Menristekdikti targetkan leader publikasi se-Asia Tenggara
Senin, 4 Februari 2019 21:35 WIB
Menristekdikti Mohamad Nasir memberikan sambutan di salah satu acara di Makassar, Senin. (Foto Antara/Abd Kadir/ 19)
Makassar (Antatanews Sulsel) - Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan Indonesia tahun ini siap menjadi "leader"(pemimpin) publikasi internasional di kawasan Asia Tenggara.
Menristekdikti Mohamad Nasir di Makassar, Senin, mengatakan Indonesia saat ini sudah menempati posisi kedua di bawah Malaysia sebagai negara terbanyak melakukan publikasi internasional di Asia Tenggara.
"Pada akhir 2018, publikasi internasional Malaysia (posisi pertama) sebanyak 31 950 sementara kita sudah berada diangka 30.975 publikasi," katanya di Makassar.
"Dan 2019 ini, Indonesia akan menjadi leader publikasi internasional di Asia Tenggara," kata dia.
Sementara di posisi ketiga ada Singapura dengan 22 ribu dan Thailand di sekitar 18 ribu publikasi internasional.
Ia menjelaskan, angka terbaru itu begitu tinggi jika dibandingkan dengan kondisi 20 tahun yang lalu yang masih jauh tertinggal dari Singapura dan Thailand.
"Sejak 20 tahun lalu, publikasi kita begitu sulit mengalahkan Thailand dalam riset," ujarnya.
Kondisi itu tetap berlanjut pada 2014 dimana publikasi internasional Indonesia baru diangka 5.250 diatasi Thailand (9.500), Singapura (18 ribu) serta Malaysia di posisi teratas dengan 28 publikasi.
Menurut dia, dari berbagai kebijakan dan arahan dari presiden, maka perlu dilakukan perubahan mendasar, melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga yang pada akhirnya memberikan hasil yang maksimal.
"Riset itu mulai bentuk teknologi, tingkat kesiapan teknologi.riset dasar terapan, pengembangan dan inovasi kemudian kita akan kelompokkan. Jangan sampai berulang-ulang.
Riset di peternakan, koordinasi dengan lembaga lain termasuk lembaga kementerian pertanian," sebut dia.
Menristekdikti Mohamad Nasir di Makassar, Senin, mengatakan Indonesia saat ini sudah menempati posisi kedua di bawah Malaysia sebagai negara terbanyak melakukan publikasi internasional di Asia Tenggara.
"Pada akhir 2018, publikasi internasional Malaysia (posisi pertama) sebanyak 31 950 sementara kita sudah berada diangka 30.975 publikasi," katanya di Makassar.
"Dan 2019 ini, Indonesia akan menjadi leader publikasi internasional di Asia Tenggara," kata dia.
Sementara di posisi ketiga ada Singapura dengan 22 ribu dan Thailand di sekitar 18 ribu publikasi internasional.
Ia menjelaskan, angka terbaru itu begitu tinggi jika dibandingkan dengan kondisi 20 tahun yang lalu yang masih jauh tertinggal dari Singapura dan Thailand.
"Sejak 20 tahun lalu, publikasi kita begitu sulit mengalahkan Thailand dalam riset," ujarnya.
Kondisi itu tetap berlanjut pada 2014 dimana publikasi internasional Indonesia baru diangka 5.250 diatasi Thailand (9.500), Singapura (18 ribu) serta Malaysia di posisi teratas dengan 28 publikasi.
Menurut dia, dari berbagai kebijakan dan arahan dari presiden, maka perlu dilakukan perubahan mendasar, melakukan koordinasi dengan berbagai lembaga yang pada akhirnya memberikan hasil yang maksimal.
"Riset itu mulai bentuk teknologi, tingkat kesiapan teknologi.riset dasar terapan, pengembangan dan inovasi kemudian kita akan kelompokkan. Jangan sampai berulang-ulang.
Riset di peternakan, koordinasi dengan lembaga lain termasuk lembaga kementerian pertanian," sebut dia.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menristek resmikan Science Techno Park Unhas di hari terakhir jabatannya
09 April 2021 21:04 WIB, 2021
Menristek: Pemerintah targetkan penggunaan Vaksin Merah Putih pada 2022
08 April 2021 20:01 WIB, 2021
Menristek: Indonesia tingkatkan kemampuan pengembangan vaksin COVID-19
25 February 2021 21:04 WIB, 2021
Menristek: Indonesia terus lacak varian baru COVID-19 melalui peningkatan WGS
25 February 2021 21:02 WIB, 2021
Menteri: Teknologi tepat guna harus relevan dengan kebutuhan masyarakat
23 February 2021 15:53 WIB, 2021
Menristek: Mutasi virus corona SARS-CoV-2 berpengaruh pada efikasi vaksin
15 February 2021 14:27 WIB, 2021
Menristek: GeNose dapat digunakan untuk 100 ribu tes skrining COVID-19
03 February 2021 9:12 WIB, 2021
Menristek berharap vaksin Merah Putih dapat izin darurat di akhir 2021
28 January 2021 19:43 WIB, 2021