
Petani Cengkeh Polman Beralih Tanam Rotan

Mamuju (ANTARA Sulsel) - Akibat harga komoditas cangkeh anjlok, sebagian petani di Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) beralih menanam rotan di areal lahan perkebunan cengkeh mereka.
Hal ini dikatakan Kepala Desa Bappandangan, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polman, Makmur di Mamuju, saat menghadiri kegiatan sosialisasi kebijakan penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan di Mamuju, Kamis.
Menurutmya, ribuan hektar tanaman cengkeh yang mulai dikembangkan sejak beberapa tahun silam oleh masyarakat Anreapi, salah satu pemukiman yang ada di daerah pegunungan Kabupaten Polman, kondisinya sudah tak terurus akibat lesuhnya harga cengkeh , sehingga petani setempat beralih menaman tanaman jangka panjang seperti rotan.
"Ribuan hektar tanaman cengkeh di Anreapi tak diurus oleh petani akibat harga anjlok, sehingga lahan tersebut kini dilakukan rehabilitasi dengan menamai rotan yang mulai dikembangkan sejak dua tahun lalu," ungkap Kepala Desa yang pernah mendapat predikat sebagai desa teladan di wilayah itu.
Ia mengatakan, sejak program pengembangan tanaman rotan, para petani sudah melakukan penanaman sekitar 60 ribu bibit pohon rotan di areal kawasan eks perkebunan cengkeh.
"Petani melirik rotan karena pangsa pasarnya cukup menjanjikan, sekaligus sebagai upaya pelesteraian lingkungan hidup di wilayah sungai Bappandangan," tuturnya.
Hal senada dikatakan ketua Kelompok Tani Tunas Muda dari Desa Anreapi, M Hatta, mengaku bahwa sejumlah petani cengkeh di daerahnya telah beralih dengan mengembangkan tanaman perkebunan rotan.
"Petani mulai menghentikan pengembangan tanaman cengkeh akibat harga komoditas itu lesu dari tahun ke tahun sehingga sebagian besar petani beralih menamam rotan," tuturnya.
Dia menuturkan, selain tanaman rotan yang digeluti masyarakat petani sejak dua tahun terakhir juga mengembangkan tanaman jangka pendek untuk menopang biaya hidup petani seperti jagung, padi dan beberapa komoditi tanaman lainnya.
(T.PSO-104/S016)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
