
Peserta Pilkada Mamuju Kampanyekan Program Nasional

Mamuju (ANTARA News) - Sejumlah peserta cabup dan cawabup yang akan bertarung di pilkada Kabupaten Mamauju, Sulawesi Barat mengkampanyekan program nasional untuk menarik simpatik rakyat yang ada di wilayah itu.
Pemantauan di Mamuju, Sabtu, sejumlah kandidat yang akan bertarung pada pilkada yang dijadwalkan bergulir, 4 Agustus 2010, rata-rata mengkampanyekan program nasional seperti pendidikan gratis maupun layanan kesehatan gratis.
Kandidat pasangan incumbent, Suhardi Duka-Bustamin Bausat (SDK-BISA) mengumbar misi untuk pendidikan gratis dan layanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang ada di daerah itu.
Demikian pula dengan pasangan Umar P-Irwan Ali Malik Pababari (Mari Bersama) juga berjanji akan memperhatikan pendidikan dan kesehatan jika kelak rakyat mendukung pasangan itu dan bahkan dua kandidat lain seperti Muhaimin Faisal-Kalvin Palembangi Kalambo dan pasangan Ahmad Taufan dan M. Min Hayuddin juga mengkampanyekan program nasional kepada konstituen yang ada di daerah itu.
Selain program pendidikan gratis dan layanan kesehatan gratis, para calon pemimpin Mamuju itu juga mengkampanyekan peningkatan ekonomi rakyat untuk kesejahteraan masyarakat yang ada di daerah tersebut.
Ketua dewan pendidikan Mamuju, Hajrul Malik mengatakan program yang ditawarkan oleh sejumlah kandidat cabup-cawabup itu cukup menarik karena rata-rata mengkampanyekan masalah pendidikan.
"Program mendapatkan akses pendidikan gratis itu adalah murni program nasional, tetapi hal itu wajar-wajar saja jika itu dijadikan bahan kampanye untuk menarik dukungan dari rakyat," ungkapnya.
Ia mengatakan, yang lebih penting adalah bagaimana memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan akses pendidikan di daerah ini.
"Kondisi dunia pendidikan di Mamuju masih sangat belum memadai, sehingga kita harapkan, para kandidat jika menang di pilkada memberikan kemudahan akses untuk mendapatkan pendidikan secara global," ujarnya.
Minimnya akses pendidikan di Mamuju, kata dia, menjadi pemicu tingginya angka buta aksara sehingga berdampak terhadap tingkat kebodohan dan keterbelakangan semakin memprihatinkan, khususnya pada daerah-daerah terpencil. (T.KR-ACO/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
