Logo Header Antaranews Makassar

BBPJN Diharap Antisipasi Longsor Trans-Sulawesi Majene

Rabu, 29 Agustus 2012 10:23 WIB
Image Print

Majene, Sulbar (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, berharap Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VI wilayah Makassar, Sulawesi Selatan, segera mengantisipasi longsor pada jalur Trans-Sulawesi Majene.

"Longsor pada jalur Trans di Dusun Onang Utara Desa Onang Kecamatan Tubo, Kabupaten Majene, sudah terjadi berulang kali dan mengakibatkan arus lalu litas sering macet. Bahkan, longsor sudah menelan korban jiwa dan kerugian meterial cukup besar dengan tertimbunnya sejumlah kendaraan," ungkap Kepala BPBD Majene, Mansyur T di Majene, Rabu.

Dia melanjutkan, penanggung jawab longsor di Onang adalah BBPJN VI sebab jalur tersebut merupakan Trans Sulawesi. Selain itu, longsor terjadi setelah dilakukan pengerukan tebing untuk pelebaran jalan.

"Kami hanya bisa mengimbau kepada seluruh pengguna jalan untuk berhati-hati saat melintas. Kami tidak memiliki wewenang untuk melakukan tindakan sebab jalur tersebut bukan merupakan wewenang kami dan kami takut menyalahi aturan jika ikut mengambil langkah tertentu," ucapnya.

Mansyur juga mengaku, pihaknya hanya bisa menyampaikan imbauan kepada penanggung jawab di tingkat provinsi baik di Sulbar melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan di Sulsel melalui BBPJN VI agar segera mangambil tindakan untuk mengantisipasi potensi longsor.

Selama ini, beberapa pihak di Majene, termasuk Polres Majene dan BPBD Majene telah menegur pihak kontraktor yang mengerjakan jalan tersebut, namun kontraktor beralasan pihaknya telah mengerjakan jalan sesuai petunjuk teknis yang tertuang dalam kontrak pengerjaan sehingga dianggap tidak menyalahi aturan.

Sementara, longsor yang terjadi berulang kali meskipun telah ditangani, akibat tingkat kemiringan tebing di sekitar jalan masih sangat rawan. Selain itu, struktur tanah di kawasan itu dianggap sangat labil sehingga wajar jika terjadi longsor berulang kali.

"Longsor di Onang baru bisa ditanggulangi jika dilakukan pengerukan dan mengurangi tingkat kemiringan tebing sehingga tidak mudah terjadi pergeseran saat terjadi hujan maupun dipengaruhi getaran kendaraan yang melintas," gagas Mansyur.

Hingga saat ini, arus kendaraan di Onang masih terhambat sebab masih terdapat reruntuhan material dari tebing. Pada lokasi itu juga masih sangat rawan menimbulkan longsor susulan sebab tingkat kemiringan tebing curam, apalagi saat memasuki musim penghujan. (T.KR-AHN/D009)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026