Kekayaan budaya Kulawi menjadi magnet menarik wisatawan

id kulawi,Kekayaan budaya Kulawi ,sigi,sulawesi tengah, cagar purbakala Kulawi

Masyarakat Adat Lindu B Tuningki saat prosesi terima tamu Pepanodui di Desa Tomado, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (30/8/2017). (ANTARA News/Virna P Setyorini)

"Kami berupaya agar suatu saat, Kulawi dapat menjadi destinasi wisata budaya dan adat istiadat bagi seluruh wisatawan...
Kulawi, Sulawesi Tengah (Antaranews Sulsel) - Situs cagar purbakala dan khasanah budaya yang dimiliki daerah Kulawi Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), dapat menjadi magnet untuk menarik minat wisatawan mancanegara mengunjungi provinsi tersebut.

"Kami berupaya agar suatu saat, Kulawi dapat menjadi destinasi wisata budaya dan adat istiadat bagi seluruh wisatawan," ucap Camat Kulawi Rolly Bagalatu, terkait potensi budaya Kulawi, di Desa Mataue, Minggu.

Dalam kawasan cagar purbakala Kulawi terdapat Rumah Raja Kulawi masih utuh. Di bagian belakang terdapat makam raja, serta situs cagar purbakala lainnya seperti batu dakon, batu lumpang, bekas kaki, dan beberapa situs lainnya.

Batu-batu tersebut memiliki fungsi yang berbeda. Batu lumpang berfungsi sebagai tempat pembuatan (menumbuk obat), sementara batu dakon berfungsi sebagai peta kerajaan.

Kulawi juga memiiki potensi budaya yang sangat unik, salah satu budaya dan tarian yang dimiliki yakni rego (tarian penjemputan tamu).

Tarian ini dimainkan oleh beberapa orang warga berpakaian adat lengkap, tanpa mengenakan alas kaki. Tarian itu diselingi dengan ungkapan-ungkapan.

"Kulawi mempertahankan adat, budaya, agama dan negara sebagai suatu kekuatan dalam persatuan," sebut Rolly Bagalatu.

Di daerah ini, selain dapat melhat khasanah budaya. Pengunjung juga dapat melihat dan belajar proses pembuatan pakaian adat berbahan baku kulit kayu pohon beringin.
 
Suatu pameran corak kain kulit kayu khas Suku Kulawi (ANTARAFOTO/Basri Marzuki/2013)

Proses pembuatan pakaian adat memakan waktu kurang lebih 7 hari untuk satu pasangan pakaian. Hal itu karena dalam prosesnya, pembuatan atau pengrajin harus pergi ke hutan terlebih dahulu untuk menebang pohon beringin, kemudian menguliti pohon tersebut.

Setelah mendapat kulit dari pohon itu, kulit kayu tersebut dibersihkan. Kemudian masukkan dalam air yang mendidih selama 10 menit. Lalu diangkat, di dinginkan dan diinjak-injak agar getah dan kotoran yang dikandung keluar dan kulit kayu menjadi bersih.

Selanjutnya dibersihkan dengan air bersih yang dingin, lalu dibungkus dengan daun yang oleh warga Kulawi disebut `daun livonu` selama 3 hari. Setelah itu, kulit kayu tersebut dikelaurkan dari pembungkusnya dan di pukul-pukul dengan menggunakan alat yang bagi mereka disebut `ike, tinahi, pogea, tivaa, popapu`. Semua alat pemukul tersebut memiliki fungsi yang berbeda.

Setelah di pukul, kulit kayu tersebut di jemur untuk dikeringkan. Jika kulit kayu tersebut telah kering, diambil dan dipukul kembali dengan alat pemukul bernama `parondo` yang berfungsi untuk merapikan kulit kayu.

Saat kulit kayu di pukul dengan alat `parondo`, saat ini kulit kayu telah berbentuk atau menjadi kain/pakaian adat layak pakai, namun butuh di rapikan.

"Adat istiadat dan budaya yang dimiliki daerah Kulawi sebagai nilai yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Karena itu, budaya yang ada modal besar pemersatu bangsa," sebut Rolly Bagalatu.

Kulawi di kenal di Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah yang masih kental dan melestarikan adat istiadat hingga saat ini.

Rolly mengaku bahwa daerah yang dipimpinnya memiliki keterbatasan sarana dan infastruktur sehingga, minim promosi dan sosialisasi terhadap potensi budaya yang dimiliki.

Karena itu perlu adanya sentuhan bantuan dari pemerintah pusat, untuk membangun infastruktur dan sarana prasarana di Kulawi, agar daerah itu menjadi tujuan wisata budaya.
Pewarta :
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar