
PSM Harap BUMN Kabulkan Permintaan Menpora

Makassar (ANTARA News) - Manajemen PSM Makassar berharap agar Badan Usaha Milik Negara mengabulkan permintaan Menpora mengenai pemberian bantuan dana kepada tim kebanggaan Sulawesi Selatan tersebut.
Harapan itu diungkapkan Humas PSM Makassar, Nurmal Idrus di Makassar, Minggu, yang mengatakan bahwa permintaan Menpora, Andi Alifian Mallarangeng merupakan hal wajar. Sebab Menpora dan Menteri BUMN telah melakukan perjanjian terkait bantuan kepada cabang olah raga yang ada.
"Kita sangat senang dengan komitmen Menpora untuk membantu memajukan setiap cabor, termasuk PSM. Makanya kita berharap hal itu juga dilakukan pihak BUMN yang ada di Sulsel untuk bisa berpartisipasi," katanya.
Menurut Nurmal, pihaknya tidak akan memaksakan permintaan dana yang tidak disanggupi BUMN. Artinya jika penawaran yang diajukan PSM dianggap terlalu besar, maka manajemen sangat siap untuk duduk dan membahasnya secara bersama-sama.
Bahkan jika ternyata BUMN menolak untuk memberikan bantuan, manajemen tidak akan mempersoalkan. Namun satu hal yang pasti bahwa meski menolak tapi minimal pihak BUMN bisa membicarakannya dengan baik-baik.
"Kita tidak akan memaksa setiap perusahaan untuk mau membantu membiaya kami. Namun alangkah baiknya jika mereka tidak langsung menolak kami sebelum bertemu," ujarnya.
Beberapa waktu lalu, sejumlah perusahaan memang sempat dijadikan target sponsor PSM menghadapi kompetisi musim 2010/2011. Persusahaan itu diantaranya PDAM Makassar, Semen Tonasa, Semen Bosowa dan Bank Sulsel. Namun BUMN tersebut sampai saat ini belum memberikan tanggapan.
"Kita akan mencoba menyodorkan proposal dalam waktu dekat. Mudah-mudahan hasilnya berbeda dengan waktu lalu," jelasnya.
Mengenai biaya yang digunakan mengontrak seluruh pemain sendiri berasal dari APBD Makassar sebesar Rp 10 miliar. Adapun bantuan lain juga berasal dari Pengprov Sulsel. Namun biaya itu tentu masih kurang dibandingkan kebutuhan dana selama satu musim kompetisi.
(T.pso-102/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
