Parni Hadi : Jurnalisme Damai Mengeliminasi Konflik Sosial
Sabtu, 2 Oktober 2010 21:04 WIB
Makassar (ANTARA News) - Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia Parni Hadi mengatakan, jurnalisme damai akan mengeliminasi terjadinya konflik sosial, sehingga patut diterapkan oleh setiap wartawan.
"Untuk menjaga eksistensi negara kesatuan Republik Indonesia, peran media massa sangat penting, karena itu salah satu upaya yang harus dilakukan adalah menggiatkan jurnalisme damai," katanya di Makassar, Sabtu.
Menurut Parni, disela-sela acara serah acara terima jabatan Kepala Stasiun LPP RRI Makassar dari Martoyo kepada I Made Ardika, tugas utama seorang wartawan adalah menyampaikan fakta kepada masyarakat, namun di sisi lain, wartawan juga harus memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi.
"Wartawan tidak semata-mata menyiarkan fakta, tetapi juga harus memikirkan dampak yang ditimbulkan dari produk beritanya itu, karena bisa saja itu justeru menjadi provokasi," katanya.
Hal senada dikemukakan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel Zulkifli Gani Otto pada kesempatan yang sama.
Dia mengatakan, semua organisasi wartawan mengakui pentingnya kebebasan pers itu, namun harus disadari menjaga keutuhan bangsa dan negara jauh lebih penting.
"Kita dapat saja memberitakan fakta-fakta di lapangan, namun tetap harus melindungi kepentingan yang lebih besar dengan tidak memberitakan suatu kejadian secara fulgar yang dapat memancing emosi," katanya.(T.S036/S016)Â
"Untuk menjaga eksistensi negara kesatuan Republik Indonesia, peran media massa sangat penting, karena itu salah satu upaya yang harus dilakukan adalah menggiatkan jurnalisme damai," katanya di Makassar, Sabtu.
Menurut Parni, disela-sela acara serah acara terima jabatan Kepala Stasiun LPP RRI Makassar dari Martoyo kepada I Made Ardika, tugas utama seorang wartawan adalah menyampaikan fakta kepada masyarakat, namun di sisi lain, wartawan juga harus memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi.
"Wartawan tidak semata-mata menyiarkan fakta, tetapi juga harus memikirkan dampak yang ditimbulkan dari produk beritanya itu, karena bisa saja itu justeru menjadi provokasi," katanya.
Hal senada dikemukakan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel Zulkifli Gani Otto pada kesempatan yang sama.
Dia mengatakan, semua organisasi wartawan mengakui pentingnya kebebasan pers itu, namun harus disadari menjaga keutuhan bangsa dan negara jauh lebih penting.
"Kita dapat saja memberitakan fakta-fakta di lapangan, namun tetap harus melindungi kepentingan yang lebih besar dengan tidak memberitakan suatu kejadian secara fulgar yang dapat memancing emosi," katanya.(T.S036/S016)Â
Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden Prabowo bertukar pandangan dengan Abraham Samad soal pemberantasan korupsi
02 February 2026 13:34 WIB
Presiden Prabowo koreksi desain IKN, tambah embung hingga antisipasi karhutla
16 January 2026 5:49 WIB
Istana kaji usul DPR agar status Bulog bukan lagi Perum, melainkan kementerian
13 October 2025 4:56 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Panitia MTQ Korpri Nasional 2026 menyiapkan 12 lomba di Makassar dan Pangkep
15 February 2026 22:49 WIB
Pemkot Makassar imbau spirit perjuangan Gaza jadi inspirasi ASN berkinerja
15 February 2026 12:48 WIB
Kodaeral VI bersihkan pantai Kepulauan Selayar dukung program Infonesia ASRI
14 February 2026 5:15 WIB
Wali Kota Makassar: Pembangunan jembatan di Romang Tanganyya agar siswa tidak naik sampan
13 February 2026 20:35 WIB