Logo Header Antaranews Makassar

Lipsus - Garam Sedikit Tapi Perlu

Minggu, 4 September 2011 16:16 WIB
Image Print
Suriani Mappong (Ist)
Makassar (ANTARA News) - Semewah apapun masakan yang dibuat, tak dapat dijamin nikmat jika tidak diberi garam.

Hal itulah yang kemudian menginspirasi munculnya pepatah yang menggunakan kata garam yakni "bagaikan sayur tak bergaram".

Menyebut kata garam, maka dibenak orang Sulsel akan terbayang satu daerah produsen garam terbesar yang berada di selatan Kota Makassar yakni Kabupaten Jeneponto.

Daerah yang berlokasi sekitar 70 kilometer dari Kota Makassar, terkenal memiliki lahan pembuatan garam yang cukup luas.

Sementara posisinya di sekitar pantai, sangat mendukung lahan tandus daerah yang berjulukan "butta turatea" ini, sebagai lahan tambak garam.

Selain Kabupaten Jeneponto sebagai daerah produsen garam, Kabupaten Pangkep di sekitar kawasan Desa Bungung Cindea, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep juga sebagai produsen garam.

Kedua daerah itulah yang memenuhi kebutuhan masyarakat Sulsel dan daerah sekitarnya, termasuk masyarakat yang berada di pulau-pulau di kawasan perairan Sulawesi.

"Sebelum ada pabrik pengelolaan garam beriodium, bunga garam yang dipanen dikelola secara tradisional saja sebelum di pasarkan," kata salah seorang pengusaha garam di Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulsel Sangkala Junaedo.

Namun dipenghujung 2000, lanjut dia, garam yang berasal dari lahan tambak sendiri maupun dari petambak garam lainnya, sudah dikelola lebih modern dan mendapatkan campuran iodium sesuai anjuran Dinas Kesehatan setempat.

Mengenai perbandingan harga garam nonidoium dan beriodium, dia mengatakan, hanya sekitar Rp300 per liter, namun masyarakat kini lebih memilih garam beriodium meskipun sedikit lebih mahal.

Adanya dua daerah produsen garam di Sulsel, menyebabkan penenuhan konsumsi garam di daerah ini relatif baik, karena tidak perlu mendatangkan garam dari daerah lain.

Selain itu, juga harganya relatif masih terjangkau bagi masyarakat ekonomi lemah, karena garam yang dipasarkan dikemas dalam berbagai ukuran dengan harga bervariasi mulai dari Rp500 per bungkus hingga Rp5.000 per bungkus.

Hal tersebut diakui salah seorang ibu rumah tangga di Makassar Sitti Rabiati.

Dia mengatakan, meskipun hanya sedikit yang dipakai per hari, namun garam menjadi kebutuhan pokok untuk melengkapi hidangan makanan sehari-hari.

"Garam merupakan kebutuhan dalam jumlah sedikit, tapi sangat diperlukan, karena tanpa garam semua terasa hambar," katanya.


Pentingnya garam


Kebutuhan garam khususnya garam beriodium sangat penting bagi anak pada masa pertumbahan, juga untuk menghindari penyakit gondok di kalangan orang dewasa.

"Kekurangan garam iodium itu dapat memicu keterbelakangan intelijensia atau kecerdasan anak, juga menghambat pertumbuhan anak," kata pakar gizi dari Universitas Hasanuddin, Makassar Prof DR Razak Thaha.

Menurut guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas ini, garam Iodium itu sebenarnya dibutuhkan sejak awal perkembangan seorang anak atau pada masa masih berstatus janin di dalam rahim ibunya.

Ibu hamil yang kekurangan iodium, lanjut dia, dapat menyebabkan bayi tumbuh dengan tubuh kerdil atau kretinisme dan tingkat kecerdasannya rendah. Bahkan kekurangan Iodium juga dapat berakibat pada kematian janin dalam kandungan.

Berkaitan dengan hal tersebut, untuk menghindari terjadinya gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI), pemerintah harus memberikan perhatian dan penanganan khusus terhadap perkembangan status kecukupan asupan iodium di setiap daerah endemik GAKI.

"Selain itu, sosialisasi tentang pentingnya konsumsi garam beriodium juga harus digencarkan oleh pihak terkait, khususnya di daerah kantong-kantong kemiskinan," katanya.

Saat ini diperkirakan 1.6 miliar penduduk dunia mempunyai risiko kekurangan yodium, dan 300 juta menderita gangguan mental akibat kekurangan Iodium.

Kira-kira 30.000 bayi lahir mati setiap tahun, dan lebih dari 120.000 bayi kretin, yakni retardasi mental, tubuh pendek, bisu tuli atau lumpuh.

Sementara itu, terkait dengan upaya pemenuhan swasembada garam di Sulsel, Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sudirmaan Saad sebelumnya mengatakan, lembaganya akan mendukung perluasan daerah sentra produksi garam di Sulsel menjadi tiga kabupaten yakni Jeneponto, Pangkep dan Takalar.

Sementara secara nasional, daerah penghasil garam adalah pantai utara Jawa, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Lahan garam di dalam negeri mencapai 42.154 hektare. Namun hanya sekitar 59 persen atau 25.064 hektare yang produktif.

Adapun kebutuhan garam konsumsi secara nasional mencapai 1,4 juta ton per tahun.

Namun hingga Agustus 2011 produksi garam baru sekitar 12 persen dari produksi nasional atau baru sekitar 165.300 ton.

Akibatnya, impor garam tidak dapat dihindari. Meskipun diketahui pesisir pantai Indonesia sangat luas yang dapat menjadi potensi untuk memproduksi garam.

Hanya saja, untuk memproduksi garam tidaklah mudah, karena membutuhkan beberapa persyaratan antara lain, kadar garam, letak lahan yang tidak landai, kelembaban yang rendah, dan angin kencang.

Sementara di sisi lain, garam produksi rakyat dibeli sangat rendah baik oleh pemerintah maupun swasta, sehingga tidak ada motivasi bagi petani untuk mengembangkan usaha pertambakan garam.

Padahal untuk menggenjot swasembada garam, perlu pula memperhatikan kesejahteraan petani yang mengembangkan produksi garam. (T.S036/A025)




Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026