Makassar (ANTARA) - Tanggal 21 Juni 2023 menjadi momen penting, kala Pemerintah Republik Indonesia secara resmi mencabut status pandemi COVID-19 dan diputuskan menjadi endemi.

Keputusan pemerintah itu tidak lepas dari hadirnya vaksin booster yang hingga 22 Juli 2023 telah digunakan sebanyak 203.869.131 dosis, atau menjangkau sekitar 86,88 persen masyarakat dari target Kementerian Kesehatan. Capaian tersebut juga tidak terlepas dari kolaborasi dan kontribusi berbagai pihak dalam membantu pencapaian vaksinasi.

Menilik kembali ke awal munculnya pandemi COVID-19 yang terdeteksi masuk ke Indonesia pada Maret 2020, negeri ini dilanda tak hanya krisis kesehatan, dengan menelan lebih dari 160 ribu korban jiwa, tetapi juga sempat memorak-porandakan ekonomi di berbagai kelas sosial. Meskipun demikian, banyak pula pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini.

Salah satu pelajaran baik itu ialah bangkitnya kembali semangat kolaborasi dalam penanganan dan penanggulangan COVID-19, dengan konsep kolaborasi pentahelix. Kolaborasi ini dalam diksi asal bangsa kita adalah gotong royong.

Pentahelix merupakan sistem kerja sama multipihak, mulai dari unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media. Mereka bersatu padu, berkoordinasi, serta berkomitmen untuk menciptakan tujuan bersama, salah satunya ialah penanganan pandemi berlandaskan pengetahuan dengan berbagai inovasi. 

Hadir dengan konsep berbagi peran, kolaborasi pentahelix ini menjadi salah satu strategi yang sangat efektif sebagai solusi dalam memerangi virus COVID-19.

Kolaborasi pentahelix ini kemudian melahirkan ekosistem solusi kolaboratif, sehingga muncul pengembangan inovasi dalam penanganan dan penanggulangan COVID-19 secara inklusif, tanpa mengabaikan golongan masyarakat berisiko tinggi, seperti penyandang disabilitas, lansia, dan anak-anak.

Konsep ini pula yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, hingga tingkat desa dan kelurahan.

Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan dr Rosmini Pandin mengakui bahwa kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, seperti TNI-Polri, media massa, serta komunitas, seperti organisasi masyarakat (ormas) keagamaan, menjadi strategi utama peningkatan cakupan vaksinasi. Ini terjadi, terutama pada kelompok berisiko tinggi, yang cakupannya masih terbilang sangat rendah dibanding provinsi lain pada awal-awal hadirnya vaksin booster.

Edukasi mengenai pentingnya vaksinasi COVID-19 merupakan kuncinya. Oleh karena itu, pemerintah dan pemangku kepentingan bersama-sama mengedukasi masyarakat agar sadar akan pentingnya vaksinasi.

Edukasi ini ditujukan tidak hanya kepada kelompok sasaran, namun juga kepada keluarganya, seperti keluarga lansia dan penyandang disabilitas. Vaksinasi ke semua kelompok lapisan masyarakat dapat mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok di Sulawesi Selatan.

Sadar akan pengaruhnya yang tinggi di masyarakat, ormas dan komunitas keagamaan juga dilibatkan oleh Pemerintah Sulsel dalam strategi kolaborasi pentahelix. Mereka aktif dalam menangkal berita bohong (hoaks) yang ditengarai dapat mempengaruhi keputusan masyarakat untuk ikut menyukseskan program vaksinasi COVID-19.

Upaya ini membuahkan hasil karena peran aktif ormas dan komunitas keagamaan yang menjangkau semua lapisan, mampu menggerakkan masyarakat umum, lansia, dan penyandang disabilitas, untuk ikut program vaksinasi.

Salah satu ormas agama di Sulsel adalah Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI). Belajar dari pengalaman bahwa terdapat sekitar 300 warganya meninggal akibat COVID-19, sebagiannya adalah kelompok lansia, organisasi ini kemudian kerap membantu Dinas Kesehatan Sulsel dalam memutus mata rantai penyebaran virus di kelompok warga Tionghoa.

Pada awal Maret 2021, PSMTI Sulsel melaksanakan kegiatan vaksinasi di Mall Phinisi Point Makassar, khususnya kepada pekerja dan kelompok lansia dari warga Tionghoa. Vaksinasi ini berhasil menjangkau 2.250 orang yang terdiri dari pedagang setempat, lansia, dan pemuka agama.

Sementara itu, Muhammadiyah, sebagai salah satu ormas Islam terkemuka di Kabupaten Gowa, turut mendorong cakupan vaksinasi COVID-19.

Muhammadiyah Gowa melibatkan 53 sekolah di bawah naungan organisasi itu dari berbagai jenjang pendidikan untuk ikut vaksinasi, mulai dari guru, siswa, hingga organisasi otonomnya, seperti Aisyiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Selain mendorong untuk ikut serta dalam vaksinasi, organisasi itu juga mendorong semua kadernya untuk menghindari hoaks.

Di luar tataran organisasi, Muhammadiyah juga mengedukasi dan mengajak masyarakat dari kelompok lansia dan penyandang disabilitas. Ditambah lagi dengan pelibatan tokoh agama, seperti imam desa, untuk terlebih dahulu divaksinasi, sebelum mengajak masyarakat lainnya.

Hampir semua kader di Gowa merupakan tokoh-tokoh lokal agama yang ikut aktif dalam mengedukasi sekaligus mengadvokasi masyarakat untuk ikut vaksinasi COVID-19.

Pendekatan komunikasi yang digunakan adalah menggunakan bahasa daerah setempat, agar terjalin hubungan yang baik dan informasi yang jelas tersampaikan secara lengkap untuk menggiring masyarakat ke layanan vaksinasi. Secara kelembagaan, metode komunikasi dan strategi komunikasi risiko itu telah ada di Muhammadiyah Gowa. Ini adalah bentuk kolaborasi dengan pemerintah dalam menjangkau berbagai lapisan masyarakat secara maksimal, sehingga semua orang memiliki kemudahan dalam mengakses vaksinasi COVID-19. Kegiatan Gebyar Pekan Vaksinasi COVID-19 Inklusif di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 23 Juli 2022. ANTARA/HO-AIHSP
Vaksinasi inklusif 

Semangat kolaborasi percepatan vaksinasi COVID-19 semakin maksimal tatkala ormas keagamaan di Gowa bekerja sama dengan Kemitraan Australia Indonesia untuk Ketahanan Kesehatan (AIHSP), guna menghadirkan layanan dasar yang lebih inklusif dan mudah diakses seluruh lapisan masyarakat.

Pendekatan melalui ormas agama menjadi salah satu strategi AIHSP untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dengan sasaran lansia dan penyandang disabilitas.

Kolaborasi ini dinilai sangat tepat, sebab organisasi itu telah memiliki perkumpulan, yakni Himpunan Disabilitas Muhammadiyah (HIDIMU) Gowa, yang beranggotakan 32 orang dan semua anggotanya merupakan penyandang disabilitas. 

Kerja sama ini semakin mudah mengedukasi terkait pentingnya vaksinasi sekaligus menghadirkan peserta vaksinasi dari kelompok penyandang disabilitas.

Alasan organisasi itu bekerja sama dengan AIHSP yaitu karena program ini menyasar masyarakat rentan, seperti disabilitas dan lansia. Inilah yang menarik perhatian para kader organisasi itu.

Lebih dari itu, program ini sejalan dengan salah satu prinsip Muhammadiyah dalam menegakkan "amar ma'ruf nahi munkar", yang berarti mengajak orang dalam kebajikan dan melarang orang berbuat jahat.

Pada layanan itu juga ada aksi jemput bola, yaitu menjemput dan mengantar peserta vaksinasi COVID-19 yang mempunyai keterbatasan mobilitas, baik karena jarak yang jauh, kondisi geografis yang menantang, tidak adanya akses kendaraan, serta kondisi fisik yang kurang mendukung.

Upaya ini berhasil mengantarkan Daeng Gassing, seorang penyandang disabilitas netra berumur 60 tahun, untuk bisa mengakses layanan vaksinasi COVID-19 di Kabupaten Gowa.

Dia merasa vaksinasi COVID-19 bisa membuat tubuhnya memiliki kekebalan, sehingga bisa terhindar dari virus COVID-19 atau jika terkena, maka dampaknya tidak terlalu parah.

Selain menyediakan layanan antar-jemput, AIHSP juga menyediakan juru bahasa isyarat (JBI) bagi peserta tuli guna memaksimalkan komunikasi pada proses pelaksanaan vaksinasi COVID-19 yang saat itu berlangsung di Balla Lompoa, Kabupaten Gowa, 23 Juli 2022.

Pada tempat pelaksanaan vaksinasi, terdapat pula tanda visual yang ditempel untuk menunjukkan akses tempat, seperti toilet, jalur masuk, dan jalur keluar, guna memudahkan kelompok penyandang disabilitas dalam menggunakan layanan selama proses vaksinasi.

Dari pelaksanaan vaksinasi COVID-19 ini, berhasil menjangkau 149 orang masyarakat rentan yang 46 peserta berasal dari kelompok penyandang disabilitas di Gowa. Kegiatannya turut melibatkan Dinas Kesehatan Gowa, Dinas Pendidikan, Bappeda, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Gowa, BIN (Badan Intelijen Negara), Pramuka Saka Bakti Husada, Universitas Hasanuddin, dan GoJek Indonesia Timur.

Andi Irfan, seorang penyandang tuli, mengapresiasi layanan AIHSP dan Muhammadiyah Gowa yang memberikan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas. Apalagi panitia vaksinasi juga dibekali dengan pemahaman mengenai etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas, sehingga mereka paham apa yang harus dilakukan ketika peserta disabilitas datang. Ia juga tak lupa mengajak teman tuli lainnya untuk segera divaksinasi.

Tadinya dia ragu mengikuti vaksinasi COVID-19 karena banyak hoaks yang beredar di masyarakat. Namun, karena temannya mengajak vaksinasi COVID-19, maka dia memutuskan untuk ikut serta juga.

Irfan mengungkapkan bahwa akses vaksinasi dan fasilitas yang disediakan sangat baik. Apalagi tersedia akses gambar tentang penyakit yang ditimbulkan oleh COVID-19, sehingga lebih mudah dipahami. Setelah vaksinasi, Irfan tidak merasakan efek (samping) apapun.

Selain Muhammadiyah, ormas lainnya, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan Pemuda Ansor, juga turut terlibat dalam meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19 di Gowa.
 
Libatkan pemuda dari ormas 

Bersamaan dengan Gowa, AIHSP juga turut membantu Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengimplementasikan program percepatan vaksinasi bagi kelompok penyandang disabilitas dan lansia di empat kabupaten lainnya, yakni Kabupaten Maros, Bone, Pinrang, dan Enrekang.

Di Kabupaten Enrekang, pelibatan ormas agama dalam pelaksanaan vaksinasi inklusif menggandeng Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Enrekang. Sedikitnya 10 anggota IMM Enrekang, yang dikoordinir oleh Yusran Sahodding sebagai Ketua IMM Enrekang, saat itu, telah menyasar warga lansia dari rumah ke rumah di Kelurahan Joppandang, Kecamatan Enrekang.

Mereka tak jarang mendapat penolakan, lantaran banyaknya hoaks bahwa vaksinasi COVID-19 berbahaya bagi tubuh karena memiliki kandungan yang tidak halal. Namun, tidak sedikit pula yang merespons positif upaya anak muda yang turut berperan dalam mengedukasi masyarakat, sehingga mereka dapat membuat keputusan yang tepat untuk melindungi kesehatan diri dan keluarganya.

Alhasil, sebanyak 54 orang datang memenuhi ajakan untuk divaksinasi di Kampus II Universitas Muhammadiyah Enrekang pada 28 September 2022. Peserta vaksinasi ini didominasi oleh kelompok lanjut usia sekitar 70 persen yang memperoleh vaksin dosis 2 dan booster.

Sejalan dengan usaha mewujudkan vaksinasi inklusif, kisah berbeda juga diutarakan Ilham Siddiq sebagai Ketua IMM Kabupaten Pinrang. Ia membantu menjembatani kerja sama dengan mitra pelaksana, di tingkat nasional dikoordinasi oleh Save the Children, dan di Sulawesi Selatan diimplementasikan oleh Sulawesi Community Foundation (SCF) untuk menghadirkan vaksinasi bagi masyarakat di Rumah Tahanan Negara (Rutan) kelas II B Pinrang.

Diawali dengan edukasi terkait pentingnya vaksinasi COVID-19, IMM Pinrang berhasil menggaet 200 orang tahanan mengikuti suntik vaksin dosis 1, 2, hingga booster.

Terlibatnya ormas keagamaan di tingkat komunitas pemuda dan banyak lainnya dipastikan memiliki andil besar dalam meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19, sekaligus mewujudkan terbentuknya kekebalan kelompok di Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat berisiko tinggi.

Kolaborasi pentahelix, khususnya pelibatan ormas agama, tokoh agama dan pemuda, menjadi salah satu solusi dan praktik baik dalam menghadapi berbagai krisis dalam kelangsungan hidup manusia, termasuk sebagai langkah pencegahan jika terjadi ancaman kesehatan serupa di masa mendatang.

Berita ini juga telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menilik praktik baik kolaborasi Pentahelix vaksinasi COVID-19 Sulsel

Pewarta : Nur Suhra Wardyah
Editor : Redaktur Makassar
Copyright © ANTARA 2024