MIWF 2016 hadirkan konsep Pop-Up taman
Rabu, 18 Mei 2016 5:24 WIB
Direktur MIWF Lily Yulianti Farid (kanan) memberi keterangan terkait pelaksanaan Makassar International Writers Festival (MIWF) di Makassar, Selasa (17/5). (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)
Makassar (ANTARA Sulsel) - Makassar International Writers Festival (MIWF) akan menghadirkan konsep Pop-Up Taman atau sebuah proyek kolaborasi yang menawarkan tiga taman tematik selama kegiatan.
"Taman tersebut yakni taman baca, taman rasa dan taman cahaya. Masing masing taman punya khas tersendiri," sebut Direktur MIWF Lily Yulianti Farid di sekertariat Rumata, Makassar, Selasa.
Lili menjelaskan untuk taman baca, bisa dinikmati bacaan-bacaan dengan suasana piknik. Sedangkan untuk taman rasa setiap sorenya pengujung bisa menikmati racikan kopi dan teh ditemani puisi.
"Sementara di taman cahaya akan menghadirkan kolaborasi koreografer Abdi Karya, musisi Juang Manyala, dan Dana Riza," jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, setiap malam akan dihadirkan pertunjukan-pertunjukan tematik seperti La Galigo The Beginning, Makassar Kisah Sebuah Kota, Reklamasi dan Senja yang Hilang, serta Refleksi Reformasi.
"Adapula program Big Ideas, yang menghadirkan sembilan perempuan dari berbagai latar belakang. Mereka adalah perempuan yang telah mengambil langkah-langkah berani, bekerja bersama komunitas dengan ide-ide besar mereka," tambah dia.
Selanjutnya perempuan lain seperti Suciwati Munir yang membangun Museum HAM di Malang, lalu Dinny Jusuf yang membawa tenun Toraja ke pentas-pentas internasional.
Bahkan pendukung Al Gore dalam upaya penyadaran pembelaan lingkungan dan iklim, Suzy Hutomo ikut terlibat di festival ini untuk membagi pengalamannya dalam menyebarkan dan menyuarakan gaya hidup ramah lingkungan.
Peserta MIWF 2016, tutur Lily, akan mendapatkan pengalaman baru di Twitter Corner. Melalui microblogging platform pengunjung bisa menikmati sastra dengan menjelajahi aplikasi Twitter, bergabung #puitwit dan #LiTweetrature.
"MIWF juga selalu menyiapkan ruang buat anak-anak, termasuk orang tua, guru dan pendidik, mereka akan turut belajar dan menikmati kekuatan mendongeng," katanya.
Kemudian MIWF juga memperingati 10 tahun Pramoedya Ananta Toer dengan pentas Ontosoroh dimotivasi oleh karakter Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia. Kolaborasi Ade Suharto sebagai penari-koreografer dan Peni Candra Tini selaku vokalis-komposer.
Setiap malamnya di MIWF akan menjadi sangat istimewa. Dua malam berturut-turut, Ari Reda akan hadir menyanyikan puisi dan menyayikan lagu
Kemudian untuk pertama kalinya Silampukau tampil di Makassar dan akan mengisi panggung utama di Fort Rotterdam pada 20 Mei.
Dimalam penutupan, penampilan Theory of Discoustic, Band Indie terbaik versi Rolling Stone. Penutupan MIWF, Eka Kurniawan akan mendapatkan novel berjudul Cantik Itu Luka diserahkan Nury Vittachi penulis novel tersebut.
Penulis muda berbakat asal Indonesia Timur yang terpilih dalam program Emerging Writers akan menyajikan karya mereka di festival ini.
"Tahun ini, enam penulis cerpen dan puisi yang terpilih yakni Anta Kusuma dari Banjarmasin, Cicilia Oday, Manado, Chalvin Jems Papilaya, Ambon, Ibe S Palogai, Makassar, Irma Agryanti, Mataram, Wahid Affandi dari Makassar," tambahnya.
Ia menjelaskan seluruh program pada festival ini melalui proses kurasi dengan teliti oleh team MIWF. Dalam enam tahun terakhir, festival ini telah berkembang yang melibatkan para penulis, pembaca, pembuat perubahan, orang-orang dengan ide yang luar biasa.
"Mereka yang berasal dari kehidupan sehari-hari. Ini adalah sebuah festival yang kami persiapkan untuk semua orang. Dimana semua program pada festival ini gratis," kata Lily.
"Taman tersebut yakni taman baca, taman rasa dan taman cahaya. Masing masing taman punya khas tersendiri," sebut Direktur MIWF Lily Yulianti Farid di sekertariat Rumata, Makassar, Selasa.
Lili menjelaskan untuk taman baca, bisa dinikmati bacaan-bacaan dengan suasana piknik. Sedangkan untuk taman rasa setiap sorenya pengujung bisa menikmati racikan kopi dan teh ditemani puisi.
"Sementara di taman cahaya akan menghadirkan kolaborasi koreografer Abdi Karya, musisi Juang Manyala, dan Dana Riza," jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, setiap malam akan dihadirkan pertunjukan-pertunjukan tematik seperti La Galigo The Beginning, Makassar Kisah Sebuah Kota, Reklamasi dan Senja yang Hilang, serta Refleksi Reformasi.
"Adapula program Big Ideas, yang menghadirkan sembilan perempuan dari berbagai latar belakang. Mereka adalah perempuan yang telah mengambil langkah-langkah berani, bekerja bersama komunitas dengan ide-ide besar mereka," tambah dia.
Selanjutnya perempuan lain seperti Suciwati Munir yang membangun Museum HAM di Malang, lalu Dinny Jusuf yang membawa tenun Toraja ke pentas-pentas internasional.
Bahkan pendukung Al Gore dalam upaya penyadaran pembelaan lingkungan dan iklim, Suzy Hutomo ikut terlibat di festival ini untuk membagi pengalamannya dalam menyebarkan dan menyuarakan gaya hidup ramah lingkungan.
Peserta MIWF 2016, tutur Lily, akan mendapatkan pengalaman baru di Twitter Corner. Melalui microblogging platform pengunjung bisa menikmati sastra dengan menjelajahi aplikasi Twitter, bergabung #puitwit dan #LiTweetrature.
"MIWF juga selalu menyiapkan ruang buat anak-anak, termasuk orang tua, guru dan pendidik, mereka akan turut belajar dan menikmati kekuatan mendongeng," katanya.
Kemudian MIWF juga memperingati 10 tahun Pramoedya Ananta Toer dengan pentas Ontosoroh dimotivasi oleh karakter Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia. Kolaborasi Ade Suharto sebagai penari-koreografer dan Peni Candra Tini selaku vokalis-komposer.
Setiap malamnya di MIWF akan menjadi sangat istimewa. Dua malam berturut-turut, Ari Reda akan hadir menyanyikan puisi dan menyayikan lagu
Kemudian untuk pertama kalinya Silampukau tampil di Makassar dan akan mengisi panggung utama di Fort Rotterdam pada 20 Mei.
Dimalam penutupan, penampilan Theory of Discoustic, Band Indie terbaik versi Rolling Stone. Penutupan MIWF, Eka Kurniawan akan mendapatkan novel berjudul Cantik Itu Luka diserahkan Nury Vittachi penulis novel tersebut.
Penulis muda berbakat asal Indonesia Timur yang terpilih dalam program Emerging Writers akan menyajikan karya mereka di festival ini.
"Tahun ini, enam penulis cerpen dan puisi yang terpilih yakni Anta Kusuma dari Banjarmasin, Cicilia Oday, Manado, Chalvin Jems Papilaya, Ambon, Ibe S Palogai, Makassar, Irma Agryanti, Mataram, Wahid Affandi dari Makassar," tambahnya.
Ia menjelaskan seluruh program pada festival ini melalui proses kurasi dengan teliti oleh team MIWF. Dalam enam tahun terakhir, festival ini telah berkembang yang melibatkan para penulis, pembaca, pembuat perubahan, orang-orang dengan ide yang luar biasa.
"Mereka yang berasal dari kehidupan sehari-hari. Ini adalah sebuah festival yang kami persiapkan untuk semua orang. Dimana semua program pada festival ini gratis," kata Lily.
Pewarta : Darwin Fatir
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kerusuhan hingga peternakan lebah, film Internasional di Oscar pada 2020
14 January 2020 8:50 WIB, 2020
Unismuh dan Litbang Kemenag luncurkan buku cerita berbahasa Bugis-Makassar
17 December 2019 14:01 WIB, 2019
Ratusan karya fotografer dibedah di "Kampoeng Fotografi 2019" Unhas
12 December 2019 20:17 WIB, 2019
Selasar Balai Kota Jakarta jadi ruang pameran foto peringati Hari Pahlawan
06 December 2019 19:47 WIB, 2019
Terpopuler - Hiburan
Lihat Juga
Kerusuhan hingga peternakan lebah, film Internasional di Oscar pada 2020
14 January 2020 8:50 WIB, 2020
Unismuh dan Litbang Kemenag luncurkan buku cerita berbahasa Bugis-Makassar
17 December 2019 14:01 WIB, 2019
Ratusan karya fotografer dibedah di "Kampoeng Fotografi 2019" Unhas
12 December 2019 20:17 WIB, 2019
Selasar Balai Kota Jakarta jadi ruang pameran foto peringati Hari Pahlawan
06 December 2019 19:47 WIB, 2019
Budaya "Appalili" Kabupaten Gowa terus dipertahankan tingkatkan hasil pertanian
05 December 2019 11:44 WIB, 2019