terhadap rumah sakit ini. Tentu kami harus mendukung penuh Renstra LPMAK untuk pengembangan RSMM. Saya melihat ada satu tantangan yang harus dijawab bersama. Kalau bisa, saya ingin mewarnai Renstra LPMAK terhadap pengembangan rumah sakit ini," kata Totot.
Ia cukup optimistis mampu mempersiapkan RSMM Timika menjadi rumah sakit mandiri dan memiliki kekhususan mengingat pertumbuhan ekonomi di kawasan Timika dan sekitarnya sangat cepat.
"Pertumbuhan Kota Timika sungguh luar biasa. Di sini ada bandara yang sangat besar, didukung dengan fasilitas pelabuhan laut. Apalagi ada perusahaan sekelas Freeport yang bisa kita banggakan bersama," tuturnya.
Menurut Dr Totot, fasilitas gedung poliklinik baru yang dibangun LPMAK di RSMM sejak 2011 sangat memadai. Gedung poliklinik berlantai dua yang dibangun dengan anggaran sekitar lebih dari Rp18 miliar belum termasuk fasilitas di dalamnya dinilai memenuhi standar sebuah rumah sakit modern.
Lantai dasar gedung poliklinik tersebut semuanya akan dioperasikan untuk pelayanan pasien rawat jalan, sedangkan lantai dua digunakan untuk ruang farmasi, ruang rekam medik serta perkantoran staf.
"Bangunan ini memenuhi standar," kata Dr Totot.
Kepala Biro Kesehatan LPMAK Yusuf Nugroho mengatakan LPMAK dalam kebijakan strategisnya menghendaki agar suatu saat RSMM Timika menjadi rumah sakit mandiri dan memiliki kekhususan.
Kebijakan baru itu juga sekaligus menyongsong pemberlakuan program pemerintah tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), dimana ke depan seluruh masyarakat Indonesia akan mendapat jaminan kesehatan dari negara.
Menurut Yusuf, seluruh bangsal pasien yang selama ini ada di RSMM Timika akan dijadikan ruang perawatan pasien kelas III. LPMAK membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pasien termasuk dari warga tujuh suku di Mimika untuk mendapat perawatan di ruang perawatan kelas II hingga ruang perawatan VIP dengan catatan yang bersangkutan harus siap membayar biaya.
Pasalnya, selama ini warga tujuh suku yakni Amungme, Kamoro, Dani, Damal, Nduga, Mee dan Moni yang dirawat di RSMM Timika bebas dari pungutan apapun lantaran biaya pengobatan mereka seluruhnya ditanggung LPMAK.
RSMM Timika merupakan rumah sakit milik LPMAK yang dikelola oleh Yayasan Caritas Timika-Papua (YCTP). Rumah sakit ini beroperasi sejak 1999 dan merupakan rumah sakit pertama di Papua yang telah terakreditasi.
Saat ini RSMM Timika berkapasitas 101 tempat tidur pasien. Sementara pasien rawat jalan di RSMM Timika setiap harinya mencapai 300-400 orang. O. Tamindael
Direktur RSMM Timika, Dr AML Totot Heri Munarbi MMR kepada Antara di Timika, Sabtu mengatakan sebagai pemilik RSMM Timika, LPMAK berkomitmen penuh untuk mengembangkan RSMM menjadi rumah sakit mandiri dan memiliki kekhususan.
Bukti komitmen LPMAK melalui pembangunan gedung poliklinik baru dua lantai, dua unit gedung privat wing untuk ruang perawatan kelas II, kelas I dan VIP serta pembangunan tiga unit gudang di RSMM.
"Terima kasih kepada LPMAK yang sudah memberikan kami fasilitas privat wing yang sementara dibangun. Terus terang, kami tertantang apakah siap atau tidak untuk mengembangkan RSMM sebagaimana harapan LPMAK selaku pemilik. Tentu harus ada perubahan pola pikir dari semua komponen yang ada," kata Totot.
Meski mengaku baru lima bulan bertugas sebagai Direktur RSMM Timika, Dr Totot mengaku sangat siap untuk membawa RSMM Timika menuju rumah sakit mandiri dan memiliki kekhususan.
Dr Totot sebelumnya pernah bertugas selama 20 tahun di RS St Boromeus Bandung. Ia bergabung ke rumah sakit itu sejak 1992 di saat pendanaan rumah sakit tidak lagi mendapat dukungan dana dari luar negeri.
Di masa kepemimpinan Dr Totot sebagai direktur utama, RS Boromeus Bandung berubah menjadi menjadi rumah sakit terdepan dan mampu membiayai dirinya sendiri.
Pengalamannya selama memimpin RS Boromeus Bandung dan juga pernah bekerja di RS Internasional Santosa serta Eka Hospital Jakarta itu menjadi acuan bagi Dr Totot untuk mengembangkan RSMM Timika ke depan.
"Saya memiliki obsesi tersendiri terhadap rumah sakit ini. Tentu kami harus mendukung penuh Renstra LPMAK untuk pengembangan RSMM. Saya melihat ada satu tantangan yang harus dijawab bersama. Kalau bisa, saya ingin mewarnai Renstra LPMAK terhadap pengembangan rumah sakit ini," kata Totot.
Ia cukup optimistis mampu mempersiapkan RSMM Timika menjadi rumah sakit mandiri dan memiliki kekhususan mengingat pertumbuhan ekonomi di kawasan Timika dan sekitarnya sangat cepat.
"Pertumbuhan Kota Timika sungguh luar biasa. Di sini ada bandara yang sangat besar, didukung dengan fasilitas pelabuhan laut. Apalagi ada perusahaan sekelas Freeport yang bisa kita banggakan bersama," tuturnya.
Menurut Dr Totot, fasilitas gedung poliklinik baru yang dibangun LPMAK di RSMM sejak 2011 sangat memadai. Gedung poliklinik berlantai dua yang dibangun dengan anggaran sekitar lebih dari Rp18 miliar belum termasuk fasilitas di dalamnya dinilai memenuhi standar sebuah rumah sakit modern.
Lantai dasar gedung poliklinik tersebut semuanya akan dioperasikan untuk pelayanan pasien rawat jalan, sedangkan lantai dua digunakan untuk ruang farmasi, ruang rekam medik serta perkantoran staf.
"Bangunan ini memenuhi standar," kata Dr Totot.
Kepala Biro Kesehatan LPMAK Yusuf Nugroho mengatakan LPMAK dalam kebijakan strategisnya menghendaki agar suatu saat RSMM Timika menjadi rumah sakit mandiri dan memiliki kekhususan.
Kebijakan baru itu juga sekaligus menyongsong pemberlakuan program pemerintah tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), dimana ke depan seluruh masyarakat Indonesia akan mendapat jaminan kesehatan dari negara.
Menurut Yusuf, seluruh bangsal pasien yang selama ini ada di RSMM Timika akan dijadikan ruang perawatan pasien kelas III. LPMAK membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pasien termasuk dari warga tujuh suku di Mimika untuk mendapat perawatan di ruang perawatan kelas II hingga ruang perawatan VIP dengan catatan yang bersangkutan harus siap membayar biaya.
Pasalnya, selama ini warga tujuh suku yakni Amungme, Kamoro, Dani, Damal, Nduga, Mee dan Moni yang dirawat di RSMM Timika bebas dari pungutan apapun lantaran biaya pengobatan mereka seluruhnya ditanggung LPMAK.
RSMM Timika merupakan rumah sakit milik LPMAK yang dikelola oleh Yayasan Caritas Timika-Papua (YCTP). Rumah sakit ini beroperasi sejak 1999 dan merupakan rumah sakit pertama di Papua yang telah terakreditasi.
Saat ini RSMM Timika berkapasitas 101 tempat tidur pasien. Sementara pasien rawat jalan di RSMM Timika setiap harinya mencapai 300-400 orang. O. Tamindael
Pewarta : Evarianus Supar
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Menkes kirim tim analisa ke Papua terkait dugaan ibu hamil ditolak rumah sakit
25 November 2025 13:20 WIB
Presiden Prabowo memerintahkan audit RS di Papua, usai kabar ibu hamil ditolak RS
25 November 2025 7:13 WIB
RSI Faisal Makassar kerja sama 10 instansi guna perkuat layanan masyarakat
23 September 2025 6:27 WIB
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Peneliti Unhas kenalkan lalat buah sebagai model riset strategis berbagai bidang
11 February 2026 4:35 WIB
PM Anwar tolak desakan oposisi soal isu penyerahan lahan di perbatasan Sabah-Kalimantan ke Indonesia
31 January 2026 6:15 WIB
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Warga binaan di Sulawesi Selatan hasilkan 2,6 ton bahan pangan saat panen raya
16 January 2026 19:32 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Mantan PM Malaysia Najib Razak dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas 25 dakwaan
27 December 2025 6:20 WIB