Kasus COVID-19 pascagempa Sulbar meningkat drastis
Jumat, 19 Februari 2021 21:06 WIB
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Sulbar Safaruddin Sanusi. (ANTARA/Amirullah)
Mamuju (ANTARA) - Kasus positif COVID-19 di Provinsi Sulawesi Barat pascadaerah itu diguncang gempa bumi berkekuatan 6, 2 magnitudo mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar dr Didi Asran, di Mamuju, Jumat mengatakan, sebelum gempa, yakni pada 6 Januari 2021, kasus positif COVID-19 sebanyak 2.020 kasus dan meningkat lebih 100 persen pada 10 Februari 2021 menjadi 4.701 kasus.
"Bahkan, per 19 Februari 2021 jumlahnya sudah mencapai 5.042 orang yang terpapar COVID-19," kata Didi Asran.
Ia mengingatkan masyarakat agar tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.
"Adanya pengungsian dan menggejalanya masyarakat yang kurang disiplin lagi pascagempa, membuka ruang bagi meningkatnya orang yang positif COVID-19. Untuk itu, saya meminta seluruh masyarakat Sulbar agar kembali peduli dan waspada dengan risiko tertular COVID-19," tutur Didi Asran.
Didi Asran yang baru menjabat Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan menggantikan dr Muhammad Alief Satria yang meninggal akibat terpapar COVID-19 menyatakan, akan melanjutkan pola yang dilakukan oleh pejabat sebelumnya dalam hal pencegahan penyebaran COVID-19.
Salah satunya lanjut dia, yakni akan lebih memaksimalkan lagi para tenaga kesehatan untuk terus memantau dan mengantisipasi perkembangan penyebaran COVID-19 melalui pola 3T atau testing, tracing alias penelusuran kontak erat dan treatment atau tindak lanjut berupa perawatan pada pasien COVID-19.
"Bencana gempa bumi ini memang memberi dampak yang luar biasa. Tetapi kita harus tetap peduli dengan COVID-19. Bahkan seharusnya harus lebih waspada lagi," tegas Didi Irsan.
Sementara, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Sulbar Safaruddin Sanusi mengatakan, walaupun sosialisasi pencegahan penyebaran COVID-19 telah masif dilakukan, namun suasana pascagempa, menyebabkan potensi penyebaran COVID-19 semakin terbuka.
Apalagi lanjutnya, masyarakat seakan tak lagi menggubris akan bahaya dari virus COVID-19.
"Sekarang karena situasi sudah mulai agak tenang, saya harap masyarakat mulai kembali disiplin. Sebab bagaimana pun, kalau tak ada disiplin masyarakat menerapkan protokoler kesehatan, akan sulit menekan penyebaran COVID-19," ujarnya.
"Jadi untuk menekan penyebaran COVID-19, mari kita hilangkan sikap menganggap remeh COVID-19. Jaga keselamatan diri kita, keluarga dan orang lain. Sebelum ini bertambah parah, selain 3T, kunci memutus mata rantai penyebaran COVID-19 adalah 3M (memakai masker, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak)," tegas Safaruddin.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar dr Didi Asran, di Mamuju, Jumat mengatakan, sebelum gempa, yakni pada 6 Januari 2021, kasus positif COVID-19 sebanyak 2.020 kasus dan meningkat lebih 100 persen pada 10 Februari 2021 menjadi 4.701 kasus.
"Bahkan, per 19 Februari 2021 jumlahnya sudah mencapai 5.042 orang yang terpapar COVID-19," kata Didi Asran.
Ia mengingatkan masyarakat agar tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.
"Adanya pengungsian dan menggejalanya masyarakat yang kurang disiplin lagi pascagempa, membuka ruang bagi meningkatnya orang yang positif COVID-19. Untuk itu, saya meminta seluruh masyarakat Sulbar agar kembali peduli dan waspada dengan risiko tertular COVID-19," tutur Didi Asran.
Didi Asran yang baru menjabat Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan menggantikan dr Muhammad Alief Satria yang meninggal akibat terpapar COVID-19 menyatakan, akan melanjutkan pola yang dilakukan oleh pejabat sebelumnya dalam hal pencegahan penyebaran COVID-19.
Salah satunya lanjut dia, yakni akan lebih memaksimalkan lagi para tenaga kesehatan untuk terus memantau dan mengantisipasi perkembangan penyebaran COVID-19 melalui pola 3T atau testing, tracing alias penelusuran kontak erat dan treatment atau tindak lanjut berupa perawatan pada pasien COVID-19.
"Bencana gempa bumi ini memang memberi dampak yang luar biasa. Tetapi kita harus tetap peduli dengan COVID-19. Bahkan seharusnya harus lebih waspada lagi," tegas Didi Irsan.
Sementara, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Sulbar Safaruddin Sanusi mengatakan, walaupun sosialisasi pencegahan penyebaran COVID-19 telah masif dilakukan, namun suasana pascagempa, menyebabkan potensi penyebaran COVID-19 semakin terbuka.
Apalagi lanjutnya, masyarakat seakan tak lagi menggubris akan bahaya dari virus COVID-19.
"Sekarang karena situasi sudah mulai agak tenang, saya harap masyarakat mulai kembali disiplin. Sebab bagaimana pun, kalau tak ada disiplin masyarakat menerapkan protokoler kesehatan, akan sulit menekan penyebaran COVID-19," ujarnya.
"Jadi untuk menekan penyebaran COVID-19, mari kita hilangkan sikap menganggap remeh COVID-19. Jaga keselamatan diri kita, keluarga dan orang lain. Sebelum ini bertambah parah, selain 3T, kunci memutus mata rantai penyebaran COVID-19 adalah 3M (memakai masker, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak)," tegas Safaruddin.
Pewarta : Amirullah
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gempa Magnitudo 7,1 guncang Melonguane Sulawesi Utara, tidak berpotensi tsunami
11 January 2026 6:36 WIB
Gempa magnitudo 3,9 di Gayo Lues Aceh akibat adanya aktivitas Sesar Besar Sumatra
25 December 2025 23:00 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Menhut: Lestarikan keanekaragaman hayati dan kerajaan kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung
28 January 2026 19:50 WIB
Munafri perkuat mobilitas perkotaan inklusif melalui Forum Indonesia on the Move
28 January 2026 17:13 WIB
Pemkot Makassar dan Balai Cipta Karya bahas hibah alat deteksi air JICA Jepang
28 January 2026 5:19 WIB
Lindungi karya dosen dan mahasiswa, Kemenkum Sulbar - Universitas Tomakaka bentuk Sentra KI
27 January 2026 18:21 WIB
Pemprov Sulsel serahkan santunan kepada keluarga Farhan korban kecelakaan ATR 42-500
27 January 2026 15:08 WIB