Makassar, 6/11(ANTARA) - Capres usungan Partai Bintang Reformasi, Rizal Ramli akan menggarap suara pemuda jelang Pemilu 2009. Itu dikemukakan sebelum memberi ceramah di Muktamar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia di Makassar, Kamis.

Menurut analisis Rizal Ramli, krisis global telah mengakibatkan terjadinya perubahan demografi di Indonesia dalam berbagai aspek.

Salah satunya adalah adalah perubahan pada komposisi pemilih.

"Akibat krisis global, pemilih terbanyak di pemilu 2009 nanti terbanyak berusia di bawah 40 tahun. Ini yang akan saya garap," ujarnya.

Jika pada pemilu 2004 PBR mampu meraih 2,54 persen suara, maka dengan potensi suara muda ini, ia yakin pada pemilu 2009 partai tersebut mampu meraup hingga tujuh persen. PBR, katanya, akan jadi magnet perubahan.

Untuk itu, ia telah menetapkan satu langkah utama, yakni akan melakukan kampanye total di segmen pemuda.

Selain itu, untuk meloloskannya dalam upaya menuju kursi kepresidenan, PBR telah berkoalisi dengan Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI).

"Pekerja itu banyak juga jumlahnya di Indonesia . Karena PPPI mewadahi mereka, jadi kita gandeng juga," katanya.

Dia menjelaskan bahwa pengurus DPP PBR sampai saat ini belum berniat melakukan judicial review terhadap UU Pilpers.

Mereka, katanya, masih sementara melakukan hubungan dengan sejumlah partai lain, berupa negosiasi kesepakan-kesepakatan. Sehingga sampai saat ini langkah hukum tersebut belum perlu dilakukan.

Terlebih, rakyat Indonesia menurutnya adalah pemilih yang sulit diperkirakan pilihannya. Dijelaskan, hanya seperempat saja dari jumlah pemilih yang berkategori pemilih tetap. Sisanya adalah pemilih mengambang yang bisa merubah keputusan politiknya dalam sekejap.

Beda dengan pemilih Amerika yang sekali memilih Demokrat, tetap Demokrat. Jadi apapun yang terjadi, kami tetap optimis dan siap tempur untuk itu, ujarnya.

Rizal mengutarakan keyakinannya dapat dipilih oleh segenap komponen bangsa. Namun meski tidak menyebutkan secara konkrit, ia mengakui akan melakukan sejumlah terobosan dan perubahan di Indonesia.

"Contohnya, prestasi tingkat pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4,8 persen dari target 2 persen saat saya menjadi Menko Perekonomian RI selama 15 bulan. Selain itu saya pernah menyilangkan manajemen kepemilikan Telkom dan Indosat yang berujung pada keuntungan Rp4,7 triliun," ujarnya. ***3***
(T.PK-AAT/B/F003/F003) 06-11-2008 15:13:46