Lebanon dalam keadaan perang akibat serangan Israel
Minggu, 30 Juni 2024 11:01 WIB
Arsip - Kepulan asap tebal yang disebabkan oleh serangan Israel terlihat di Majdal Zoun, Lebanon (15/4/2024). Sumber militer Lebanon, yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengatakan Israel pada Senin (15/4) melakukan sembilan serangan udara berturut-turut di enam kota dan desa perbatasan serta menembakkan 40 peluru ke 10 kota dan desa di Lebanon selatan. ANTARA FOTO/Xinhua/Ali Hashisho/aww.
Kairo (ANTARA) - Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati pada Sabtu mengatakan negaranya dalam keadaan perang akibat ancaman dan serangan dari Israel.
"Ancaman yang kita hadapi seperti perang psikologi. Pertanyaan semua orang adalah 'apakah itu perang?' Ya, kita dalam keadaan perang. Akibat serangan Israel, ada banyak korban tewas dari pihak sipil dan non sipil dan desa-desa yang hancur," kata Mikati dalam pernyataan pada Sabtu.
Pada 18 Juni, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa pihaknya telah menyetujui rencana operasional serangan di Lebanon. Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz kemudian mengatakan bahwa Israel "sedikit lagi" memutuskan untuk "mengubah aturan" terhadap Hizbullah dan Lebanon, mengancam akan menghancurkan gerakan tersebut "dalam perang habis-habisan" dan "memukul keras" Lebanon.
Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah mengatakan bahwa gerakan tersebut dapat menyerang Israel utara jika konfrontasi semakin meningkat.
Situasi di perbatasan Israel-Lebanon memburuk setelah dimulainya serangan militer Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023.
IDF dan pasukan Hizbullah saling baku tembak di kawasan sepanjang perbatasan setiap hari.
Kementerian Luar Negeri Lebanon mengatakan sekitar 100.000 orang harus meninggalkan rumah-rumah mereka di wilayah perbatasan, sementara Kemenlu Israel mengatakan sebanyak 80.000 warganya harus melakukan hal yang sama.
Sumber: Sputnik
"Ancaman yang kita hadapi seperti perang psikologi. Pertanyaan semua orang adalah 'apakah itu perang?' Ya, kita dalam keadaan perang. Akibat serangan Israel, ada banyak korban tewas dari pihak sipil dan non sipil dan desa-desa yang hancur," kata Mikati dalam pernyataan pada Sabtu.
Pada 18 Juni, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa pihaknya telah menyetujui rencana operasional serangan di Lebanon. Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz kemudian mengatakan bahwa Israel "sedikit lagi" memutuskan untuk "mengubah aturan" terhadap Hizbullah dan Lebanon, mengancam akan menghancurkan gerakan tersebut "dalam perang habis-habisan" dan "memukul keras" Lebanon.
Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah mengatakan bahwa gerakan tersebut dapat menyerang Israel utara jika konfrontasi semakin meningkat.
Situasi di perbatasan Israel-Lebanon memburuk setelah dimulainya serangan militer Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023.
IDF dan pasukan Hizbullah saling baku tembak di kawasan sepanjang perbatasan setiap hari.
Kementerian Luar Negeri Lebanon mengatakan sekitar 100.000 orang harus meninggalkan rumah-rumah mereka di wilayah perbatasan, sementara Kemenlu Israel mengatakan sebanyak 80.000 warganya harus melakukan hal yang sama.
Sumber: Sputnik
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Hamas desak internasional tekan Israel patuhi aturan gencatan senjata di Jalur Gaza
21 October 2025 11:39 WIB
Liga Europa, Suporter Maccabi Tel Aviv Israel dilarang hadiri laga lawan Aston Villa
17 October 2025 5:39 WIB
Lebih dari 150 warga Palestina tewas dalam sehari meski ada gencatan senjata
11 October 2025 20:10 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Trump tambah kapal induk ke Timur Tengah jika kesepakatan dengan Iran gagal
11 February 2026 10:51 WIB
Partai LDP pimpinan PM Sanae Takaichi menang pemilu Jepang, kebijakan China tidak berubah
10 February 2026 10:29 WIB