
Moratorium Sawit Cukup Dua Tahun

Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joelfly Bahroeny menyatakan, moratorium kelapa sawit cukup dua tahun dan harus dijalankan dengan harapan pemerintah tidak memperpanjang masa berlakunya.
Sebab, dengan adanya moratorium tersebut pengembangan kelapa sawit jadi terhambat, di sisi lain, pemberlakuan moratorium dijadikan sebagai waktu untuk konsolidasi bagi perusahaan sawit, kata Ketua GAPKI Joelfly Bahroeny pada "Indonesia Palm oil Conference" (IPOC ke-7), 1-2 Desember 2011 di Nusa Dua, Bali, Kamis.
Peserta konferensi terdiri dari pengusaha sawit non perkebunan, perusahaan sawit swasta dan negeri, para manager sawit dan olahannya, baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk ratusan siswa SMA dari daerah produsen sawit.
"Kali ini kami mengundang secara selektif siswa SMA yang pintar dari 10 provinsi untuk mengikuti konferensi sawit agar mengetahui secara jelas tentang sawit," ujar Joelfly.
Sebab, banyak siswa dan masyarakat di perkotaan tidak mengetahui tentang kelapa sawit, tetapi tiap hari mengkonsumsinya, sehingga cara ini menjadi salah satu edukasi mengenai kelapa sawit.
Diharapkan pulang ke kotanya, para siswa tersebut, melakukan sosialisasi tentang apa yang diketahui tentang kelapa sawit, permasalahan dan manfaatnya, ujarnya.
Panitia IPOC ke-7, Daud menyatakan, moratorium cukup dua tahun dan berakhir Mei 2013, sehingga target produksi 2020 sebanyak 40 juta ton dapat terealisasi melalui ekspansi lahan secara minimal.
Menyinggung tentang pelestarian lingkungan secara berkelanjutan, menurut Daud, itu sudah menjadi isu internasional yang berkaitan dengan lingkungan yakni bagaimana kelapa sawit hidup panjang, namun sesedikit mungkin dampak lingkungan bagi sekitarnya dan itu sudah dilaksanakan.
Ketika disinggung tentang pembantaian orang utan, Sekjen GAPKI Joko Supriono mengatakan, hasil penelitian pelaku pembunuhan orang utan bukan anggota GAPKI.
Menurut dia isu pembantaian orang utan bukan hal yang baru, kasus tersebut harus dilihat dalam konteks yang besar.
Selama ini, ada kampanye menentang sawit, dan itu dilakukan sejak dulu serta menjadi sorotan dunia, terutama negara Eropa, katanya.
Tema IPOC and Price Outlook ke-7 "sustainable palm oil, driver of change". Tema tersebut menurut Ketua Panitia Mona Surya, diusung karena salah satu tantangan yang dihadapi industri kelapa sawit sekarang dan ke depan adalah terkait dengan pengelolaan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.
Tuntutan dan perhatian masyarakat dunia saat ini adalah bagaimana pengelolaan industri, khususnya kelapa sawit dilakukan dengan memenuhi prinsip people, planet dan profit (3P).
Apalagi, lanjutnya, kini tuntutan pengelolaan industri kelapa sawit secara berkelanjutan sudah menjadi tuntutan dari para pengguna dan stakeholder industri sehingga sustainability merupakan faktor utama yang akan menentukan arah dan transformasi industri kelapa sawit di masa mendatang.
GAPKI selaku asosiasi produsen kelapa sawit Indonesia memiliki komitmen untuk melaksanakan prinsip sustainability dalam pengelolaan industri kelapa sawit di Indonesia. (T.F003/Y008)
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
