
Jepang dan Sulsel Jajaki Kerjasama Perdagangan

Makassar (ANTARA Sulsel) - Perwakilan Kedutaan Besar RI di Jepang akan menggelar kontak dagang antara pengusaha di Provinsi Sulawesi Selatan dan pengusaha Jepang pada Oktober 2009.
"Temu pengusaha itu akan digelar dalam rangka lokakarya pembukaan pasar ekspor ke Jepang," kata KJRI di Osaka, Jepang, Mozes Tandung Lelating, saat menemui Wakil Gubernur Sulsel, di Makassar, Senin.
Dia mengatakan, pertemuan pengusaha Jepang dengan pengusaha asal Sulsel akan difokuskan pada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), yang selama ini kesulitan untuk mengakses pasar ekspor ke Jepang.
"Kenapa China bisa masuk ke Jepang. Padahal, Indonesia khususnya Sulsel memiliki produk-produk potensial yang bisa masuk ke sana," ujarnya.
Dia mengharapkan, temu bisnis antara pelaku UMKM di Sulsel mampu membuka pasar ekspor komoditi Sulsel ke Jepang. Pertemuan ini juga dilaksanakan untuk menjajaki produk-produk Sulsel yang cocok masuk ke pasar Jepang.
"Produk dalam negeri masih sulit masuk ke Jepang, mereka sangat selektif dan syaratnya terlalu tinggi," ujarnya.
Komoditi pertanian dinilai cukup potensial untuk merambah pasar Jepang seperti sutra, produk biji-bijian kakao, kopi, serta rumput laut. Sedangkan beras disarankan harus dikemas sedemikian rupa sebelum dikirim ke Jepang.
Dia mengaku akan melibatkan konsultan asal Jepang untuk mengkaji persyaratan dan kualitas komoditi ekspor yang akan disesuaikan dengan keinginan masyarakat di Jepang. Hal itu dilakukan agar hasil pertanian Sulsel dapat diterima di negara tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel, Amal Natsir mengungkapkan, dengan dibukanya peluang ekspor komoditi, maka volume ekspor asal Sulsel ke Jepang akan semakin meningkat.
"Ekspor Sulsel ke Jepang tercatat hanya souvenir dan nikel dengan nilai sebesar Rp1,3 miliar, sumbangan terbesar diperoleh dari hasil tambang nikel," ujarnya.
(T.PK-HK/H-KWR)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
