Cathay Pacific rugi Rp11 triliun sepanjang 2021, dan bakal terus "bakar uang"
Selasa, 25 Januari 2022 15:35 WIB
Arsip - Pesawat Boeing 777-300ER Cathay Pacific mendarat di bandara Hong Kong, China, 2019. ANTARA/Reuters/Thomas Peter/aa.
Beijing (ANTARA) - Cathay Pacific mengalami kerugian senilai 6,1 miliar dolar HK (Rp11,2 triliun) sepanjang tahun 2021 akibat pembatasan penerbangan di Hong Kong terkait pandemi COVID-19.
Maskapai penerbangan Hong Kong itu siap "membakar uang" 1-1,5 miliar dolar HK per bulan mulai Februari mendatang, menurut media penyiaran China yang dipantau dari Beijing, Selasa.
Cathay memperkirakan akan membukukan kerugian tahunan sebesar 5,6-6,1 miliar dolar HK selama 2021, jauh di bawah perkiraan 12 analis yang disurvei oleh Refinitiv.
Saat ini Cathay memperketat kebijakan karantina terhadap para awak kabinnya menyusul pelanggaran yang dilakukan oleh dua awaknya saat menjalani karantina mandiri di rumah yang memicu terjadinya klaster pertama Omicron di Hong Kong.
CEO Cathay Augustus Tang menyebutkan satu sektor yang masih bisa menghasilkan uang, yakni kargo, pada bulan Januari ini mengalami penurunan kapasitas hingga 20 persen, sedangkan sektor penumpang juga berkurang dua 2 persen.
"Kami mengerahkan segala upaya kami untuk memaksimalkan kapasitas angkut sampai situasi membaik dan mengambil langkah-langkah mitigasi untuk meningkatkan sumber daya awak sehingga memungkinkan kami bisa mengoperasikan sekitar 5 persen tambahan kapasitas penerbangan kargo," ujarnya.
Cathay terpukul oleh pandemi karena telah menghentikan sebagian besar jadwal penerbangan internasional, seperti yang dialami kebanyakan maskapai global.
Sementara itu, kapasitas penumpang Singapore Airlines, kompetitor Cathay, pada bulan Januari diperkirakan sebesar 47 persen dan Februari hanya 45 persen dari kapasitas sebelum pandemi COVID-19.
Maskapai penerbangan Hong Kong itu siap "membakar uang" 1-1,5 miliar dolar HK per bulan mulai Februari mendatang, menurut media penyiaran China yang dipantau dari Beijing, Selasa.
Cathay memperkirakan akan membukukan kerugian tahunan sebesar 5,6-6,1 miliar dolar HK selama 2021, jauh di bawah perkiraan 12 analis yang disurvei oleh Refinitiv.
Saat ini Cathay memperketat kebijakan karantina terhadap para awak kabinnya menyusul pelanggaran yang dilakukan oleh dua awaknya saat menjalani karantina mandiri di rumah yang memicu terjadinya klaster pertama Omicron di Hong Kong.
CEO Cathay Augustus Tang menyebutkan satu sektor yang masih bisa menghasilkan uang, yakni kargo, pada bulan Januari ini mengalami penurunan kapasitas hingga 20 persen, sedangkan sektor penumpang juga berkurang dua 2 persen.
"Kami mengerahkan segala upaya kami untuk memaksimalkan kapasitas angkut sampai situasi membaik dan mengambil langkah-langkah mitigasi untuk meningkatkan sumber daya awak sehingga memungkinkan kami bisa mengoperasikan sekitar 5 persen tambahan kapasitas penerbangan kargo," ujarnya.
Cathay terpukul oleh pandemi karena telah menghentikan sebagian besar jadwal penerbangan internasional, seperti yang dialami kebanyakan maskapai global.
Sementara itu, kapasitas penumpang Singapore Airlines, kompetitor Cathay, pada bulan Januari diperkirakan sebesar 47 persen dan Februari hanya 45 persen dari kapasitas sebelum pandemi COVID-19.
Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
IBL 2024 - Eks pemain NBA Portland Trail Blazers perkuat Pacific Caesar Surabaya
16 April 2024 6:29 WIB, 2024
Indonesia perkuat hubungan dengan Pasifik dalam keketuaan ASEAN pada 2023
07 December 2022 10:19 WIB, 2022
Kemenperin memfasilitasi industri drone ke Singapura unjuk teknologi
18 October 2022 12:28 WIB, 2022
Panglima: Latihan bersama US Special Operation Command Pacific kesempatan prajurit TNI perluas koneksi
29 July 2022 12:33 WIB, 2022
Indonesia wakili ASEAN bahas solusi konflik Rusia-Ukraina di APG IPU ke-144
20 March 2022 11:56 WIB, 2022
Polisi Australia akan mendakwa wanita pembakar hotel karantina COVID
28 November 2021 20:18 WIB, 2021
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Pemkot Makassar perketat pengawasan harga pangan jelang Ramadhan dan Imlek
14 February 2026 5:17 WIB