
Sulsel Siapkan Anggaran Penyelamatan Naskah Lontara Kuno

Makassar (ANTARA Sulsel) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalokasikan dana Rp500 juta dari APBD untuk biayai penyelematan dan pemeliharaan naskah-naskah peninggalan lontara kuno.
Sekertaris Provinsi Sulsel Andi Muallim, di Makassar, Minggu, mengungkapkan pihaknya akan membentuk lembaga tripartit yang terdiri atas Badan Dinas Arsip Nasional, Dinas Kebudayaan dan Periwisata Sulsel, dan pengurus Yayasan Kebudayaan Indonesia untuk melakukan rehabilitasi tempat dan pemeliharaan naskah-naskah kuno yang tersimpan di Sulsel saat ini.
"Pemeliharaan dan pelestarian aset budaya itu dilakukan secara tripartit," ujarnya.
Banyak naskah lontara yang kondisinya cukup memprihatinkan, bahkan beberapa diantaranya sudah tidak dapat lagi dipajang atau diperlihatkan kepada masyarakat umum.
"Ada beberapa naskah kuno yang tidak dapat disentuh lagi, karena sudah rapuh," paparnya.
Muallim mengakui, manajemen pengelolaan, penyimpanan dan pelestarian naskah peninggalan leluhur itu yang masih belum memadai.
"Hal ini perlu dijaga untuk tetap mempertahankan peradaban Sulsel yang sudah mulai dilupakan oleh generasi sekarang," ujarnya.
Dia mengharapkan, alokasi dana yang telah disiapkan pemprov Sulsel akan digunakan sebaik-baiknya guna melakukan rehabilitasi gedung, pemeliharaan, dan pengelolaan naskah- naskah kuno tersebut.
"Jangan sampai untuk mengetahui perkembangan kebudayaan daerah, kita harus keluar negeri untuk belajar. Sebab,yang tertarik mempelajarinya hanya orang-orang barat saja," tandasnya.
Tempat penyimpanan naskah-naskah kuno yang terdapat di museum Yayasan Kebudayaan Indonesia adalah salah satu tempat penyimpanan tertua kebudayaan peradaban Sulsel di masa lampau.
"Tempat itu bisa dikatakan sebagai mata air peradaban kebudayaan Sulsel, karena para ilmuwan dan budayawan Internasional dinilai tidak sah melakukan penelitian tanpa berkunjung ke yayasan kebudayaan masyarakat sulsel itu," kata Kepala Bagian Statistik Naskah Kuno Badan Arsip Nasional Propinsi Sulsel, Ahmad Saransi di Makassar.
Yayasan kebudayaan Sulsel yang didirikan warga berkebangsaan Belanda Mattess itu, memiliki koleksi arsipnya sebagian tercatat pada masa penjajahan Belanda yakni sekitar tahun 1930-an.
Berdasarkan data Yayasan Kebudayaan Indonesia menyebutkan bahwa di tempat mereka terdapat 2000-an naskah tua yang disadur dalam bentuk berbahasa belanda dan sekitar 100 lebih naskah lontara kuno.
Sementara di perpustakaan arsip nasional Sulsel terdapat sekitar 4.300 naskah kuno yang masih disimpan dalam bentuk roll mikro film, sebab naskah aslinya masih tersimpan di Belanda.
(T.PK-HK/S016)
