Jurnalis-KWRM bahas perlakuan diskriminasi waria
Kamis, 12 Mei 2016 21:34 WIB
Ketua PJI Sulsel Jumadi Mappanganro (dua kiri) berdialog dengan pengurus KWRM, Raja Alam (kanan) ‎di kantor PKBI Sulsel, Makasar, Kamis (12/5). (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)
Makassar (ANTARA Sulsel) - Sejumlah jurnalis dan pengurus Komunitas Waria Makassar (KWRM) mengelar diskusi membahas tentang perlakuan diskriminasi yang dialami transgender Wanita-Pria atau Waria dari berbagai sudut pandang.
"Berdasarkan beberapa pengakuan banyak diantara kami mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan termasuk diskriminasi bahkan di media Waria paling sering disudutkan," tutur Wakil Ketua KWRM Raja Alam di gedung Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulawesi Selatan, Makassar, Kamis.
Menurut dia beberapa media sering memberitakan hal-hal yang mendiskriminasi para kaum waria dengan menulis tidak sesuai fakta dan terkadang mengangkat isu negatifnya saja.
"Banyak jurnalis menulis berita tidak memahami isu Waria, dan terkadang diplintir padahal berita itu berbau positif, Kami sering ikut kegiatan sosial termasuk mendampingi Orang dengan HIV/AIDS atau Odha," beber Angel sapaan akrabnya.
Pihaknya berharap agar kedepan media tidak lagi melihat waria dari satu sisi saja, tapi dari beberapa sisi dan sudut pandang yang lebih prespektif.
"Sifat waria itu datang dari dalam dan sudah menjadi jiwa kami. Waria pun tidak identik dengan rambut panjang dan nongkrong di pinggir jalan. Kami juga punya sesuatu yang positif dan punya hati nurani sosial," ucapnya.
Kendati demikian dirinya bersama KWRM yang diketahui jumlahnya lebih dari seribu orang ini sering kali mendapat perlakukan diskriminasi baik di lingkungan sekitar maupun tempatnya bekerja serta kampusnya, namun dirinya tetap optimis waria kelak mendapat pengakuan.
"Semoga kedepan tidak ada lagi perlakuan negatif dan diskriminasi kepada kami para kaum waria. Kami sangat berharap media dan orang-orang menghargai kami karena kami juga manusia biasa sama seperti kalian," harapnya.
Perwakilan jurnalis Andi Nur Ahmad pada kesempatan itu mengatakan fenomena yang terjadi belakangan ini banyak orang yang mendiskriminasi waria dengan mengatakan `perempuan jadi-jadian`, dan tidak sedikit mereka mendapatkan perlakuan kasar.
"Waria juga manusia sama seperti kita mestinya harus mendapat perlakuan sama. Tapi kalau melihat waria dari prespektif agama tentu salah, tapi agama juga tidak membiarkan seseorang mencela ataupun menyakiti orang lain," ujarnya dalam pertemuan itu.
Dirinya juga menyebut pernah mengikuti Cross Learning atau CSO yang membahas tentang isu waria dengan menjelaskan di beberapa daerah di Indonesia banyak yang menghargai dan mengakui keberadaan waria.
"Bila melihat itu ada juga komunitas Waria di Banjar, Kalimantan diakui dan dihargai orang-orang bahkan mereka ikut berbaur hingga melibatkan stakeholder seperti pemerintah dan kepolisian dalam kegiatan. Mereka juga punya usaha dan masyarakat mengakuinya, berbeda dengan daerah lain, mereka diasosiasikan menjadi PSK," sebutnya.
Koordinator PKBI Sulsel Aziz menambahkan bahwa waria adalah manusia biasa yang patut dihargai sama seperti manusia biasa, hanya saja adanya perbedaan pemahaman dan perubahan hidup dari mereka.
Diskusi tersbut difasilitasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulawesi Selatan dengan membuka dialog antara jurnalis dan Komunitas Waria Makassar (KWRM) di Kantor PKBI, jalan Landak Baru Makassar.
"Berdasarkan beberapa pengakuan banyak diantara kami mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan termasuk diskriminasi bahkan di media Waria paling sering disudutkan," tutur Wakil Ketua KWRM Raja Alam di gedung Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulawesi Selatan, Makassar, Kamis.
Menurut dia beberapa media sering memberitakan hal-hal yang mendiskriminasi para kaum waria dengan menulis tidak sesuai fakta dan terkadang mengangkat isu negatifnya saja.
"Banyak jurnalis menulis berita tidak memahami isu Waria, dan terkadang diplintir padahal berita itu berbau positif, Kami sering ikut kegiatan sosial termasuk mendampingi Orang dengan HIV/AIDS atau Odha," beber Angel sapaan akrabnya.
Pihaknya berharap agar kedepan media tidak lagi melihat waria dari satu sisi saja, tapi dari beberapa sisi dan sudut pandang yang lebih prespektif.
"Sifat waria itu datang dari dalam dan sudah menjadi jiwa kami. Waria pun tidak identik dengan rambut panjang dan nongkrong di pinggir jalan. Kami juga punya sesuatu yang positif dan punya hati nurani sosial," ucapnya.
Kendati demikian dirinya bersama KWRM yang diketahui jumlahnya lebih dari seribu orang ini sering kali mendapat perlakukan diskriminasi baik di lingkungan sekitar maupun tempatnya bekerja serta kampusnya, namun dirinya tetap optimis waria kelak mendapat pengakuan.
"Semoga kedepan tidak ada lagi perlakuan negatif dan diskriminasi kepada kami para kaum waria. Kami sangat berharap media dan orang-orang menghargai kami karena kami juga manusia biasa sama seperti kalian," harapnya.
Perwakilan jurnalis Andi Nur Ahmad pada kesempatan itu mengatakan fenomena yang terjadi belakangan ini banyak orang yang mendiskriminasi waria dengan mengatakan `perempuan jadi-jadian`, dan tidak sedikit mereka mendapatkan perlakuan kasar.
"Waria juga manusia sama seperti kita mestinya harus mendapat perlakuan sama. Tapi kalau melihat waria dari prespektif agama tentu salah, tapi agama juga tidak membiarkan seseorang mencela ataupun menyakiti orang lain," ujarnya dalam pertemuan itu.
Dirinya juga menyebut pernah mengikuti Cross Learning atau CSO yang membahas tentang isu waria dengan menjelaskan di beberapa daerah di Indonesia banyak yang menghargai dan mengakui keberadaan waria.
"Bila melihat itu ada juga komunitas Waria di Banjar, Kalimantan diakui dan dihargai orang-orang bahkan mereka ikut berbaur hingga melibatkan stakeholder seperti pemerintah dan kepolisian dalam kegiatan. Mereka juga punya usaha dan masyarakat mengakuinya, berbeda dengan daerah lain, mereka diasosiasikan menjadi PSK," sebutnya.
Koordinator PKBI Sulsel Aziz menambahkan bahwa waria adalah manusia biasa yang patut dihargai sama seperti manusia biasa, hanya saja adanya perbedaan pemahaman dan perubahan hidup dari mereka.
Diskusi tersbut difasilitasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sulawesi Selatan dengan membuka dialog antara jurnalis dan Komunitas Waria Makassar (KWRM) di Kantor PKBI, jalan Landak Baru Makassar.
Pewarta : Darwin Fatir
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Sulsel serahkan santunan kepada keluarga Farhan korban kecelakaan ATR 42-500
27 January 2026 15:08 WIB
Efisiensi pendidikan, Rektor Unhas minta identifikasi mahasiswa lambat studi
27 January 2026 4:47 WIB
Demo pemekaran Luwu Raya lumpuhkan pasokan BBM, harga pertalite Rp35.000/liter
26 January 2026 18:37 WIB
Pemprov Sulsel percepat perbaikan ruas jalan Kalosi--Cece dan Malauwe--Surakan di Enrekang
25 January 2026 6:07 WIB
Kemenkum dan Kemenham Sulbar sinergi perkuat perlindungan kekayaan intelektual
24 January 2026 18:43 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Pemprov Sulsel serahkan santunan kepada keluarga Farhan korban kecelakaan ATR 42-500
27 January 2026 15:08 WIB
Efisiensi pendidikan, Rektor Unhas minta identifikasi mahasiswa lambat studi
27 January 2026 4:47 WIB
Demo pemekaran Luwu Raya lumpuhkan pasokan BBM, harga pertalite Rp35.000/liter
26 January 2026 18:37 WIB
Pemprov Sulsel percepat perbaikan ruas jalan Kalosi--Cece dan Malauwe--Surakan di Enrekang
25 January 2026 6:07 WIB
Kemenkum dan Kemenham Sulbar sinergi perkuat perlindungan kekayaan intelektual
24 January 2026 18:43 WIB