Makassar (ANTARA) - Sarung sutera Bugis yang bahasa daerah di Sulawesi Selatan "lipa sabbe", sudah tercatat dalam karya sastra terpanjang di dunia "Sureq I Lagaligo" sebagai hasil karya persilangan budaya melalui jalur perdagangan dunia sejak abad XIV - XVII.

Sutera Bugis ini adalah salah satu dari kekayaan budaya Indonesia yang terkenal dengan aneka tenun khasnya di masing-masing daerah.

Tak heran, jika pengembangan tenun sutera dilakukan secara turun-temurun di daerah sentra produksi misalnya di Sulsel tercatat dua daerah yang terkenal sebagai produsen "lipa sabbe" yakni Sengkang di Kabupaten Wajo dan Kabupaten Soppeng.

Kain tenun berbahan sutera ini, tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, namun juga memiliki fungsi sosial, ekonomi, agama, estetika dan aspek-aspek lainnya dalam kehidupan masyarakat Sulsel dan Suku Bugis pada khususnya.

Wajar jika harga kain tenun sutera ini harganya dapat mencapai jutaan rupiah. Bukan hanya karena dilihat dari kualitas bahan yang digunakan, namun juga penghargaan terhadap proses dan nilai-nilai yang dikandung dari hasil budaya itu.

Kendati sutera di Sulsel sempat mengalami pasang surut, bahkan sempat terpinggirkan ketika produk kain impor memberondong masuk pasar nasional, namun para penenun di Sengkang tetap kukuh mempertahankan amanah leluhur untuk memproduksi sutera di tengah serba keterbatasan.

Seiring perkembangan zaman, sebagian generasi milenial mungkin tak mengenal lagi sarung atau kain sutera khas Bugis, karena mereka lebih sibuk dengan gawainya dengan sejumlah aplikasi yang menarik seperti Youtube atau Tik Tok yang dapat membuat mereka dalam sekejap menjadi terkenal.

Namun saat pandemi COVID-19 melanda Indonesia, semua pihak sempat tersentak dan akhirnya para pengambil kebijakan mulai tersadar untuk menguatkan potensi lokal untuk mendukung ekonomi nasional, tidak bergantung dengan produk impor seperti yang selama ini sudah dijalani.

Dunia pendidikan misalnya, ketika program belajar di rumah (home Schooling) ditetapkan pemerintah bagi semua pelajar, maka salah satu media yang menjadi kanal untuk proses belajar mengajar itu, TVRI menyajikan pembelajaran tentang seluk-beluk kain sutera untuk Sekolah Dasar kelas 4 hingga kelas 6.

Mulailah kain tenun sutera Sengkang itu diulas kembali, sekaligus untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman terhadap potensi lokal yang dimiliki Sulsel.

Produksi kain tradisional khas Sulsel ini sejak ratusan tahun lalu itu awalnya dikembangkan di Desa Pakanna, Kecamatan Tanasitolo, yang kini dikenal sebagai kampung penenun. Bahkan sebelumnya, warga desa ini pula dikenal sebagai petani sutera yang ulet.

Selain di Desa Pakanna, juga terdapat satu desa yang ibu rumah tangganya menekuni kerajinan membuat 'lipa sabbe' secara turun-temurun yakni Dusun Empagae, Desa Assorajang.

Kedua kampung sutera ini, kerap dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara yang ingin melihat dari dekat proses pembuatan kain sutera dan produk-produk turunannya seperti kerajinan kipas, tas, sepatu dan asesoris dari bahan sutera.

Bahkan Pemkab Wajo pun sudah memasukkan kampung sutera itu sebagai salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi, selain Danau Tempe yang merupakan wisata alam dengan segala keindahan dan keunikannya.

Hal itu dibenarkan oleh salah seorang pemuka masyarakat di kampung sutera tersebut, Ambo Ali.

Menurut lelaki yang sudah menjelang satu abad ini, baik pemerintah ataupun swasta sudah memberikan perhatian pada para penenun dengan memberikan bantuan berupa alat, permodalan maupun keterampilan hingga pemasaran.

"Alhamdulillah, kehidupan masyarakat sudah meningkat dari sebelumnya," katanya. Ilustasi kain sutera khas Bugis yang dikenal dengan sebutan "lipa sabbe" menjadi salah satu warisan budaya di Sulawesi Selatan, dijual di salah satu Butik Sutera di Makassar, Minggu (28/6/2020). ANTARA Foto/ Suriani Mappong

Kembalikan Kejayaan

Mengingat pentingnya persuteraan di Sulsel ini dikembangkan untuk melestarikan budaya dan karya seni, maka tidak tanggung-tanggun Pemprov Sulsel menganggarkan Rp18 miliar untuk mengembalikan kejayaan sutera di daerah ini.

Hal itu dilansir Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah pada medio Januari 2020 sebelum terjadi pandemi COVID-19.

Anggaran tersebut akan diperuntukkan untuk seluruh proses pembuatan sutera, mulai dari budi daya ulat sutera, pembuatan kokon, pemintalan benang, desain, pengendalian mutu, pengembangan tenaga ahli, hingga proses pemasaran.

Khusus untuk produksi sutera, alokasi anggarannya sebanyak Rp11,6 miliar ditempatkan pada Dinas Perindustrian Sulsel, sementara sisanya sebanyak dialokasikan di Dinas Kehutanan Sulsel.

Gubernur Sulsel pun sudah menjajaki kerja sama dengan India yang memiliki latarbelakang yang sama di bidang persuteraan. Hal itu mengemuka ketika Duta Besar India untuk Indonesia Pradeep Kumar awat melakukan audiensi dengan gubernur pada awal 2020.

Gubernur pun saat itu berjanji akan mengirim pelajar Sulsel ke India untuk belajar persuteraan dan cara pengembangannya. Pasalnya dalam kurun tiga dekade terakhir, produksi sutera Sulsel mengandalkan bahan baku sutera dari India atau China, karena produksi sutera lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan para penenun sutera.

Sementara dari sisi promosi, berbagai ajang untuk memperkenalkan sutera secara global telah dilakukan diantaranya membuat festival persuteraan dan pemilihan Puteri Sutera.

Salah seorang pemenang lomba pemilihan Puteri Sutera Sulsel 2017, Dinar Wahyuni yang juga adalah puteri asal Kabupaten Wajo ini mengaku, sangat bangga dan bersyukur mendapatkan kepercayaan sebagai pemenang pertama.

Dengan predikat tersebut, ungkap alumni Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Puangrimaggalatung (Prima) Sengkang, Kabupaten Wajo ini, ia akan terus membantu pemerintah daerah dan provinsi untuk menggaungkan sutera khas daerah Sulsel sebagai salah satu kekayaan budaya nasional ke mancanegara.




 

Pewarta : Suriani Mappong
Editor : Redaktur Makassar
Copyright © ANTARA 2024