Selain memang darah Tionghoa mengalir dalam tubuhnya, dia juga sangat fasih berbahasa Mandarin, bahkan salah satu peserta diskusi terkejut mendengarkan Michael berbicara seperti penutur asli.
"Bahasa Mandarin Anda sangat bagus sekali, bahkan tidak menyangka kalau Anda orang Indonesia," kata salah seorang peserta diskusi berkebangsaan China.
Dengan raut yang malu-malu, Ia mengakui bahwa Ia lebih lancar menuturkan Bahasa Mandarin daripada Bahasa Indonesia. "Ya, aku lebih lancar Bahasa Mandarin daripada Bahasa Indonesia karena sudah terbiasa," ujarnya yang sempat gugup karena pertama kalinya mendapatkan pengalaman diwawancara.
Nama lengkapnya adalah Michael Halim yang lahir di Manado, 24 tahun lalu.
Ia saat ini terdaftar sebagai Mahasiswa Kedokteran School of Basic Medical Sciences di Fudan University, Shanghai.
Pria yang akrab disapa Mike itu mulai menempuh pendidikan studi S1 di Fudan University pada 2013 setelah lulus dari SMA Pelita Harapan, Jakarta dan pendidikan dasar SD dan SMP di Bina Bangsa School.
Fudan University dikenal sebagai universtas terbaik ketiga di China setelah Peking University dan Shanghai Jiao Tong University dan menempati urutan ke-40 universitas terbaik dunia.
Karena itu pula lah ia memilih kampus tersebut sebagai gerbang untuk mewujudkan impiannya sebagai seorang dokter.
Dokter adalah profesi yang Michael pilih agar perannya sebagai manusia di hidup ini lebih berguna dengan menolong orang banyak. "Cita-cita aku adalah seorang dokter sejak kecil karena bisa menolong orang banyak," katanya.
Saat ini Ia tengah meniti jalan menuju impiannya itu yang semakin dekat akan terwujud, meskipun banyak tantangan yang harus dilalui, apalagi belajar di negeri orang, bukan negeri sendiri.
Belajar dan riset adalah makanan sehari-harinya, termasuk membantu penelitian dosen dan menerjemah jurnal penelitian. "Stres sih belajar, tapi enggak bisa hanya belajar, harus melakukan kegiatan lain, seperti riset kerja untuk dosen seperti menerjemah dan edit `research paper¿," ujarnya.
Ia juga sempat mendaftar agar mendapatkan dana hibah untuk penelitiannya di tahun keempat ia kuliah.
Sempat Putus Asa
Dalam perjalanannya meraih gelar dokter pun seringkali Michael dihadapkan dengan tantangan yang sempat membuat langkahnya terhenti.
Terlebih, Ia adalah anak sulung yang harus menjadi contoh di keluarganya dan harus berjuang hidup sendiri di Negeri Tirai Bambu itu. "Aku 'kan anak pertama, jadi aku enggak punya orang untuk penghubung aku di Fudan, semua harus berusaha sendiri gitu, kadang rasa susah, buntu," tuturnya.
Untuk mengatasi kejenuhan itu, Michael memilih untuk berbagi cerita dengan guru dan senior agar mendapatkan masukan dari pengalaman mereka dan tidak lelah untuk berjuang.
Dosen-dosen di Fudan Universtity, menurut dia, sangat berpendidikan tinggi dan ramah, selain itu juga universitas yang berdiri sejak 1905 itu juga cukup banyak memiliki fasilitas dan kegiatan di luar kegiatan akademik, misalnya festival, perkumpulan, kompetisi dan lainnya yang membuat kehidupan kampus lebih menarik.
Secara umum, tutur dia, sistem pendidikan di Fudan University tidak jauh berbeda dengan Indonesia, yaitu untuk pendidikan dokter ditempuh selama lima hingga enam tahun dan berlanjut satu hingga dua tahun magang.
Terdapat sekitar 50 mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Fudan University, baik pendidikan sarjana maupun pascasarjana.
Universitas tersebut juga bekerja sama dengan Asian Studies Universitas Indonesia.
Pilihan Michael yang jatuh pada Negara China untuk menimba ilmu karena Ia sendiri telah belajar Bahasa Mandarin selama tiga tahun dan biaya sekolah yang cenderung lebih murah dari negara lain.
"Soalnya ada program yang diajar dalam Bahasa Inggris dan aku sendiri bisa Bahasa China jadi bisa bermanfaat," katanya.
Menikmati Hidup
Selain kegiatan akademik yang harus Michael penuhi sebagai tanggung jawab mahasiswa, Ia juga menggali diri di kegiatan non-akademik.
Olahraga adalah pilihannya, selain bisa membuat tubuh bugar, Ia juga menorehkan prestasi di bidang yang Ia tekuni itu.
"Aku sih suka 'fitness' dan pernah masuk Top 10 di kompetisi fitness Fudan dua tahun yang lalu," ujar pria berpostur tegap dan tinggi itu.
Berolahraga adalah cara ampuh baginya untuk memecah kepenatan mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Selain itu juga berolahraga adalah caranya untuk menikmati hidup sebagai mahasiswa yang tidak hanya terpaku pada kegiatan kelas dan laboratorium.
Sesekali ia juga membuat menonton film di komputer atau membuat camilan kesukaannya, yaitu yoghurt dicampur dengan buah-buahan, seperti stroberi dan mangga. "Coba menikmati hidup di universitas, seperti ikut kompetisi, ikut acara-acara, soalnya hidup ini cuma sekali dan kehidupan sebagai mahasiswa adalah fase hidup yang murni dan bahagia," katanya.
Kakak dari dua bersaudara itu pun juga pernah menjadi perwakilan mahasiswa S1 di kampusnya. "Itu salah satu pengalaman paling menarik di Fudan University, enggak diduga bisa dipilih," katanya.
Aktif di organisasi juga memudahkan jalannya untuk mendapatkan dana hibah untuk penelitiannya. "Kalau enggak aktif di kegiatan luar kuliah, susah dapat beasiswa," ujarnya.
Sebelum kembali dan mengabdikan diri di tanah Ibu Pertiwi, Indonesia, Ia akan bertolak ke Inggris terlebih dahulu untuk mengambil lisensi kedokteran dan berencana akan melanjutkan spesialis dokter anak atau jantung.
Pesan yang ingin Ia sampaikan kepada teman-teman di Indonesia yang berencana untuk melanjutkan studi di luar negeri adalah mulai membangun jejaring selain belajar yang giat. "Cobalah kenal banyak teman dan dosen jangan sendirian, coba menikmati hidup, berusaha olahraga tiga kali seminggu untuk kesehatan dan selalu berpikir positif," tuturnya.

