Logo Header Antaranews Makassar

Minyak Tanah Langka di Makassar dan Sekitarnya

Minggu, 30 Agustus 2009 15:27 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Minyak tanah non subsidi mulai langka di Kota Makassar dan daerah sekitarnya, khususnya di Kabupaten Maros dan Pangkep yang merupakan daerah tetangga Kota Makassar.

"Sudah hampir sepekan kami mencari minyak tanah di pengecer, namun belum mendapat jatah dari distributor," kata salah seorang ibu rumah tangga Rabiati di Batubassi, Kecamatan Bantimurung, Maros, Minggu.

Dia mengatakan, langkanya minyak tanah tersebut di tingkat pengecer, menyebabkan ia dan tetangganya terpaksa ke Pasar Sentral Maros ibukota kabupaten.

"Harganya sangat mahal yakni mencapai Rp8 ribu per liter dan itupun dibatasi hanya boleh membeli lima liter per rumah tangga," katanya.

Sementara warga Kelurahan Allepolea, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros Rahmatiah mengaku, sudah seminggu hanya menggunakan sisa minyak tanah yang dimiliki untuk digunakan menyalakan kayu bakar.

"Kayu bakar dari pembongkaran bangunan rumah, kami manfaatkan untuk memasak dengan hanya menggunakan sedikit minyak tanah," ujarnya.

Hal itu dilakukan untuk mengirit minyak tanah yang dimiliki, karena untuk mendapatkan minyak tanah stok baru sangat sulit.

Kondisi serupa juga diungkapkan Kamariah, ibu rumah tangga di Desa Minasa Te'ne, Kabupaten Pangkep. Menurutnya, rumahnya yang berada di sekitar kaki gunung, tidaklah sulit untuk mendapatkan ranting-ranting pohon sebagai kayu bakar. Sehingga hanya menggunakan seikit minyak tanah untuk menyalakannya.

Menanggapi adanya pembagian kompor dan tabung gas ukuran tiga kilogram per rumah tangga miskin, ia mengatakan, pihaknya belum mendapatkan program konversi minyak tanah ke gas itu.

Sementara Rahmatiah mengaku, di wilayahnya sudah mendapatkan pembagian kompor dan tabung gas bagi warga kurang mampu, namun tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.

"Selain itu, saya juga takut jangan sampai kompor gas itu meledak, apalagi tabungnya kelihatan sangat tipis dibandingkan tabung ukuran 12 kg yang dijual di pengecer," katanya.

Karena itu, lanjutnya, hingga saat ini ia masih bertahan menggunakan kompor minyak tanah, dan dalam situasi kelangkaan bahan bakar tersebut, terpaksa mengepulkan asap dapur dibantu dengan kayu bakar.

(T.SDP-15/S016)