Logo Header Antaranews Makassar

PB HMI Minta Elemen Bangsa Tundukkan Ego

Minggu, 18 Agustus 2013 07:33 WIB
Image Print
"Haru yang dirasakan secara kolektif oleh masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa ini terbangun melalui sebuah proses yang panjang dengan dinamika yang sangat kompleks," katanya.

Makassar (ANTARA Sulsel) - Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) meminta seluruh elemen bangsa untuk mampu menundukkan ego sektarian dan kelompok demi menyongsong kemajuan Indonesia.

"Saatnya memupuk modal sosial yang selama ini tergerus akibat modernisasi demokrasi, sebagai mata rantai terlemah dalam keseluruhan sistem, modal sosial yang ditandai dengan sikap saling mempercayai mendesak untuk segera dibenahi. Dengan demikian legitimasi etis dari masyarakat dapat kembali menjadi domain dari negara," ujar Ketua Umum PBHMI dr Muhammad Rosyid dalam siaran pers HUT Kemerdekaan RI yang dikirim ke Makassar, Minggu.

Alumnus FK Unhas ini mengatakan 68 tahun sudah bahtera besar Republik Indonesia merdeka, gegap gempita eforia dapat dengan mudah ditemui dalam simbolitas yang tercipta melalui ritual tahunan peringatan proklamasi kemerdekaan yang dihelat.

"Haru yang dirasakan secara kolektif oleh masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa ini terbangun melalui sebuah proses yang panjang dengan dinamika yang sangat kompleks," katanya.

Kemerdekaan atas imperialisme dan kolonialisme yang dirasakan di masa lalu, ujar dia, adalah buah dari proses ikhtiar dari para generasi sebelumnya yang dengan ikhlas dan tulus berkorban harta, pemikiran dan bahkan nyawa.

"Sebagai generasi penerus, mencermati rekam jejak sejarah perjalanan bangsa ini berarti amanah untuk terus berefleksi atas segala pencapaian kita selama ini sebagai sebuah bangsa dan juga sebagai sebuah negara," kata matan Ketua Umum HMI Cabang Makassar tersebut.

Menurut Rosyid, pertumbuhan ekonomi yang cukup impresif beberapa tahun terakhir terhitung belum cukup berkualitas karena lebih banyak ditopang oleh sektor konsumsi, Indonesia tidak lebih dianggap sebagai pasar empuk bagi komoditas impor dan lumbung buruh murah oleh perusahaan multinasional.

"Pesatnya arus investasi asing yang masuk ke dalam negeri pada akhirnya melibas ekonomi lokal dan berimbas pada mandeknya tumbuh kembang perindustrian nasional. Hal ini diperparah konsentrasi ekonomi yang tidak merata kepada seluruh wilayah Indonesia," katanya.

Ketimpangan sosial yang terakumulasi, katanya, sehingga pada akhirnya bertransformasi menjadi konflik horizontal, kemiskinan yang kian parah dan terpinggirkannya kaum marjinal. Bom waktu ini sewaktu-waktu dapat meledak dan mengancam kedaulatan kita sebagai bangsa yang besar.

Dia mengatakan asumsi teoritis tentang "trickle down effect" pada kenyataannya tidak berjalan sesuai skenario tanpa dibarengi kemauan politik yang kuat dari pemerintah, simpati masyarakat terhadap negara dari waktu ke waktu juga semakin susut.

Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik terutama partai politik berada di titik nadir. Kasus korupsi yang belakangan ini terungkap yang menyeret banyak petinggi legislatif dan eksekutif ke kursi pesakitan dianggap sebagai pemicu utama fenomena apatisme kolektif ini.

"Legitimasi elektoral yang diperoleh oleh para wakil rakyat urung untuk digunakan sebagai legitimasi politik. Masyarakat yang semakin cerdas mulai menggugat keberpihakan negara Dan eksistensinya sebagai pemegang mandat kedaulatan rakyat," katanya.

PB HMI berpendapat parameter kemajuan pembangunan hanya mampu dilihat dari seberapa besar keadilan sosial mampu mengejawahtah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui poros keadilan ini setiap kebijakan pembangunan secara paradigmatik diformulasikan. Bukan Lagi "bermitra dengan pasar" tetapi membangun komitmen nasional untuk merebut kembali sektor-sektor ekonomi demi menyelamatkan sendi-sendi sosial yang kehidupan rakyat.

"Sektor strategis seperti pangan, energi, transportasi, dan komunikasi mesti mengecap label nasionalisasi sekarang juga," katanya.

Dia mengatakan tantangan terhadap ke-Indonesia-an kita di masa yang akan datang semakin berat. Dampak dari krisis ekonomi global masih berimbas pada kelesuan perdagangan internasional.

"Ketergantungan komoditas unggulan Indonesia terhadap permintaan pasar internasional cukup mengkhawatirkan mengingat kondisi ketidakpastian yang mungkin terjadi. Eskalasi politik dalam negeri yang cenderung memanas menjelang 2014 jika tidak mampu dikelola dengan baik dapat berujung terganggunya stabilitas nasional," katanya. MM Astro



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026