Diproyeksikan tumbuh jangka panjang, buyback BBRI akan jadi katalis positif
Senin, 21 Februari 2022 15:53 WIB
Kantor Pusat Bank BRI (ANTARA/HO-BRI)
Jakarta (ANTARA) - Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso meyakini rencana pembelian kembali (buyback) saham PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk atau BBRI senilai Rp 3 triliun akan menjadi katalis positif dan diapresiasi oleh investor di pasar modal.
Menurut Aria, saham BBRI diprediksi memiliki potensi pertumbuhan yang meyakinkan dalam jangka panjang. BRI memiliki profitabilitas kuat yang tercermin dari raihan laba bersih perseroan yang sebesar Rp32,22 triliun atau tumbuh 75,53 persen (yoy) pada 2021.
"Masih bisa diharapkan bahwa manajemen mampu mengatasi kondisi saat ini untuk bertumbuh dan melewati masa krisis. Terbukti dari berbagai masa krisis yang sudah pernah diatasi di masa lalu. Kinerja saham BBRI masih akan bertumbuh secara jangka panjang," ujar Aria dalam keterangan di Jakarta, Senin.
BRI juga dinilai Aria sanggup menjawab tantangan di industri perbankan secara meyakinkan pada tahun lalu. Hal itu tampak dari pertumbuhan kredit BRI yang mencapai 7,1 persen (yoy) atau di atas industri perbankan nasional sebesar 5,24 persen (yoy).
Dari segi manajemen risiko, BRI berhasil mengendalikan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) di level 3,08 persen. Pengelolaan risiko yang solid tersebut juga ditunjang oleh NPL Coverage yang kuat di level 278,1 persen.
Dari segi pendanaan, BRI mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak ketiga (DPK) sebesar 7,1 persen (yoy) menjadi Rp1.138,7 triliun. Lebih rinci, tabungan mendominasi sebesar Rp497,68 triliun, giro tercatat sebesar Rp220,59 triliun, dan deposito sebesar Rp420,48 triliun.
Dengan kinerja yang sehat tersebut, Aria optimistis saham BBRI bisa menyentuh level Rp5.000.
"Oleh karena itu, angka target price di level 5.000 cukup realistis di saat ini. Bahkan skenario optimis sampai di level 5.250," kata Aria.
Di saat yang bersamaan, BRI berupaya meningkatkan loyalitas InsanBRILian (Pekerja BRI) melalui skema Employee Stock Option Plan (ESOP) yang akan ditempuh dalam buyback senilai Rp3 triliun mendatang. Aksi buyback itu, lanjut Aria, juga mengindikasikan optimisme kinerja keuangan BRI.
Perkiraan nilai buyback saham tersebut belum termasuk biaya komisi perantara pedagang efek lainnya, yakni sekitar 0,33 persen dari nilai buyback. Buyback diperkirakan akan dilaksanakan pada rentang 1 Maret 2022 hingga 31 Agustus 2023.
"Walaupun secara laporan keuangan akan terpengaruh di jangka pendek, kita berharap menjadi sentimen positif di jangka menengah. Secara jangka panjang, BBRI masih baik dijadikan salah satu pilihan investasi," ujar Aria.
Menurut Aria, saham BBRI diprediksi memiliki potensi pertumbuhan yang meyakinkan dalam jangka panjang. BRI memiliki profitabilitas kuat yang tercermin dari raihan laba bersih perseroan yang sebesar Rp32,22 triliun atau tumbuh 75,53 persen (yoy) pada 2021.
"Masih bisa diharapkan bahwa manajemen mampu mengatasi kondisi saat ini untuk bertumbuh dan melewati masa krisis. Terbukti dari berbagai masa krisis yang sudah pernah diatasi di masa lalu. Kinerja saham BBRI masih akan bertumbuh secara jangka panjang," ujar Aria dalam keterangan di Jakarta, Senin.
BRI juga dinilai Aria sanggup menjawab tantangan di industri perbankan secara meyakinkan pada tahun lalu. Hal itu tampak dari pertumbuhan kredit BRI yang mencapai 7,1 persen (yoy) atau di atas industri perbankan nasional sebesar 5,24 persen (yoy).
Dari segi manajemen risiko, BRI berhasil mengendalikan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) di level 3,08 persen. Pengelolaan risiko yang solid tersebut juga ditunjang oleh NPL Coverage yang kuat di level 278,1 persen.
Dari segi pendanaan, BRI mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak ketiga (DPK) sebesar 7,1 persen (yoy) menjadi Rp1.138,7 triliun. Lebih rinci, tabungan mendominasi sebesar Rp497,68 triliun, giro tercatat sebesar Rp220,59 triliun, dan deposito sebesar Rp420,48 triliun.
Dengan kinerja yang sehat tersebut, Aria optimistis saham BBRI bisa menyentuh level Rp5.000.
"Oleh karena itu, angka target price di level 5.000 cukup realistis di saat ini. Bahkan skenario optimis sampai di level 5.250," kata Aria.
Di saat yang bersamaan, BRI berupaya meningkatkan loyalitas InsanBRILian (Pekerja BRI) melalui skema Employee Stock Option Plan (ESOP) yang akan ditempuh dalam buyback senilai Rp3 triliun mendatang. Aksi buyback itu, lanjut Aria, juga mengindikasikan optimisme kinerja keuangan BRI.
Perkiraan nilai buyback saham tersebut belum termasuk biaya komisi perantara pedagang efek lainnya, yakni sekitar 0,33 persen dari nilai buyback. Buyback diperkirakan akan dilaksanakan pada rentang 1 Maret 2022 hingga 31 Agustus 2023.
"Walaupun secara laporan keuangan akan terpengaruh di jangka pendek, kita berharap menjadi sentimen positif di jangka menengah. Secara jangka panjang, BBRI masih baik dijadikan salah satu pilihan investasi," ujar Aria.
Pewarta : Citro Atmoko
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BRI memblokir 1.049 rekening terindikasi menampung uang judi online hingga Juni 2024
28 June 2024 15:31 WIB, 2024
BPKH gandeng BRI untuk salurkan uang saku jamaah haji senilai Rp542 miliar
26 May 2022 21:51 WIB, 2022
BRI berinisiatif menggali potensi talenta digital RI melalui BRIBRAIN Academy
20 February 2022 14:58 WIB, 2022
BRI catatkan pertumbuhan minat investor milenial hingga 47 persen dalam Wealth Management
18 February 2022 16:13 WIB, 2022
Saham BBRI diproyeksi menembus level Rp5.500 dengan membaiknya optimisme
15 February 2022 13:25 WIB, 2022
Kredit mikro BRI bertumbuh seiring dengan pelaku usaha yang adaptif
14 February 2022 13:03 WIB, 2022
Petugas BRI: Rintangan tak menyurutkan niat salurkan bansos di Merauke
08 February 2022 11:59 WIB, 2022
BRI perkuat digitalisasi demi terwujudnya visi menjadi "Most Valuable Banking 2025"
02 February 2022 11:11 WIB, 2022