Gamelan-Music Nightclub kolaborasi unik di London
Rabu, 14 November 2018 10:35 WIB
Ilustrasi - Gamelan. (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)
London (Antaranews Sulsel) - Gamelan Composers Forum, assosiasi komponis internasional bermarkas di London, menggelar kolaborasi Gamelan dan music Nightclub dalam acara tahunan yang diadakan di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, salah satu universitas terkemuka di Inggris, pada akhir pekan lalu.
Komponis, pemain dan pengajar gamelan tinggal di London Aris Daryono, kepada Antara London, Selasa mengatakan pentas tahunan ke enam menghadirkan kolaborasi unik antara gamelan Jawa, Bali, biola dan music tekno atau electronic dance music.
Seperti tahun sebelumnya, acara kali ini diikuti komponis dari berbagai negara di antaranya Jacob Elkin (Amerika), Violeta Tello Grau (Spanyol), Chatori Shimizu (Jepang/Jerman) dan Nick Gray (UK) yang berkolaborasi dengan artis tekno kawakan Haris Custovic (Kroasia).
Para komponis beserta kolaboratornya menghasilkan musik baru yang unik, menghentak dan menghipnotis mampu membawa penonton ke dalam nuansa nightclub dengan elemen gamelan yang sangat kental.
Sejak pintu dibuka, sekitar seratusan penonton dari berbagai latar belakang dan elemen menjejali ruangan. Mereka yang terdiri atas mahasiswa dan dosen music dari berbagai institusi dan perguruan tinggi, komponis, pemain music klasik maupun gamelan, pecinta gamelan maupun khalayak umum terlihat asyik meresapi sajian music dengan menghentakkan kaki maupun menggoyang kepala.
Tidak kalah serunya di setiap akhir komposisi penonton sangat antusias untuk terlibat berdiskusi dengan komponis maupun pemain. Iwan Gunawan, komponis gamelan yang hadir meramaikan diskusi dengan melontarkan pertanyaan tentang proses kolaborasi dan mengeksplorasi elemen gamelan.
John Pawson, pemain dan guru gamelan di Inggris yang sejak awal sangat anthusias untuk mengetahui hasil kolaborasi menyatakan kekagumannya tentang bagaimana komponis mampu menggabungkan ritme music tekno yang komplek beserta perpaduan laras gamelan dan diatonic.
Pandangan positif dilontarkan Alice Barron, pemain biola klasik dari London Sinfonietta yang mengungkapkan bagaimana kolaborasi seperti ini membuka wawasan yang sangat luas dan memberikan pengalaman yang sangat menarik baginya karena keunikan laras gamelan dan ritme music tekno sangat kontras dengan music klasik.
Aris Daryono, menggagas terbentuknya asosiasi komponis memberikan wadah bagi komponis dunia, pemain dan artis dari berbagai disiplin untuk mengeksplorasi gamelan sebagai sumber inspirasi kreatifitas.
Menurut Aris wadah seperti ini penting bukan hanya untuk pelakunya tapi juga perkembangan gamelan di masa mendatang. Sama halnya alat music barat yang mampu menjadi alat musik dunia yang dipakai untuk memainkan music klasik barat dan musik kontemporer, Aris berharap gamelan juga dapat diterima sebagai alat musik dunia di masa mendatang.
Dengan dukungan SOAS dan KBRI London dalam kiprahnya semenjak tahun 2013, Gamelan Composers¿ Forum menghadirkan berbagai bentuk seperti kolaborasi gamelan dengan jazz, wayang modern, quartet barat, sound artist dan juga music tekno. Komponis dari belahan dunia telah turut hadir meramaikan acara tahunan ini seperti Jody Diamond (komponis dan tokoh gamelan dari Amerika) maupun Philip Corner (komponis dunia salah satu pendiri music fluxus).
Komponis, pemain dan pengajar gamelan tinggal di London Aris Daryono, kepada Antara London, Selasa mengatakan pentas tahunan ke enam menghadirkan kolaborasi unik antara gamelan Jawa, Bali, biola dan music tekno atau electronic dance music.
Seperti tahun sebelumnya, acara kali ini diikuti komponis dari berbagai negara di antaranya Jacob Elkin (Amerika), Violeta Tello Grau (Spanyol), Chatori Shimizu (Jepang/Jerman) dan Nick Gray (UK) yang berkolaborasi dengan artis tekno kawakan Haris Custovic (Kroasia).
Para komponis beserta kolaboratornya menghasilkan musik baru yang unik, menghentak dan menghipnotis mampu membawa penonton ke dalam nuansa nightclub dengan elemen gamelan yang sangat kental.
Sejak pintu dibuka, sekitar seratusan penonton dari berbagai latar belakang dan elemen menjejali ruangan. Mereka yang terdiri atas mahasiswa dan dosen music dari berbagai institusi dan perguruan tinggi, komponis, pemain music klasik maupun gamelan, pecinta gamelan maupun khalayak umum terlihat asyik meresapi sajian music dengan menghentakkan kaki maupun menggoyang kepala.
Tidak kalah serunya di setiap akhir komposisi penonton sangat antusias untuk terlibat berdiskusi dengan komponis maupun pemain. Iwan Gunawan, komponis gamelan yang hadir meramaikan diskusi dengan melontarkan pertanyaan tentang proses kolaborasi dan mengeksplorasi elemen gamelan.
John Pawson, pemain dan guru gamelan di Inggris yang sejak awal sangat anthusias untuk mengetahui hasil kolaborasi menyatakan kekagumannya tentang bagaimana komponis mampu menggabungkan ritme music tekno yang komplek beserta perpaduan laras gamelan dan diatonic.
Pandangan positif dilontarkan Alice Barron, pemain biola klasik dari London Sinfonietta yang mengungkapkan bagaimana kolaborasi seperti ini membuka wawasan yang sangat luas dan memberikan pengalaman yang sangat menarik baginya karena keunikan laras gamelan dan ritme music tekno sangat kontras dengan music klasik.
Aris Daryono, menggagas terbentuknya asosiasi komponis memberikan wadah bagi komponis dunia, pemain dan artis dari berbagai disiplin untuk mengeksplorasi gamelan sebagai sumber inspirasi kreatifitas.
Menurut Aris wadah seperti ini penting bukan hanya untuk pelakunya tapi juga perkembangan gamelan di masa mendatang. Sama halnya alat music barat yang mampu menjadi alat musik dunia yang dipakai untuk memainkan music klasik barat dan musik kontemporer, Aris berharap gamelan juga dapat diterima sebagai alat musik dunia di masa mendatang.
Dengan dukungan SOAS dan KBRI London dalam kiprahnya semenjak tahun 2013, Gamelan Composers¿ Forum menghadirkan berbagai bentuk seperti kolaborasi gamelan dengan jazz, wayang modern, quartet barat, sound artist dan juga music tekno. Komponis dari belahan dunia telah turut hadir meramaikan acara tahunan ini seperti Jody Diamond (komponis dan tokoh gamelan dari Amerika) maupun Philip Corner (komponis dunia salah satu pendiri music fluxus).
Pewarta : Zeynita Gibbons
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Jusuf Kalla bertolak ke London hadiri "retret" pemikiran untuk minoritas Muslim
12 January 2025 17:12 WIB, 2025
Liga Inggris - Chelsea telan kekalahan ketika lakoni Derby London Barat kontra Fulham
27 December 2024 1:01 WIB, 2024
Presiden Prabowo tiba di Inggris membangkitkan semangat diaspora pelajar cari ilmu
21 November 2024 6:55 WIB, 2024
Liga Inggris - Arsenal masih puncaki klasemen setelah atasi perlawanan Tottenham
29 April 2024 0:51 WIB, 2024
Pengunjuk rasa protes stadion di London karena gelar pameran senjata yang dijual ke Israel
23 January 2024 14:26 WIB, 2024
Mendag Zulkifli Hasan sebut penandatangan ICA 2022 sejahterakan petani kopi
09 March 2023 6:53 WIB, 2023