
Peringatan Hari Kusta Sedunia Diperingati di "Flyover"

"Aksi ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Kusta se-Dunia...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Peringatan Hari Kusta se-Dunia diperingati oleh penderita dan eks penderita kusta di kawasan "flyover" Makassar dengan membagi-bagikan brosur pada pengendara roda dua dan empat.
"Aksi ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Kusta se-Dunia yang digelar di Makassar oleh para penderita dan ekspenderita kusta di Kompleks Jongayya," kata Koordinator Peringatan Hari Kusta Se-Dunia Nurdin Dini di Makassar, Minggu.
Dia mengatakan, sebelum ke kawasan "flyover" untuk melakukan sosialisasi sekaligus kampanye untuk menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit keturunan dan penyakit kutukan, komunitas penderita dan ekspenderita kusta melakukan aksi bersih-bersih di kawasan Kompleks Jongayya dan Jalan Dangko.
Kegiatan tersebut, lanjut dia, untuk mendukung program Pemkot Makassar yakni `Makassar ta Tidak Rantasa` (MTR). Berkaitan dengan hal itu, juga digelar lomba kebersihan antarRT dan kelurahan.
"Bersama para pendamping dan warga Kompleks Jonggayya, kemudian kami berkumpul di "flyover" untuk sosialisasi dan kampanye untuk berhenti mendiskriminasi penderita maupun manta penderita kusta," katanya.
Sementara itu, Manager Program Adokasi dari Yayasan Transformasi Lepra Indonesia Doddy A Tumanduk mengatakan, masih adanya stigma bahwa penyakit kusta adalah penyakit keturunan dan menular, bahkan ada yang beranggapan sebagai penyakit kutukan, menjadikan penderita terpinggirkan di kalangan masyarakat.
Bahkan kemudian, lanjutnya, para penderita kurang mendapatkan sentuhan kebijakan dari pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan untuk membantu menyosialisasikan bahwa penyakit kusta bisa sembuh.
Padahal harus disadari bahwa penyakit kusta yang merupakan penyakit terbanyak ketiga di Indoensia, harus menjadi perhatian bersama, khususnya pemerintah selaku penentu kebijakan.
Dalam peringatan Hari Kusta se-Dunia yang digelar di kawasan "Flyover", Warga Kompleks Jongayya melakukan sosialisasi bersama para pendampingnya dengan membagi-bagikan brosur pada pengendara roda dua dan empat.
Pada aksi tersebut, masyarakat diminta untuk berhenti memberikan stigma pada penderita maupun mantan penderita kusta, karena mereka juga berhak hidup layak dan mendapatkan akses kesehatan, pendidikan dan kesempatan kerja selaku warga negara.
Warga Kompleks Jongaya sudah hdup berkomunitas sejak tahun 1970-an di lokasi itu dan jumlahnya sekitar 300 Kepala Keluarga. Sementara kehidupan para penderita dan ekspenderita kusta itu masih membutuhkan uluran tangan untuk dapat mandiri.
Salah satu upaya itu telah dilakukan oleh para mahasiswa dari gabungan sejumlah perguruan tinggi di Makassar dan menamakan diri "Angkatan Indonesia Muda" (AIM). Hanya saja, akses pemasaran dari hasil produksinya berupa keset kaki dan lampu tidur masih terbatas.
"Karena itu, peran pemerintah dan seluruh stakeholder sangat diharapkan untuk meningkatkan taraf hidu mereka yang rata-rata masih dibawah hidup sejahtera," kata salah seorang Pengurus AIM Muh Yusuf. Agus Setiawan
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
