Logo Header Antaranews Makassar

Sarung Sutera Laris di Bazar Muktamar NU

Minggu, 28 Maret 2010 06:37 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - Sarung sutera dan songkok "ToBone" khas Sulawesi Selatan, laris di bazar Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) di Asrama Haji Sudiang, Makassar.

"Hampir dalam sepekan ini, rata-rata per hari sarung sutera laris 40 lembar per hari," kata salah seorang pedagang, Yuniati di arena bazar Muktamar ke-32 NU di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sabtu.

Menurut dia, untuk selembar sarung sutera dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp45 ribu hingga Rp150 ribu. Sedang untuk songkok To Bone dijual Rp25 ribu hingga Rp45 ribu per buah, tergantung jenis bahan dan pernak-pernik yang menghiasi songkok tersebut.

Mengenai jumlah pendapatan yang diperoleh sejak Senin (22/3) hingga hari ini, ia mengatakan, lumayan bisa menutupi biaya sewa lods Rp2 juta selama sepekan, disamping itu masih mampu menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp7 juta.

"Pada penutupan muktamar, kami akan banting harga lagi, dengan harapan dagangan lebih laris dibanding hari-hari sebelumnya," katanya.

Hal senada dikemukakan, pedagang songkok To Bone lainnya Maemunah di area bazar muktamar.

Dia mengatakan, songkok To Bone yang sengaja didatangkan dari pengrajinnya di Kabupaten Bone, Sulsel sepanjang muktamar digelar, kurang lebih 500 buah yang sudah terjual. Pembeli songkok tersebut rata-rata dari Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Hal itu dibenarkan salah seorang pembeli, Nur Rahmat dari Sumatera Selatan.

Dia mengatakan, songkok yang berbahan baku rotan dan dihiasi dengan benang emas sangat unik, karena berbeda dengan kopiah atau peci yang kebanyakan dijual para pedagang di sekitar Asrama Haji Sudiang, Makassar.

"Selain membeli untuk dipakai sendiri, juga beberapa buah dibeli untuk ole-ole saat kembali ke kampung halaman," ujarnya.

Peserta muktamar dan para penggembiranya yang mencapai ribuan orang, selain membeli ole-ole di asrama haji, juga ada yang membeli di lokasi pusat kerajinan di Jalan Somba Opu, Makassar.

Hal itu diakui, salah seorang karyawan Toko Keradjinan di Jalan Somba Opu, Nilawati.

Dia mengatakan, dalam sepekan terakhir jumlah pembeli di toko tempat ia bekerja meningkat tiga kali lipat.

"Kalau biasanya, hanya ada sekitar sepuluh hingga 20 orang pembeli, selama muktamar digelar pembeli mencapai 60 orang sehari," katanya.

Rata-rata setiap pembeli, lanjut dia, Rp500 ribu, bahkan ada diatas Rp1 juta untuk membeli pernak-pernik khas Sulsel seperti gantungan kunci, miniatur rumah adat Bugis dan Toraja, serta aneka motif kain sutera.(T.S036/S016)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026