63 Persen Kawasan Pesisir Sulbar Rusak
Rabu, 9 Oktober 2013 22:39 WIB
Mamuju (ANTARA Sulbar) - Sekitar 63 persen ekosistem kawasan pesisir di Provinsi Sulawesi Barat mengalami kerusakan yang cukup parah.
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) Provinsi Sulbar, Sarjan Lakki di Mamuju, Rabu mengatakan, sekitar 63 persen kawasan pesisir pantai Provinsi Sulbar yang panjangnya mencapai 700 kilometer mengalami kerusakan yang sangat parah.
Ia mengatakan, data jumlah kerusakan ekosistem pada kawasan pesisir Sulbar berdasarkan data penelitian Universitas Hasanuddin Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Menurut dia, kerusakan ekosistem seperti pada biota laut, terumbu karang dan hutan mengrove di Sulbar itu, akibat ulah manusia yang mengelola hasil laut dengan cara tidak benar misalnya dengan melakukan pemboman ikan, kemudian perluasan industri tambak serta pencemaran laut.
Menurut dia, karena kerusakan yang parah itu maka pemerintah melakukan konversi memanfaatkan lahan kritis itu menjadi sumber penghasilan masyarakat seperti membangun industri perikanan tambak.
Di samping juga dengan melakukan penghijauan kembali dengan menanam pohon mangrove di lahan kritis.
"Ekosistem pesisir pantai mesti dimanfaatkan untuk ekonomi masyarakat di samping juga dijaga agar tidak rusak karena pesisir pantai itu dapat menjadi ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daerah," katanya.
Ia mengatakan, terdapat potensi perikanan yang bernilai ekonomis di kawasan pesisir itu diantaranya potensi perikanan budidaya 16.651 hektare dengan realisasi produksi 34 ribu ton. Nurul H
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) Provinsi Sulbar, Sarjan Lakki di Mamuju, Rabu mengatakan, sekitar 63 persen kawasan pesisir pantai Provinsi Sulbar yang panjangnya mencapai 700 kilometer mengalami kerusakan yang sangat parah.
Ia mengatakan, data jumlah kerusakan ekosistem pada kawasan pesisir Sulbar berdasarkan data penelitian Universitas Hasanuddin Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Menurut dia, kerusakan ekosistem seperti pada biota laut, terumbu karang dan hutan mengrove di Sulbar itu, akibat ulah manusia yang mengelola hasil laut dengan cara tidak benar misalnya dengan melakukan pemboman ikan, kemudian perluasan industri tambak serta pencemaran laut.
Menurut dia, karena kerusakan yang parah itu maka pemerintah melakukan konversi memanfaatkan lahan kritis itu menjadi sumber penghasilan masyarakat seperti membangun industri perikanan tambak.
Di samping juga dengan melakukan penghijauan kembali dengan menanam pohon mangrove di lahan kritis.
"Ekosistem pesisir pantai mesti dimanfaatkan untuk ekonomi masyarakat di samping juga dijaga agar tidak rusak karena pesisir pantai itu dapat menjadi ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan daerah," katanya.
Ia mengatakan, terdapat potensi perikanan yang bernilai ekonomis di kawasan pesisir itu diantaranya potensi perikanan budidaya 16.651 hektare dengan realisasi produksi 34 ribu ton. Nurul H
Pewarta : M Faisal Hanapi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Lindungi karya dosen dan mahasiswa, Kemenkum Sulbar - Universitas Tomakaka bentuk Sentra KI
27 January 2026 18:21 WIB
Kemenkum Sulbar beri perlindungan hukum dengan bantu daftarkan hak cipta 12 buku
27 January 2026 16:27 WIB
Ditlantas Polda Sulbar bangun budaya tertib lalu lintas lewat BTH dari sekolah
26 January 2026 17:40 WIB
Kemenkum dan Kemenham Sulbar sinergi perkuat perlindungan kekayaan intelektual
24 January 2026 18:43 WIB
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Pesawat Smart Air mendarat darurat di pantai Nabire, semua penumpang selamat
27 January 2026 15:12 WIB