Sapi mati mendadak terjadi lagi di Gunung Kidul
Selasa, 27 Agustus 2019 17:46 WIB
Petugas kesehatan hewan mengubur sapi mati mendadak di Desa Bejiharjo, Kabupaten Gunung Kidul. (Foto ANTARA/Sutarmi)
Gunung Kidul (ANTARA) - Seekor sapi mati secara mendadak lagi terjadi di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (27/8) pagi.
Sapi betina yang mati merupakan ternak milik Sunaryo warga Padukuhan Kulwo, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo.
Kejadian matinya sapi betina di Bejiharjo berawal saat pemilik sapi, Sunaryp pada pukul 05.00 WIB hendak memberi minum, tetapi sapi sudah dalam kondisi roboh. Semula pemilik hanya mengira jika sapinya hanya tidak mau berdiri saja. Saat ditepuk-tepuk tidak ada respon dan dilakukan pengecekan baru diketahui jika sapi sudah dalam kondisi mati.
"Saya kemudian melaporkan kejadian ini kepada kepala dusun untuk dilakukan pemeriksaan secara bersama-sama. Sebenarnya tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan sebelum sapi betina itu mati, penurunan suhu atau napsu gmmakan pun juga tidak terlihat," kata Sunaryo di Gunung Kidul, Selasa.
Petugas Dinas Pertanian dan Pangan, Dokter Hewan dan sejumlah lini terkait telah melakukan pengecekan pada sapi tersebut, saat ini sapi itu juga telah dikubur di lingkungan sekitar.
"Ada laporan dari warga kemudian petugas kesehatan hewan terjun ke lokasi untuk pengecekan," terang Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto saat dikonfirmasi.
Adapun dari dinas dan petugas terkait kemudian melakukan pengecekan kondisi pada tumbuh sapi tersebut. Setelah dilakukan penanganan dan pengecekan, petugas kemudian mengubur bangkai sapi tersebut di lingkungan sekitar.
Bambang mengatakan sapi betina itu berusia sekitar tiga tahun. Petugas telah mengambil sampel darah, suap lubang tubuh, sampel tanah di kandang, dan pakan yang semula diberikan oleh pemilik ternak. Selanjutnya petugas mengirim sampel-sampel tersebut ke laboratorium untuk dilakukan pengecekan.
"Sudah kami tangani, sampel yang diambil dikirim ke BB Veteriner untuk uji laboratorium," tambah dia.
Uji lab yang dimaksud untuk mengetahui penyebab matinya hewan ternak tersebut, apakah karena anthrax atau penyakit dan sebab lainnya. Kejadian ini sendiri, mengingatkan beberapa waktu lalu mengenai sejumlah sapi yang mati lantaran virus anthrax dan penyakit lainnya.
"belum bisa memastikan penyebabnya apa. Hasil uji laboratorium baru dikirim beberapa hari kedepan baru bisa diketahui," kata dia.
Sapi betina yang mati merupakan ternak milik Sunaryo warga Padukuhan Kulwo, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo.
Kejadian matinya sapi betina di Bejiharjo berawal saat pemilik sapi, Sunaryp pada pukul 05.00 WIB hendak memberi minum, tetapi sapi sudah dalam kondisi roboh. Semula pemilik hanya mengira jika sapinya hanya tidak mau berdiri saja. Saat ditepuk-tepuk tidak ada respon dan dilakukan pengecekan baru diketahui jika sapi sudah dalam kondisi mati.
"Saya kemudian melaporkan kejadian ini kepada kepala dusun untuk dilakukan pemeriksaan secara bersama-sama. Sebenarnya tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan sebelum sapi betina itu mati, penurunan suhu atau napsu gmmakan pun juga tidak terlihat," kata Sunaryo di Gunung Kidul, Selasa.
Petugas Dinas Pertanian dan Pangan, Dokter Hewan dan sejumlah lini terkait telah melakukan pengecekan pada sapi tersebut, saat ini sapi itu juga telah dikubur di lingkungan sekitar.
"Ada laporan dari warga kemudian petugas kesehatan hewan terjun ke lokasi untuk pengecekan," terang Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto saat dikonfirmasi.
Adapun dari dinas dan petugas terkait kemudian melakukan pengecekan kondisi pada tumbuh sapi tersebut. Setelah dilakukan penanganan dan pengecekan, petugas kemudian mengubur bangkai sapi tersebut di lingkungan sekitar.
Bambang mengatakan sapi betina itu berusia sekitar tiga tahun. Petugas telah mengambil sampel darah, suap lubang tubuh, sampel tanah di kandang, dan pakan yang semula diberikan oleh pemilik ternak. Selanjutnya petugas mengirim sampel-sampel tersebut ke laboratorium untuk dilakukan pengecekan.
"Sudah kami tangani, sampel yang diambil dikirim ke BB Veteriner untuk uji laboratorium," tambah dia.
Uji lab yang dimaksud untuk mengetahui penyebab matinya hewan ternak tersebut, apakah karena anthrax atau penyakit dan sebab lainnya. Kejadian ini sendiri, mengingatkan beberapa waktu lalu mengenai sejumlah sapi yang mati lantaran virus anthrax dan penyakit lainnya.
"belum bisa memastikan penyebabnya apa. Hasil uji laboratorium baru dikirim beberapa hari kedepan baru bisa diketahui," kata dia.
Pewarta : Sutarmi
Editor : Suriani Mappong
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden Prabowo teken UU tentang Penyesuaian Pidana, hukuman mati hingga ITE diubah
03 January 2026 5:43 WIB
Lima nelayan terombang-ambing di laut Barrang Lompoa setelah mesin kapal mati
02 January 2026 20:11 WIB
Zelensky: PLTN Zaporizhzhia harga mati bagi Ukraina, tidak dinegosiasikan
28 December 2025 12:46 WIB
Buaya Riau dikirim ke Jakarta untuk diawetkan, di perutnya ada TV dan pisau
23 November 2025 9:04 WIB
Keluarga korban pembunuhan jurnalis Kalsel kecewa oknum TNI AL tak dituntut pidana mati
04 June 2025 15:16 WIB
Terpopuler - Sejagat
Lihat Juga
Peneliti Unhas kenalkan lalat buah sebagai model riset strategis berbagai bidang
11 February 2026 4:35 WIB
PM Anwar tolak desakan oposisi soal isu penyerahan lahan di perbatasan Sabah-Kalimantan ke Indonesia
31 January 2026 6:15 WIB
Meski cuaca buruk, Basarnas lanjutkan cari korban kecelakaan pesawat di Bulusaraung
21 January 2026 4:43 WIB
Warga binaan di Sulawesi Selatan hasilkan 2,6 ton bahan pangan saat panen raya
16 January 2026 19:32 WIB
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad dilarikan ke rumah sakit usai terjatuh
06 January 2026 11:22 WIB
Mantan PM Malaysia Najib Razak dijatuhi hukuman 15 tahun penjara atas 25 dakwaan
27 December 2025 6:20 WIB