Logo Header Antaranews Makassar

Jurnalis pendidikan Sulsel gelar dialog akhir tahun

Sabtu, 17 Desember 2016 23:31 WIB
Image Print
"Masih banyak guru yang mengajar di sekolah hanya tamatan SPG, yang berkualifikasi S1 ...

Makassar (ANTARA Sulsel) - Sejumlah wartawan yang terhimpun dalam Jurnalis Pendidikan Sulawesi Selatan menggelar dialog akhir mengangkat tema tantangan pendidikan yang dihadapi dalam mempersiapkan kualitas Sumber Daya Manusia pada guru, di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu.

Profesor Arismunandar yang menjadi pemateri menuturkan bahwa rendahnya kualitas guru di Sulsel berdasarkan nilai Uji Kompentensi Guru (UKG) 2015, rata-rata guru nilai berisar 52,55 dari angka maksimal 100.

"Masih banyak guru yang mengajar di sekolah hanya tamatan SPG, yang berkualifikasi S1 juga kadang mengajar pada bidang yang lain yang tidak sesuai dengan kompetensinya, sehingga mempengaruhi kualitas siswa," ujarnya.

Mantan Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) ini menyebutkan, parahnya lagi guru yang mengajar pada tingkatan di TK. Padahal, kecerdasan terpupuk pada usia 0 - 6 tahun. Banyak guru TK sebelumnya tidak menjalani pendidikan guru khusus TK, sehingga tidak memperhatikan perkembangan psikologi anak ketika mengajar.

Untuk mengatasi rendahnya kualitas guru, lanjut Aris, pihaknya mengusulkan diadakannya reformasi pendidikan terutama di Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) dengan mengelar pendidikan guru berasrama. Ini diharapkan dengan pendidikan model tersebut, guru akan mendalami spesialitas kompentensinya.

"Karena berdasarkan hasil riset, 30 persen kualitas pendidikan anak dipengaruhi guru. Maknya sebaiknya guru ikut LPTK untuk peningkatan kompetensinya," ujar dia.

Sementara Prof Heri Tahir selaku Pakar Hukum dan Guru Besar Universitas Makassar, pada kesempatan itu menambahkan, maraknya kejahatan-kejahatan seperti geng motor di Sulsel tidak lepas dari mutu pendidikannya.

"Pendidikan ke depan harus menciptakan siswa yang berkarakter dan bisa memecahkan masalah kehidupannya. Guru bukan cuma mengajar tapi benar benar ikut mendidik," bebernya.

Sedangkan Wakil Ketua Komisi E DPRD Sulsel membidangi pendidikan DRPD Syahruddin Alrif dalam dialog akhir tahun ini mengemukakan lebih menyoroti tentang masalah guru honorer.

"Saya bertanya kepada 300 ketua OSIS SMA se Sulsel dan ketika saya tanya, mana yang lebih banyak mengajar, Guru PNS atau honorernya, Mereka menjawab lebih rajin guru honorernya. Ini jelas menjadi masalah tersendiri di Sulsel," ungkapnya.

Syahruddin menambahkan dalam waktu dekat Sulsel akan meluncurkan E-Panrita untuk mengawasi tingkat kerajinan para guru mengajar di sekolah sehingga guru PNS akan lebih mengajar dan aktif di sekolah.

Nara sumber lain, Mustajib selaku Communication Specialist USAID Prioritas juga dalam dialog itu menuturkan, salah satu masalah terbesar Sulawesi Selatan adalah tingkat literasi yang masih rendah.

"Kalau kita lihat di bus, mal, hingga di taman-taman, belum banyak orang-orang yang duduk membaca buku. Tidak sama dengan negara-negara maju. Padahal tingkat literasi sangat menentukan kemajuan bangsa," tuturnya

Pihaknya berharap jurnalis tetap melakukan advokasi masalah-masalah mutu pendidikan, termasuk masalah literasi yang perlu ditingkatkan dalam mendorong masyrakat rajin membaca.

"Kalau literasi sudah meningkat dengan baik, masyarakat suka membaca, maka mereka akan lebih kritis dan lebih mandiri dalam membangun diri mereka sendiri. Petani akan banyak membaca buku guna meningkatkan produktifitasnya, bahkan tukang, buruh dan lainnya bisa maju kalau rajin membaca" tambahnya.

Ketua Jurnalis Pendidikan Sulsel, Fitriyani Rachman yang bekerja di RRI ini menyatakan untuk peningkatan mutu pendidikan di Sulsel, jurnalis mesti memberikan ruang dalam mengawal proses-proses pendidikan yang terjadi di Sulsel serta mendorong gerakan literasi.

"Pengawalan ini akan membuat para pendidik dan stakeholder pendidikan selalu merasa ada yang mengawasi. Oleh karena itu, mari terus menerus dengan rajin menyoroti masalah-masalah pendidikan," tambah Ketua Aliansi Wartawan Radio Indonesia (Alwari) Sulsel.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026